| Senin, 07 Mei 2007 | BUDAYA |
Kelir Kosong, Teater PemainSUTRADARA Teater Gidag-gidig memperkenalkan diri. "Selamat malam, saya Hanindawan. Terima kasih telah datang," ujar lelaki itu. Seorang aktris yang sibuk di panggung. "O ya, itu rekan saya, Metta. Metta, Metta!" seru Hanin. Namun Metta tak menanggapi. Hanin lalu memanggil tokoh yang diperankan Metta. "Mbah Ripi, Mbah!" Metta yang berada di dunia pertunjukan menjawab, "Ana apa ta kok geger? Ora ngerti wong lagi repot." Hanin yang berpakaian sehari-hari pun masuk ke panggung dan berganti pakaian, lalu memainkan karakter orang tua. Dan, pertunjukan Kelir Kosong pun dimulai. Hanin menuturkan pertunjukan itu tak memakai naskah. Peran sutradara pun diminimalkan untuk menghadirkan "teater pemain". Itulah teater yang mengandalkan improvisasi gagasan aktor. Kelir Kosong yang dipentaskan di Universitas Dian Nuswantoro, Jumat (4/5) malam, terinspirasi Kereta Kencana saduran Rendra atas Le's Chairs Eugene Ionnesco. Gidag-gidig menggunakan tema dan alur yang mirip Kereta Kencana. Seperti Kereta Kencana, Kelir Kosong juga menceritakan masa senja suami-istri yang pernah jadi bintang panggung. Pertanyaan seputar kepastian kematian membuat mereka mengembangkan imajinasi menjadi penantian atas harapan. Mereka berimajinasi soal kedatangan pejabat yang bakal memberikan order main ketoprak. Namun semua berakhir dengan kekosongan. Improvisasi dan kecairan penokohan membuat Kelir Kosong mengalir indah. Namun keinginan memakai spirit tradisi dalam teater modern belum maksimal. Kereta Kencana, sebagai rujukan Kelir Kosong, baik dari tema maupun jalinan peristiwa, masih sangat memengaruhi. (Sony Wibisono-53) |