logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Mei 2007 NASIONAL
Line

Politik

Wajah-wajah Baru di Kabinet (1)

Jusman Pakar Penerbangan, M Nuh Punya Reputasi


SM/dok SM/Dwi SM/Ant Andi Mattalata Jusman Syafii M Nuh

Beberapa wajah baru bakal masuk di Kabinet Indonesia Bersatu. Meski demikian, mereka bukanlah ''orang asing''. Sumbangan pemikiran mereka untuk kemajuan bangsa cukup besar. Siapa mereka, berikut laporannya.

SABTU petang (5/5), Jusman Syafii Djamal masih bercengkrama dengan keluarganya di sebuah gerai penjual burger di Bandung. Saat itu, mereka tengah merayakan hari ulang tahun ke-14 anak sulungnya, Ayu Islamya Syafii.

Tiba-tiba saja pukul 18.30, panggilan telepon masuk ke ponselnya. Isinya, dia diminta sudah berada di Cikeas Bogor pada pukul 21.30. Nama Cikeas saat ini memang menjadi perhatian banyak pihak, menyusul adanya rencana perombakan Kabinet Indonesia Bersatu.

Di sana, pria yang memiliki pengalaman 15.360 jam di bidang arodynamist engineer itu terlibat dalam pembicaraan empat mata selama 40 menit dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY. Tema pembicaraan seputar anatomi kecelakaan transportasi nasional dari semua moda darat, laut, dan udara, termasuk di dalamnya menyinggung tentang perlunya sistem transportasi nasional agar tingkat kecelakaan dapat ditekan hingga tingkat zero accident.

Karena itu, tak heran jika beredar kabar Jusman bakal diplot sebagai Menhub. "Namun saya sendiri belum jelas akan diposisikan di mana," katanya ketika disinggung kebenarannya saat disambangi ke rumahnya di Jalan Ciwulan Bandung, Minggu (6/5) pukul 20.30.

Dia mengatakan, untuk kejelasan hal tersebut lebih baik menunggu hasil pengumuman Presiden SBY. Baginya, dipanggil Presiden pun sudah merupakan kehormatan besar. Pada Sabtu itu, dia merupakan tamu terakhir yang dijamu SBY dalam rangka fit and proper test berkaitan dengan perombakan kabinet.

Dalam pertemuan itu, dia diminta membantu Presiden. Orang nomor satu RI itu pun mengatakan bahwa setiap pekerjaan pasti akan menawarkan satu tantangan yang harus dilewati. Jika kemudian benar-benar dipercaya, Jusman yang merupakan pria kelahiran Langsa, Aceh Timur 28 Juli 1954 itu menyatakan siap mencurahkan kemampuannya. "Tapi saya tidak mau mendahului, lebih baik setelah diumumkan," katanya.

Sebelum dipanggil ke Cikeas, Jusman tercatat sebagai anggota Timnas Evaluasi Kecelakaan dan Keselamatan Transportasi menyusul maraknya musibah transportasi pada awal tahun 2007. Sepanjang kariernya, dia lebih banyak berada di lingkungan PT DI (dulu IPTN) sampai menjabat sebagai Dirut sejak September 2000 hingga 9 Agustus 2002.

Dia sendiri memulai karier di PT DI pada tahun 1982. Hanya saja dia lebih banyak berada di luar negeri terutama berkiprah di sejumlah perusahaan mitra seperti CASA Spanyol, perusahaan heli di Jerman, mendalami di bidang terowongan angin di Belanda, sampai desain pesawat di AS.

Oleh BJ Habibie, bos PT DI saat itu, bapak tiga anak tersebut kemudian ditarik ke pabrik di Bandung. Pasalnya, PT DI tengah berancang-ancang membuat pesawat terbang komuter andal. Jusman yang memegang 9600 jam sebagai perancang pesawat terbang kemudian dipercaya sebagai chief project engineer pembangunan pesawat N-250.

Pesawat itu mampu terbang perdana pada peringatan Ultah Emas ke-50 Kemerdekaan RI, Agustus 1995. Atas kemampuannya, dia pun diganjar penghargaan dengan menerima Bintang Jasa Nararya dari pemerintah RI.

Dengan latar belakang seperti itu, Jusman menyatakan bisa saja kemudian SBY memanggil dirinya, terlebih kecelakaan pesawat terbang banyak mendapat sorotan. Ditambahkan, penanganan terhadap dunia penerbangan bisa jadi akan dijadikan benchmark (standard) bagi pembenahan menyeluruh moda transportasi lainnya. Tapi sekali lagi, dia tak mau mengobrol banyak.

Yang jelas, malam itu, panggilan telepon seluler yang diangkatnya menunjukan adanya harapan terhadap pengangkatan dirinya selain ucapan selamat tentunya. Tapi seperti respon yang diperlihatkannya, Jusman yang juga aktif di sejumlah yayasan dan lebih banyak beraktivitas di Jakarta itu tak mau lebih banyak berbicara.

Intelektual

Tokoh baru lain yang telah dipanggil SBY dan kemungkinan masuk dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu adalah Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA, mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Kemungkinan besar dia bakal menduduki jabatan Menteri Komunikasi dan Informasi menggantikan Sofyan Djalil. Sosok M Nuh di kalangan pendidikan, politik, ormas, dan gerakan sosial kemasyarakatan lainnya bukanlah orang asing. Lelaki kelahiran 17 Juni 1959 yang berasal dari keluarga petani sederhana di Gununganyar, Kota Surabaya itu, dikenal sebagai sosok intelektual yang religius.

Setelah menamatkan pendidikan di Jurusan Teknik Elektro ITS dan lulus pada 1983, M Nuh yang namanya sekarang juga disebut-sebut layak dijagokan sebagai calon gubernur (Cagub) Jatim itu mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Universite Science et Technique du Languedoc Montpellier, Perancis. Gelar S2 dan S3 juga dia peroleh di perguruan tinggi tersebut.

Dari pendidikan master (S2) dan doktor (S3) di negeri mode tingkat dunia itu, M Nuh dikenal sebagai pakar bidang Control System Biomedical System Engineering. Dari disertasinya dia berhasil mengembangkan suatu sistem peralatan untuk terapi superficial bagi penderita kanker kulit. Peralatan tersebut hingga kini masih digunakan di rumah sakit di Aurelle Montpellier Prancis, sebuah rumah sakit khusus kanker.

M Nuh yang terus bergelut di dunia pendidikan dan pernah menduduki jabatan tertinggi sebagai orang nomor satu di ITS-perguruan tinggi negeri bidang teknik ternama di Indonesia- makin dikukuhkan prestasi akademiknya setelah mendapat gelar profesor. Kepakarannya dalam bidang Control System Biomedical System Engineering memperoleh pengakuan lengkap dengan turunnya keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI pada April 2004 yang mengangkat Nuh sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Digital Control System dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika.

Dia juga dikenal sebagai pribadi yang suka menulis. Ada 3 jilid buku yang diluncurkan sejak menjabat sebagai rektor ITS Surabaya periode 2003-2007.

Sedangkan jabatan bersifat kemasyarakatan yang dipegang di luar jalur akademik antara lain Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Jawa Timur, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, anggota pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya, Ketua MUI Jatim, dan Pengurus Maarif NU Cabang Surabaya.

Suami drg Laily Rachmawati, Sp.Perio itu, tercatat sebagai anggota Institute of Electrical and Electronic Engineering, juga sebagai Technical Committee Member pada kegiatan-kegiatan seminar ilmiah baik nasional maupun internasional. Terkait hobinya menulis berbagai persoalan teknik dan sosial kemasyarakatan, dia pernah mengatakan, "Bagi saya menulis buku adalah bagian dari cita-cita dan keinginan saya untuk terus menulis dan menulis. Alhamdulillah sebagian dari percikan pemikiran akhirnya terwujud. Beberapa sahabat dan teman dekat saya sangat menganjurkan untuk belajar memulai menuliskan apa saja yang menjadi buah pikiran. Memang luar biasa beratnya menulis."

Selain dikenal sebagai akademikus bidang teknik, bapak satu anak ini juga mendalami ilmu pengetahuan keagamaannya (Islam). Tak jarang dia diminta memberikan ceramah agama di masjid dan berbagai kegiatan umat Islam. Hal itu dibuktikan dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Ketua ICMI Jatim, Ketua MUI Jatim, anggota LP Ma'arief Kota Surabaya.

Di tubuh NU mengalir dua aliran sekaligus dalam konteks aliran ke-Islam-an di Indonesia.Yakni, Islam modernis (Muhammadiyah) dan Islam tradisional (NU). M Nuh adalah pribadi yang tak memiliki sekat sosial untuk bergaul dengan kalangan Islam berpaham Muhammadiyah dan NU di Jatim dan Indonesia pada umumnya. Yang terpenting, katanya, proses pendidikan terus berlangsung karena dari proses pendidikan yang benar akan melahirkan generasi bangsa yang unggul dan beradab.

Sementara itu, Andi Mattalata SH MH yang diprediksikan menduduki kursi menkum HAM juga bukan ''orang asing''. Pria kelahiran di Bone, 30 September 1952 itu pada 2004 - 2009 menjadi anggota DPR RI dari Partai Golongan Karya (Partai Golkar), 1999-2004 menjadi Dewan Penasihat Fraksi Karya Pembangunan DPR/MPR RI Jakarta, 1998-2003 Wakil Sekjen DPP Golkar Jakarta, dan 1988-1992 anggota Fraksi Karya Pembangunan DPR/MPR RI. (Dwi Setiady, Ainur Rohim, Dani-Pusdok SM-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA