logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Mei 2007 EKONOMI
Line

NTP di Atas 100 %, Petani Sejahtera

SEMARANG-Nilai Tukar Petani (NTP) untuk wilayah Jawa Tengah pada Februari 2007 tidak mengalami perubahan bila dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu 106,44 %. Hal itu menunjukkan tingkat kesejahteraan petani Jateng selama periode Februari 2007 tidak berbeda dibanding bulan sebelumnya.

Namun dengan nilai NTP lebih besar dari 100, menempatkan petani di Jateng dalam katagori sejahtera.

Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah Indrarto Hadianto, baru-baru ini. Dia menjelaskan, NTP merupakan salah satu indikator yang menunjukkan tingkat kesejahteraan petani di suatu wilayah.

Perhitungan indikator ini, didasarkan atas perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (IT) dengan indeks harga yang dibayar petani (IB) yang dinyatakan dalam persentase.

Untuk IT Jateng pada periode Februari 2007 mencapai 623,00%, sedangkan IB sebesar 585,32%.

"Dengan membandingkan kedua perkembangan angka itu, dapat diketahui apakah peningkatan pengeluaran untuk kebutuhan petani dapat dikompensasi dengan pertambahan pendapatan petani dari hasil produksinya. Makin besar nilai NTP, menunjukkan semakin tinggi kesejahteraan petani di wilayah itu," jelas Indrarto.

Indeks IT yang mencapai angka 623,00% tersebut, mengalami kenaikan 1,69% dibanding Januari 2007 yang besarnya 524,82%.

Kenaikan IT, karena naiknya indeks harga pada subsektor tanaman bahan makanan (Tabama) dan subsektor tanaman perkebunan rakyat (Tapera), masing-masing sebesar 1,68 % dan 2,04 %.

Kenaikan indeks harga subsektor Tabama dari 533,43% pada Januari 2007 menjadi 637,52 pada Februari 2007. Ini dipengaruhi kenaikan indeks kelompok padi sebesar 9,30 %, indeks harga kelompok dan tanaman palawija sebesar 2,14 %.

Sedangkan indeks harga kelompok sayur-sayuran dan kelompok buah-buahan mengalami penurunan, masing-masing sebesar -19,57% dan -0,64%.

Sedangkan kenaikan indeks harga yang harus dibayar petani (IB) didukung kenaikan indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 2,27%, yakni dari 526,08 pada Januari 2007 menjadi 581,21 pada Februari 2007. "Angka 2,27 % itu, merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi daerah pedesaan," katanya.

Kenaikan itu meliputi, indeks subkelompok makanan naik sebesar 3,83 %, subkelompok perumahan naik 1,12 %, subkelompok pakaian naik 0,75 % dan aneka barang dan jasa naik 0,24 %.

Selain itu, kenaikan IB juga didukung kenaikan indeks biaya produksi sebesar 0,43%, dari 580,57% pada Januari 2007 menjadi 594,57% pada Februari. (apr-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA