logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Mei 2007 RAGAM
Line

Di Balik Kesan ''Ndesa'' Ubi Jalar

Jangan pernah meremehkan ubi jalar. Meski terkesan ndesa dan murahan, tanaman dengan nama latin Ipomoea batatas ini memilki aneka manfaat bagi kesehatan. ANDA tentu sudah tak asing dengan ubi jalar. Bahan pangan pengganti padi dan jagung ini bisa dengan mudah kita temukan di pasar-pasar tradisional.

Masing-masing daerah memiiliki sebutan berbeda untuk ubi jalar. Misalnya ubi jawa (Sumatera Barat), gadong jalur (Batak), ketela (Jakarta), ketela rambat (Jawa), katila (Dayak), watata (Sulawesi Utara), dan lain-lain.

Meski populer, ubi jalar jarang masuk dalam daftar menu keluarga. Biasanya hanya diolah sebagai makanan selingan. Ada yang sekadar dikukus atau digoreng, ada pula yang dibuat keripik atau getuk.

Padahal, di sejumlah negara Barat, ubi jalar justru menjadi primadona. Dalam perayaan hari besar seperti Natal dan Thanksgiving Day, warga Amerika lazim membuat sajian eksklusif dari ubi jalar. Ada cake, kue kering, pure pelengkap steak atau salad, es krim, puding, muffin, souffle, pancake, kroket, sup krim, atau sebagai taburan hidangan panggang.

Ubi jalar juga banyak dimanfaatkan masyarakat Jepang. Ubi yang masih sekeluarga degan kentang ini acap diolah menjadi berbagai panganan menarik seperti permen, es krim, dan mi.

Cara pengolahan yang kurang variatif, disertai dengan stigma murahan dan ndesa, inilah membuat ubi jalar jarang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Padahal selain memiliki kandungan gizi tinggi, tanaman ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Semak Bercabang

Ubi jalar termasuk umbi-umbian dari tumbuhan semak bercabang. Batangnya gundul, dan terkadang saling membelit. Dari batangnya terdapat getah.

Daunnya berbentuk segitiga berlekuk, yang menjadi 3-5 lekukan dengan tangkai panjang. Bunganya berbentuk payung, dan terdapat di setiap ketiak tangkai daun.

Tumbuhan ini konon ditemukan sejak 8000 tahun SM di sebuah gua di Peru. Ia bisa hidup liar menjalar, bahkan bisa tumbuh subur di ketinggian 1-2.200 meter dari permukaan laut.

Di dunia terdapat berbagai jenis ubi jalar. Ada yang kulitnya putih, merah, ungu, kuning dan kecokelatan. Warna ubinya pun beragam: putih, kuning, oranye, putih keunguan, hingga ungu tua. Dari sekian jenis itu, ubi jalar putihlah yang paling banyak dijumpai.

Seperti umbi-umbian lain, ubi jalar merupakan sumber karbohidrat yang baik. Ia juga kaya protein, lemak, kalori, serat, abu, kalsium, fosfor, zat besi, karoten, vitamin B1, B2, C, dan asam nikoninat. Semua kandungan itu terdapat dalam umbi maupun daunnya.

Selain digunakan sebagai panganan, ubi jalar juga sering digunakan sebagai obat, baik obat luar maupun dalam. Pengobatan luar memanfaatkan umbi dan daunnya dilakukan dengan mema-rut atau menghaluskan bahan dari ubi jalar, lalu ditempel ke bagian sakit. Pe-nyakit yang bisa disembuhkan antara lain keseleo, luka terpukul, eksim, bisul, dan herpes.

Untuk pengobatan dalam, ubi jalar direbus dan dibuat masakan sesuai selera, atau diambil tepungnya. Beberapa penyakit yang bisa diobati antara lain sakit tenggorokan, kencing manis, perut kembung, penyakit kuning (lever), pembengkakan, rematik, asam urat, pegal linu, dan rabun senja.

Obati Kanker

Bukan hanya itu. Ubi jalar juga berkhasiat melancarkan peredaran darah dan buang air besar, mengatasi cacingan, bisa menurunkan kolesterol, membuat kita awet muda, mencegah keme-rosotan daya ingat dan kepikunan, jantung koroner, hingga kanker.

Pengobatan sakit tenggorokan bisa dilakukan dengan meminum air seduhan bubuk ubi jalar putih. Bubuk itu didapatkan dari ubi yang dikeringkan dan ditumbuk hingga halus.

Daun ubi bisa digunakan untuk mengatasi cacingan dan melancarkan buang air besar. Caranya, daun dijus lalu diminum. Dapat pula direbus dan airnya diminum.

Ubi jalar merah juga digunakan un-tuk mengobati penyakit kuning, pembengkakan, rematik, asam urat, pegal linu dan rabun senja. Ya, semua penyakit itu dapat diatasi dengan meminum air rebusan ubi jalar merah yang dicampur bahan-bahan lainnya.

Khusus untuk rematik, asam urat, dan pegal linu, selain meminum air rebusan, penderita juga mesti memakan ubi rebusnya. Namun untuk penderita rabun senja, bukan air rebusannya yang diminum, tetapi hanya memakan ubinya saja.

Manfaat ubi jalar belum habis hanya sebatas itu. Menurut penelitian, sekelompok antioksidan yang tersimpan dalam ubi jalar merah juga mampu menghalangi laju perusakan sel oleh radikal bebas.

Karena itu, ubi jalar merah dapat mencegah kemerosotan daya ingat dan kepikunan, penyakit jantung koroner, kanker, dan membuat kita tetap awet muda. Karenanya, jangan anggap enteng ubi jalar. (Maratun Nashihah-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA