| Senin, 07 Mei 2007 | EKONOMI |
BMI Kembangkan Kredit Rumah SyariahSEMARANG-Bank Muamalat Indonesia (BMI) menjajaki kerja sama dengan sejumlah pengembang perumahan. Hal ini terkait rencana pengembangan produk Pembiayaan Kepemilikan Perumahan Syariah (PKPS). Besarnya potensi pasar produk ini menjadi pertimbangan BMI. Terlebih, di Semarang peluangnya cukup besar. Pasalnya, belum banyak bank yang menawarkan produk kredit kepemilikan rumah (KPR) sesuai syariah. R Donny M Iskandar, Pimpinan BMI Cabang Semarang, mengatakan, kerja sama dengan pengembang ini, untuk memudahkan menjaring debitor. Meski demikian, produk PKPS ini tidak hanya ditujukan bagi pembeli di sebuah kawasan perumahan. Pihaknya melayani pembiayaan rumah di semua tempat, baik baru maupun bekas. Menurut dia, bidikan pasar untuk pengembangan produk ini, mereka yang masih tergolong keluarga muda. Besarnya pembiayaan ini dibatasi maksimal Rp 1 miliar. ''Bisnis perumahan tumbuh pesat. Bagi kami, ini peluang untuk menawarkan produk KPR syariah,'' katanya baru-baru ini. Dijelaskan, sistem PKPS ini mengacu pada model musyarakah (pembiayaan) dan ijarah (sewa). Sistem Sewa Karenanya, model pembiayaan ini berbeda dengan KPR bank konvensional, yang menerapkan sistem bunga. Di PKPS, nasabah membayar uang muka sebesar 2% dari harga jual rumah yang telah disepakati bersama antara bank dan nasabah. Nantinya, nasabah membayar uang sewa tiap bulan hingga jangka waktu tertentu. Kemudian dilanjutkan dengan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank ke nasabah. Secara umum, penyaluran pembiayaan BMI Cabang Semarang pada triwulan I tahun 2007 telah mencapai Rp 25,3 miliar. Dibandingkan dengan pencapaian akhir 2006 lalu sebesar Rp 161 miliar, maka terdapat pertumbuhan hingga 15,6%. Sementara dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun sebanyak Rp 151 miliar. Perolehan DPK ini, terdongkrak dengan agresifnya pemasaran produk simpanan Shar-e. Tercatat, jumlah nasabah Shar-e ini mencapai 31.372 orang. ''Untuk laba, triwulan I kami membukukan sebanyak Rp 6,64 miliar dan aset mencapai Rp 158 miliar,'' katanya. (H22-33) |