logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Mei 2007 WACANA
Line

Misteri Pembunuhan Munir

  • Oleh Muhammad Taufiq

SEBAGAI tokoh HAM nasional bahkan internasional, terbunuhnya Munir tentu saja menggoncangkan jagat perpolitikan. Betapa tidak, ternyata di Indonesia tokoh sekaliber dia tidak imun terhadap usaha pembunuhan.

Setelah dua tahun usaha penyelidikan -baik yang dilakukan tim pencari fakta (TPF) maupun kepolisian- atas kasus menggemparkan tersebut, kini sorotan ditujukan kepada Badan Intelijen Negara (BIN).

Meski belum tentu institusi BIN terlibat, namun diduga sebagian personel termasuk beberapa pejabatnya terlibat. Terbukti, penyelidikan TPF yang diketuai Brigjen Marsudi Hanafi dari kepolisian dengan anggota dari PBHI dan Kontras, mengarah kepada beberapa anggota BIN. Hingga sekarang telah diperiksa lima anggota BIN, tetapi belum satu pun dijadikan tersangka.

Novum

Sekarang setelah diketemukannya novum dalam kasus pembunuhan Munir, nampaknya penyidik Polri mendapat semangat baru untuk kembali memulai penyidikan. Novum tersebut antara lain isi rekaman pembicaraan sebanyak 41 kali antara Polly dengan mantan pejabat BIN. Jika transkrip isi rekaman itu berhasil diperoleh Polri, bisa dijadikan bahan untuk pengajuan PK atas kasus besar tersebut ke MA.

PK belum diajukan, Kapolri sudah mementahkannya dengan menegaskan bahwa isi pembicaraan tersebut sulit diperoleh. Pasalnya, hal itu terjadi sebelum Munir terbunuh, sehingga Polri belum mencurigai seseorang untuk disadap teleponnya. Pihak kepolisian hanya mendapatkan rekaman data untuk kepentingan pembayaran dari hubungan telepon tersebut dengan durasi tertentu, jadi bukan isi rekaman pembicaraan.

Apalagi setelah dalam persidangan di PN Jakarta Pusat pada 17 November 2005 lalu dengan terdakwa Polly, sang pejabat BIN tersebut membantah kenal dengan Polly. Adapun handphone(HP)-nya bisa digunakan oleh siapa saja yang membutuhkan. Tentu saja bantahan tersebut tidak masuk akal.

Seandainya dari 41 kali pembicaraan dengan Munir tersebut, sang pejabat pernah sekali saja berbicara dengan Polly, maka logikanya adalah dia kenal Polly. Kalau dia dalam persidangan membantah kenal Polly, maka perlu diragukan kebenarannya. Seandainya isi pembicaraan telepon tersebut bukan sebagai novum karena tidak ada transkripnya, bisa jadi yang akan dijadikan novum adalah beberapa dokumen yang saat ini barangkali telah diperoleh Polri.

Bisa juga keterangan baru dari para saksi yang melihat Munir sedang berbincang serius dengan beberapa orang di Bandara Changi Singapura, sewaktu pesawat transit selama satu jam dalam penerbangan Jakarta-Amsterdam.

Sebab, sebagaimana keterangan Suciwati, kegemaran Munir adalah minum teh hangat. Padahal salah seorang saksi mengatakan memang pada waktu itu Munir sempat ditawari minum teh hangat oleh seseorang di kafe Bandara Changi. Barangkali lewat minum teh hangat itulah, racun arsenic dimasukkan ke tubuh Munir. Terbukti, sewaktu memasuki pesawat, Munir sudah dalam kondisi sangat pucat. Jadi, TKP-nya bukan di atas pesawat dengan diracun melalui mie goreng atau jus buah, melainkan di kafe Bandara Changi lewat minum teh hangat.

Dalam menghadapi kasus pembunuhan tersebut, sebenarnya terdapat beberapa misteri yang selama ini belum berhasil diungka. Pertama, mengapa selama ini pihak kepolisian hanya intens mengarahkan penyelidikannya ke pihak Garuda bukan kepada BIN?

Kedua, mengapa mayat Munir baru dua bulan dikembalikan pemerintah Belanda ke Indonesia pada awal November 2004, padahal ia dibunuh pada penerbangan Jakarta-Amsterdam via Singapura pada 7 September 2004?

Meski pada waktu itu pemerintah Belanda berdalih untuk autopsi, tetapi mengapa autopsi begitu lama sampai dua bulan, apakah tidak akan menghilangkan berbagai barang bukti yang seharusnya bisa segera terungkap.

Ketiga, sesuai dengan ilmu forensik, barang bukti bisa berupa darah maupun organ tubuh. Apa tidak mungkin darah dan organ tubuh Munir telah diganti dengan milik orang lain oleh tim forensik Belanda? Berkaitan dengan pertanyaan itu, seharusnya makam Munir dibongkar kembali. Tetapi apakah setelah dua tahun dikubur dan telah dilakukan autopsi total oleh tim forensik Belanda, masih bisa lagi diketahui penyebab kematian Munir?

Yang jelas, seandainya Munir mati di Indonesia, konspirasi pembunuhan tersebut akan selalu diliputi kabut misteri kegelapan. Sebab, banyak juga tokoh dari sipil maupun militer sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi yang sengaja dihabisi, tetapi selalu dinyatakan akibat serangan jantung. (68)

--- Muhammad Taufiq SH MH, ketua Ikadin Kota Surakarta.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA