logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Mei 2007 BUDAYA
Line

percik

Jankiss

  • Oleh Rosyidah Purwo

DI tengah ingar bingar musik pop, musik tradisional pun menghilang alias mati. Sangat jarang masyarakat mau melestarikan musik tradisional. Namun, itu tak berlaku di di Banyumas.

Banyumas masih memiliki komunitas paguyuban seni kentongan jankiss. Dengan keterbatasannya, paguyuban itu mempertahankan musik tradisional yang sekarang sangat jarang dilirik masyarakat kebanyakan tersebut.

Jankiss adalah jenis musik tradisional yang muncul baru-baru ini. Kemunculan kembali itu berawal dari keprihatinan Yiyiet. Ya, dia prihatin karena para pemuda di sekitar rumahnya tak memiliki pekerjaan tetap. Mereka cuma bermain gitar dan nongkrong di warung, tanpa tujuan hidup pasti.

Dia mengumpulkan para pemuda itu untuk mengoptimalkan naluri berkesenian dan berkreasi. Maka, terbetiklah ide membuat paguyuban seni kentongan yang tak memerlukan modal besar.

Untuk memainkan jankiss tak butuh keterampilan khusus. Mereka cukup diberi bekal keterampilan memukul kentongan dan pelatihan pernapasan. Sebab, modal utama adalah napas.

Kentongan dipukul beraturan, sehingga memunculkan nada-nada indah untuk mengiringi lagu Jawa atau Indonesia. Pemain musik itu minimal 10 orang. Makin banyak pemain makin baik, sebab dapat memengaruhi bagus atau tidak bunyi perpaduan kentongan.

Permainan musik itu biasanya dipimpin seorang dirigen. Sambil menari dengan gerakan lincah, sang dirigen mengatur irama dan gerakan. Semua personel tak melulu memainkan alat musik. Sambil memainkan alat musik, mereka bernyanyi dan berjoget.

Karena tak memiliki cukup uang, untuk mencari modal bagi pengembangan musik jankiss, mereka sering mengamen di tempat-tempat umum.

Uang perolehan mengamen mereka pergunakan untuk membeli seragam dan memperbaiki kentongan yang tak layak pakai.

Kegigihan dan optimisme mereka jadikan modal dasar di tengah keterbatasan modal finansial. Sampai sekarang, kesenian itu masih bertahan. Berkat kegigihan dan keuletan mereka, keberadaan musik itu makin melambung.

Sudah sering musik tradisional itu mengisi acara pernikahan dan khitanan. Bahkan peringatan hari besar agama. Beberapa kali mereka diundang mengisi acara di hotel-hotel di Banyumas. Beberapa kali jankiss juga menjuarai lomba kentongan se-Banyumas.

Pantas diacungi jempol cara mereka menghasilkan dan mempertahankan karya seni tradisional yang dipaduasrikan dengan lagu-lagu zaman di tengah arus deras kesenian dari Barat yang menghantam jiwa kita sekarang. (53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA