logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Mei 2007 NASIONAL
Line

Harga ZA-SP36 Melambung

KENDAL- Kendati pupuk anorganik di Kendal relatif masih tersedia, harga beberapa jenis pupuk melambung, khususnya pupuk ZA dan SP36. Memasuki musim tanam padi kedua, harga pupuk bersubsidi pada tingkat pengecer untuk jenis ZA yang semula Rp 1.050/kg menjadi Rp 1.200/kg. Adapun SP36 naik menjadi Rp 1.800/kg (semula Rp 1.550/kg).

"Naiknya harga jual dua jenis pupuk tersebut, disebabkan tidak adanya keseimbangan antara alokasi dan kebutuhan riil terhadap pupuk anorganik di lapangan," ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dipertan) Ir H Asri Dwi Hartadi, kemarin.

Berdasarkan data Dipertan, kebutuhan pupuk anorganik riil di Kendal pada 2007 yakni Urea (28.193 ton), ZA (10.352 ton), SP36 (10.554 ton), serta NPK/Ponska (2.443 ton).

Di sisi lain, pada tahun yang sama alokasi pupuk disalurkan ke daerah tersebut adalah, Urea 18.000 ton atau kekurangan 10.193 ton), SP36 3.300 ton atau kurang 7.254 ton, ZA 2.801 ton atau kurang 7.551 ton, dan NPK 3.125 ton atau kelebihan 682 ton.

"Pupuk NPK/Phonska kurang laku di pasaran, karena tidak diminati para petani. Untuk pupuk jenis tersebut, harga jualnya justru turun. Harga pupuk bersubdisi jenis itu Rp 1.750/kg atau Rp 87.500/zak (isi 50 kg), turun menjadi Rp 32.500/zak," paparnya.

Pria yang akrab disapa Didik itu menambahkan, pasokan kebutuhan pupuk Urea bersubsidi di daerahnya, sejak akhir 2006 lalu digantikan oleh pupuk Bontang, Kaltim. Pada Urea dan pupuk Kaltim mempunyai kandungan natrium (N) atau unsur hara yang sama. "Perbedaan kedua pupuk itu sifatnya hanya fisik, yaitu butiran Urea lebih lembut, sedangkan pupuk Kaltim lebih besar dan kasar."

Sugesti

Ketersediaan pupuk Kaltim di Kendal, lanjut dia, sangat mencukupi. Harga jual di pasaran juga sesuai dengan patokan harga eceran tertinggi (HET). "Namun, kehadiran pupuk Kaltim, bagi para petani di Kendal dinilai belum mampu menggantikan Urea. Petani masih memiliki sugesti bahwa pupuk Urea lebih optimal untuk pertumbuhan tanaman padi."

Slamet Wibowo (54) petani padi warga gang Delima Kelurahan Kebondalem RT 6 RW 1, Kecamatan Kendal menuturkan, meski dikatakan memiliki kandungan serta fungsi sama, namun pada realisasi di lapangan, "kemampuan" Urea dengan pupuk Kaltim terjadi perbedaan.

"Ketika memakai pupuk Kaltim, pertumbuhan tanaman padi usia muda baru bisa dilihat setelah 15 hari berikutnya. Kondisi tersebut berbeda, manakala menggunakan pupuk Urea. Usai menebar pupuk, dalam waktu sekitar satu minggu berikutnya pertumbuhan tanaman padi dapat terlihat," kata Slamet.

Petani pemilik sawah seluas lebih kurang 6.000 m2 itu menambahkan butiran kristal yang besar pada pupuk Kaltim juga dinilai lambat memudar ketika ditebar di lahan sawah.

"Kami juga menilai pupuk Kaltim sulit untuk dicampur dengan obat-obatan tanaman. Menurut petani, kondisi itu bertolak belakang dengan Urea yang memiliki butiran lembut dan mudah berpendar."

Slamet menjelaskan, penilaian serupa juga terjadi dalam penggunaan NPK/Phonska yang diimbaukan sebagai pengganti SP36. "Rasanya kami lebih mantap menggunakan SP36 daripada NPK. Untuk penggunaan pupuk dasar, kami juga lebih memilih Urea daripada pupuk Kaltim. "

Di Grobogan

Sejumlah petani di Kabupaten Grobogan mengaku tidak kesulitan mendapatkan pupuk untuk sawah mereka. Para petani umumnya mengakui kebutuhan pupuk untuk beberapa minggu terakhir mulai berkurang.

Menyusul telah selesainya masa musim tanam (MT) II sejak dua-tiga minggu terakhir. ''Saat ini tinggal menunggu musim panen. Dua minggu terakhir penggunaan pupuk di sawah mulai jarang dilakukan,''kata Bandi warga Dusun Dawung Desa Sugihan Kecamatan Toroh Jumat (11/4) siang.

Ditambahkan, untuk tanah seluas sekitar setengah hektare dia biasa menghabiskan pupuk seberat tiga kwintal.

Dengan harga pupuk Urea Rp 60.000 per 50 kg diperkirakan dia mengeluarkan uang Rp 1 juta untuk membiayai sawahnya. Hanya saja uang sebanyak itu tidak sekadar dibelikan pupuk jenis Urea. ''Pupuknya campuran. Kita memakai pupuk jenis TSP, ZA, Phonska, dan juga Urea,''katanya.

Menurut dia, penggunaan berbagai macam pupuk dimungkinkan agar tanaman semakin berkualitas.

Meski beberapa jenis pupuk mudah didapat, namun untuk jenis TSP diakuinya sempat sulit didapat.

''Saya juga pernah mengalaminya tetapi tidak lama. Dua hari kemudian sudah ada di toko. Dari penjelasan pedagang disebabkan karena keterlambatan pasokan,''ujar HM Kusno petani warga Dusun Krajan, Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi.

Menurut dia, saat ini sebagian petani telah mengurangi aktivitas pemupukan setelah tinggal menunggu musim panen yang jatuh pada bulan Juni nanti.

Dia menyatakan, saat ini memang belum membutuhkan pupuk sampai selesainya panen raya mendatang. (G15,hs-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA