| Senin, 07 Mei 2007 | KEDU & DIY |
Ditemukan Surat Rupingah''Koyo Ngene Balesane Kowe...''SLEMAN-Pada dasarnya seorang perempuan memang tidak ingin dimadu. Itulah kesimpulan yang harus diambil dari peristiwa pati obong yang dilakukan Ny Rupingah (31). Perempuan beranak dua warga Dusun Ngelo, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman itu nekat mengakhiri hidupnya karena mengetahui suaminya, Hery Susilo, diduga mempunyai selingkuhan. Aksi nekat Rupingah itu diduga kuat berkait ditemukannya surat berisi pesan bagaimana beratnya perasaan dia yang sudah 10 tahun hidup bersama mengetahui suaminya punya WIL. ''10 tahun aku setia karo kowe, 10 tahun aku nutupi abote sanggane urip, nanging koyo ngene balesane kowe marang aku. Cukup tekan kene wae, aku karo anak-anak arep lungo adoh ...''. Tulisan tangan Rupingah itu dibuat pada dua lembar kertas HVS, satu lembar sobekan kertas tulis dan lembaran Kartu Keluarga (C1). Selain menemukan lembaran kertas itu, kata Kapolres Sleman AKBP Drs Idris Kadir SH MHum, melalui Kapolsek Ngaglik, AKP Suradiyono, penyidik juga menemukan lembaran lain yang diduga berasal dari WIL nya Hery Susilo. Surat bertanggal 17 Maret itu lah yang diduga menjadi sumber pertengkaran berbuntut aksi pati obong yang menyebabkan tewasnya Rupingah bersama Esti Nafit Akilah (1) pada saat kejadian. Sementara seorang lagi anaknya, Ibnu Rizal (8), menyusul menghembuskan nafas terakhirnya akibat luka bakar berat, sekitar 90 % (Suara Merdeka, 5/5). Pemicu Kemarahan AKBP Drs Idris Kadir maupun AKP Suradiyono tidak menjelaskan di mana surat itu ditemukan. Yang jelas kata mereka surat dari WIL yang tidak disebutkan nama dan identitasnya patut diduga telah menimbulkan kemarahan sekaligus kekecewaan Rupingah terhadap suaminya. Setelah terjadi perang mulut malam hari sekitar jam 21.15, Hery Susilo balik ke rumah orang tuanya tak jauh dari tempat tinggal mereka. Surat-surat tersebut kini diamankan oleh penyidik. Setelah didamaikan oleh keluarga, Rupingah balik. Di rumah dia mengunci pintu masuk dari dalam. Sekitar satu jam kemudian Hery yang bekerja di sebuah toko mebel menyusul pulang. Tapi karena tak bisa masuk dia balik lagi ke rumah orang tuanya. Sebelum jam 04.00 diketahui Rupingah keluar rumah membeli sebotol bensin. Tak lama kemudian diketahui ibu dua anak itu tewas terpanggang. Dari penyelidikan yang dilakukan dan dari ditemukannya surat pesan tersebut, pihak kepolisian setempat meyakini aksi pati obong itu murni bermotif bunuh diri. ''Kami tidak menemukan adanya unsur kekerasan,'' ujar AKP Suradiyono Sabtu lalu (5/5). Oleh sebab itu terhadap jenazah Rupingah dan anaknya, Esti Nafit Akilah, tidak dilakukan autopsi. Setelah dilakukan visum et repertum kedua jenazah dimakamkan Jumat sore lalu di kampung setempat.(P58-21) |