logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Mei 2007 NASIONAL
Line

Jepang Tawarkan Investasi Perubahan Iklim

KYOTO- Pemerintah Jepang menawarkan inisiatif baru di sektor investasi, yang disebut dengan ESDA atau Peningkatan Pembangunan Berkelanjutan untuk Asia. Itu menyusul keprihatinannya terhadap persoalan perubahan iklim yang memerlukan penanganan serius.

Hal itu dikemukakan Menteri Keuangan Jepang Koji Omi, selaku Ketua Dewan Gubernur Bank Pembangunan Asia (ADB) di Kyoto, dalam pembukaan sidang ke-40 pertemuan petinggi ADB.

"Inisiatif yang ditawarkan Jepang merupakan tantangan untuk mempromosikan investasi sekaligus penanganan terhadap perubahan iklim melalui efisiensi energi," kata Koji Omi.

Inisiatif ESDA (Enhance Sustainable Development for Asia) itu diharapkan mendorong upaya dari negara-negara berkembang di Asia termasuk juga ADB untuk menjawab tantangan yang ada.

Omi mengemukakan, ada dua pilar yang ditawarkan dalam skema ESDA, yaitu melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) bersama ADB dengan menyediakan pinjaman dalam bentuk yen, senilai 2 miliar dolar AS yang dapat digunakan selama lebih dari lima tahun.

Pilar kedua, penyaluran dana terhadap dua sektor, yaitu pendanaan untuk proyek-proyek bertema "Asian Clean Energy" dan bantuan yang memfasilitasi kegiatan iklim investasi. Kontribusi yang diberikan Jepang untuk kedua hal itu sebesar 100 juta dolar AS yang dilakukan melalui ADB.

Penanganan terhadap masalah-masalah perubahan iklim disorot Jepang. Ini mengingat dampak yang diakibatkan berskala global, sehingga mempengaruhi upaya-upaya pembangunan yang sedang diupayakan bersama.

Asia sendiri memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perubahan iklim dari produksi gas buangan CO2 yang dihasilkannya.

Hal lain yang mendapat perhatian Jepang dalam pertemuan tahunan itu adalah kerja sama ekonomi regional, serta tantangan yang dihadapi ADB, termasuk persoalan perubahan iklim.

Meski memuji pertumbuhan ekonomi yang terjadi di kawasan Asia, Jepang mengingatkan keberadaan sekitar 600 juta penduduk Asia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

"Kondisi ini menjadikan penanganan angka kemiskinan merupakan prioritas yang harus diselesaikan. Hal ini sekaligus menjadi tantangan bagi ADB untuk menunjukkan kontribusinya dalam pembangunan Asia," katanya.(ant-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA