| Senin, 07 Mei 2007 | RAGAM |
Ketika Koruptor Pura-pura Sakit
SAKIT! Begitulah alasan klasik para koruptor untuk mengelak dari jerat hukum. Masyarakat sering geregetan menyaksikan sosok pejabat yang sebelumnya segar-bugar, tiba-diberitakan sakit ketika disangka korupsi. Sakit beneran atau cuma bohongan? Mengapa dokter mau memberikan surat keterangan sakit? Kepura-puraan merupakan perilaku yang lumrah terjadi di masyarakat. Yang lazim adalah kamuflase menjadi ''orang baik''. Pejabat atau politisi seringkali melakukannya. Berlagak dermawan, murah hati, yang membagi-bagikan harta dengan tujuan menyembunyikan perilaku korupnya. Ragam motif melatarbelakangi perilaku pura-pura. Seorang pe-ngangguran bisa tampil perlente, kemudian membual kalau ia memiliki usaha sukses. Bualan itu mungkin hanya untuk kepuasan psikologis: meningkatkan harga diri, self esteem, atau sekadar menutupi kegagalan dirinya. Tapi bisa saja mengandung motif yang lebih jauh: memperdaya gadis-gadis, atau bahkan menipu kolega bisnis. Bentuk lain dari berpura-pura adalah ''menjual kesedihan''. Biasanya taktik ini digunakan untuk menarik simpati. Fantasi kesedihan biasanya dilakukan kelompok ma-syarakat lemah. Anak jalanan, mi-salnya, mahir mendramatisasi penderitaannya sedemikian rupa untuk menarik simpati masyarakat. Meski ia memang menderita, tetapi karena dibumbui fantasi, maka termasuk pula kepura-puraan. Sindrom Munchausen Perilaku pura-pura sakit sedang menjadi tren di masyarakat. Ketua Jurusan Psikologi Universitas Semarang (USM), Novi Qontantin SPsi, menilai perilaku ini sebagai ganguan kejiwaan yang disebut sindrom Munchausen. Penamaan sindrom ini merujuk ulah Baron von Munchausen, tentara Rusia kelahiran Jerman pada Perang Dunia I. Ia menulis artikel dan buku yang menceritakan kisah-kisah heroik di medan perang. Begitu piawainya, sehingga banyak orang terkecoh, mengira kisah itu benar-benar terjadi. Buku-buku karya Munchasen laku keras, hingga cetak ulang beberapa kali, sampai akhirnya terbongkar bahwa kisah-kisah heroik itu hanya bualan semata. Munchausen kemudian dijadikan nama sindrom ganggunan psikologis. Pengidap sindrom Muncahusen senang berfantasi dan melakukan kebohongan. Ciri khususnya adalah pura-pura sakit dan berusaha dirawat di rumah sakit. Menurut American Psychiatric Association, sindrom ini diikuti gejala klinis yang nyata seperti sakit kepala, mual, kenaikan suhu tubuh, sakit atau bengkak pada bagian tubuh, bahkan pingsan (benar-benar pingsan, bukan pura-pura). Pada stadium akut, pengidap bisa dengan sengaja mencelakakan diri. Misalnya sengaja jatuh agar tubuhnya luka. Makanya, meski hanya fabrikasi (pura-pura), bukan berarti sindrom itu gampang dideteksi. Bahkan oleh tenaga medis sekalipun. Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Unissula, dokter Ahmadi NH SPKj, menjelaskan pelaku sindrom Munchausen mampu mengelabui tenaga medis. ''Pada pemeriksaan awal, dokter bisa terkecoh. Karena kebohongan telah merasuk secara sempurna, sehingga tubuh penderita akhirnya memang memberikan gejala sakit,'' ujarnya. Akan Terbongkar Karena itukah, banyak koruptor bisa berpura-pura sakit dan membohongi dokter? Ahmadi menampik kemungkinan tersebut. ''Dalam diagnosa awal, dokter bisa saja terkecoh. Namun setelah diagnosa lanjutan, misalnya lewat pemeriksaan laboratorium, kebohongan itu akan terbongkar,'' ujar ahli penyakit jiwa yang berpraktik di RSI Sultan Agung itu. Ahmadi mengakui sering menjumpai perilaku berpura-pura sakit. ''Biasanya beberapa karyawan yang ingin bolos kerja,'' tambahnya, sambil tertawa. Novi Qontantin mengatakan, banyak motif di balik sindrom tersebut. ''Pengidap sindrom menikmati rasa nyaman ketika sakit, karena terbebas dari tanggung jawab yang mesti dipikulnya, atau memperoleh perhatian dari lingkungan''. Dimintai komentarnya tentang perilaku koruptor yang berpura-pura sakit, Ahmadi dan Novi menyatakan, hal itu boleh jadi merupakan sindrom Munchausen. Mungkin saja mereka hanya berpura-pura, agar lolos dari jerat hukum. Sindrom Munchausen menimbulkan kerugian, baik bagi pengidapnya maupun masyarakat. Ke-luarganya pasti cemas, mengira kalau dia sakit sungguhan. Di perusahaan, perkembangan karir karyawan yang sakit-sakit (entah benar atau pura-pura) juga terhambat. Perusahaan dirugikan, karena harus menanggung biaya perawatan. Dokter juga bisa terkena implikasi hukum terkait asuransi kesehatan atau tuduhan malpraktik. ''Yang jelas, pura-pura sakit merugikan pasien sendiri, karena harus minum obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan,'' ujar Novi. Secara psikologis, pada batas-batas tertentu, perilaku berpura-pura ini sebenarnya bisa ''dimaklumi''. Yang dikhawatirkan adalah jika hal itu membudaya, bahkan mewaris turun temurun dan menjadi watak bangsa. Maukaj kita menjadi bangsa yang suka berpura-pura? Kalangan politisi suka membual, seolah-olah bangsa ini sudah maju, makmur dan beradab, meski pada kenyatannya masih katrok. Sebaliknya, banyak orang kaya pura-pura miskin demi memperoleh bantuan langsung tunai, beras miskin, atau berobat gratis. (Joko S-32) |