logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Mei 2007 NASIONAL
Line

Empat Menteri Diberhentikan

  • Abdul Rahman Saleh Masih Teka-teki

BERKEMAS: Meneg Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Saifullah Yusuf mengemas dokumen-dokumen di ruang kerjanya di Jalan Abdul Muis, Jakarta, Minggu (6/5). Saifullah merupakan salah satu menteri yang akan dilengser. (57)

JAKARTA - Empat menteri di Kabinet Indonesia Bersatu dipastikan akan dilengserkan dari jabatannya. Mereka adalah Menneg Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Saifullah Yusuf, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM) Hamid Awaluddin, Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra, dan Menneg BUMN Sugiharto.

Posisi Jaksa Agung yang selama ini dipegang Abdul Rahman Saleh juga akan digantikan Hendarman Supandji yang saat ini sebagai Ketua Timtas Tipikor/Plt JAM Pidsus Kejaksaan Agung. Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta menteri yang diganti dalam reshuffle kabinet agar tidak kecewa dan tidak mempermasalahkan keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Keputusan itu rencananya akan diumumkan Senin ini (7/5).

Pesan itu disampaikan Kalla kepada Saifullah Yusuf (Gus Ipul) melalui telepon.

"Tenang saja, kamu diganti. Pemimpin sekarang ini kan juga hasil reshuffle," kata Kalla sebagaimana ditirukan Gus Ipul usai menerima telepon Wapres di kantor Jalan Abdul Muis 7 Jakarta Pusat, kemarin.

Dia sempat ditawari menjadi Dubes di Malaysia, namun ditolak. Ketua Umum PP GP Ansor lebih memilih di luar pemerintahan. Menurutnya, dalam perbicangan itu, Kalla juga mengkritisi reshuffle yang terlalu berlarut-larut, karena sudah bergulir sejak Desember tahun lalu.

Bagi Gus Ipul, reshuffle adalah hal yang biasa, karena jabatan itu amanat. Karena itu jika diambil kembali adalah hal yang lumrah. "Ketika saya ditunjuk menteri, saya berdoa. Sekarang saya bersyukur karena telah menyelesaikan tugas," tandasnya.

Sementara itu menteri yang akan digeser posisinya di antaranya Menhub Hatta Rajasa dan Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil. Sedangkan menteri yang dipertahankan dalam Kabinet Indonesia Bersatu, kemarin, dipanggil ke kediaman Presiden di Cikeas. Mereka adalah Menhan Yuwono Sudarsono, yang semula dikabarkan sakit, namun tetap dipertahankan setelah ada rekomendasi dari tim dokter. Dia dinyatakan bisa menjalankan tugas hingga akhir masa jabatan. Juga Menakertrans Erman Suparno, Menkop/UKM Suryadharma Ali, Menristek Kusmayanto Kadiman, Mentan Anton Apriyantono, dan Menhut MS Ka'ban

Menteri lain yang dipanggil tetapi diundur dari jadwal menghadap Presiden adalah Menlu Hassan Wirayudha, Mendiknas Bambang Sudibyo, Mensos Bachtiar Chamsyah, Menkes Siti Fadilah Supari, Memperin Fahmi Idris, Mendag Mari Pangestu, Menkeu Sri Mulyani, Menteri DKP Freddy Numberi, dan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto.

Sri Mulyani kemarin masih di Jepang. Namun Senin pagi dia dan menteri-menteri tersebut rencananya dipanggil untuk melakukan pelaporan hasil kinerjanya.

Nama-nama baru yang telah disiapkan untuk menduduki posisi menteri, selain Hendarman Supandji ada Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR Andi Mattalata, Sekjen DPP PKB Lukman Edy, mantan Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Jusman Syafie Djamal, dan mantan Rektor Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) Muhammad Nuh.

Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng dalam jumpa pers di kediaman Presiden SBY di Puri Cikeas mengatakan, seluruh anggota kabinet yang diberhentikan maupun yang dipindahtugaskan ke pos lain dipastikan telah menerima pemberitahuan sebelumnya dari Presiden SBY. Pemberitahuan dilakukan melalui telepon dan surat.

"Yang jelas semua sudah diberitahu sebelum mengetahui dari orang lain atau sebelum mengetahui dari media massa."

Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mensyukuri perombakan kabinet dilaksanakan. Dari langkah pemanggilan Presiden SBY terhadap orang-orang baru, dia mengaku cukup menyimpan harapan.

Hanya saja semestinya SBY juga berani menggarap perubahan di jajaran tim ekonominya sebelum mengumumkan kabinet hasil reshuffle.

Terlalu Berani

Pengamat politik dari Universitas Indonesia Arbi Sanit menilai, SBY terlalu berani jika mencopot Menkum hAM Hamid Awaluddin dan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra dalam reshuffle jilid II ini.

"Jika itu benar terjadi, Presiden telah berani menggusur orang-orang yang jelas berjasa secara langsung kepadanya."

Menurut dia, Yusril telah berjasa kepada Presiden Yudhoyono karena telah mendukung menjadi calon presiden pada Pemilu 2004. Adapun Hamid, kata Arbi Sanit, selain telah berjasa karena menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum, juga menjadi tim sukses Yudhoyono. (di,dwi,dtc-46,49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA