logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Mei 2007 BUDAYA
Line

Bahasa Tubuh Kokoh

TUBUH kerap digunakan sebagai medium penyampai gagasan dalam seni rupa. Ia peranti yang menjumbuhkan persoalan ideologi dan estetika. Tubuh memang menarik, sehingga tak habis-habis dieksplorasi.

Kokoh Nugroho, perupa jebolan Unnes, hampir tak pernah alpa menampilkan tubuh manusia di dalam kanvas. Tak sekadar pelaras komposisi, namun elemen utama. Dalam bedah karya di Galeri Bu Atie, Jalan Borobudur Utara Raya 6, Semarang, Jumat (4/5) malam, ikhwal bahasa tubuh Kokoh mengemuka.

Adji Noegroho sebagai pembaca karya menyebut figur-figur manusia dalam karya Kokoh selalu memainkan gestur. Figur-figur deformatif itu menggeliat dan meronta, seolah menguarkan kegelisahan.

Kokoh begitu meyakini tubuh lebih dari elemen apa pun. Bagi dia, tubuh adalah bahasa yang lebih bisa dipercaya. Ia jendela hati yang tak menyembunyikan hipokrisi.

Namun sayang, ujar Adji, karya Kokoh belum sampai pada kedalaman tema. Secara tematis terlihat samar dan belum selesai. Pemaknaan lukisan Kokoh masih ditopang judul. Adji mencontohkan Garbage, Looking for Object, dan Helper.

Judul juga masih kerap deskriptif dan belum menukik ke konflik. ''Melihat dan Dilihat'', misalnya, sekadar paparan visual objek yang tak bermuara pada makna.

Enigmatik

Perupa Markaban menyatakan tak menemu korespodensi antara judul dan karya Kokoh. Judul Kokoh cenderung enigmatik, menebar teka-teki.

Dia membaca karya Kokoh dengan pendekatan kronologis untuk menggali jejak proses kreatif perupa. Dia membagi periodisasi lukisan Kokoh menjadi pra-2004 dan pasca-2004.

''Sampai 2004, karya dia masih dilekati residu Yogya. Ada pengaruh Entang Wiharso. Namun setelah itu Kokoh menemukan gaya sendiri. Karyanya lebih surealistis dan memunculkan figur manusia yang lepas dari hukum proporsi."

Eko Tunas melihat Kokoh masih sekadar bermain pada tataran repetitif, belum eksploratif. Ada 26 karya malam itu ditampilkan melalui layar OHP. Namun Eko merasa cuma melihat satu. Tubuh sebagai bahasa rupa berhenti sebagai figur yang bergerak-gerak.

Timur Sinar Suprabana juga mengemukakan Kokoh cuma menekuk atau mengolor objek berulang-ulang. Di luar itu, ide dan gagasan yang ingin disampaikan masih samar. (Rukardi-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA