| Senin, 07 Mei 2007 | BUDAYA |
Perjumbuhan Indah
ATMOSFER pembauran seketika mengental, saat sendratari Babad Semarang dimainkan di pelataran Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, Sabtu (5/4) malam. Kesenian berbasis tradisi Jawa pesisiran itu dihadirkan di enklave budaya peranakan. Gerak tari pemain berkawin dengan latar bangunan kelenteng nan menawan. Tetabuhan gamelan dan terbang berkarib aroma hio swa dari altar persembahyangan. Sungguh, perjumbuhan indah yang menggetarkan. Di atas panggung, warna akulturatif tampak dari latar pemain yang beragam, baik Jawa maupun Tionghoa. Tak hanya penari profesional, sendratari persembahan Kopi Semawis, Kelenteng Tay Kak Sie, dan Kong Tik Soe itu dimeriahkan para tokoh masyarakat. Mereka antara lain mantan rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc, Direktur PT Ulam Tiba Halim Harjanto Halim, Ketua IAI Jawa Tengah Ir Widya Wijayanti MPH MURP, pengusaha Benita Eka Arijani, arkeolog Dewi Tunjung, serta Ketua Jurusan Teknik Industri Undip Ir Heru Prastawa DEA. Kehadiran mereka menambah daya tarik. Orang-orang yang setiap hari berkutat dengan dunia masing-masing, tiba-tiba tampil bak seniman. Kegagapan dan kekagokan gerak dan aksi panggung Eko dan kawan-kawan justru jadi menghibur. Benita yang berperan sebagai petani, misalnya, kedodoran menari. Dia kerap harus menyesuaikan gerakan dengan penari lain. Sri Paminto Widi Legawa, koreografer, tentu saja tak membebani mereka untuk tampil sebanding penari profesional. Terlebih dia tak punya cukup waktu menggembleng para pemain pocokan itu menjadi matang. Namun yang lebih penting adalah semangat multikultural. Perjumpaan budaya memungkinkan keberlangsungan dialog yang melahirkan kebersamaan. Dalam konteks Semarang yang multikultur, itu mutlak dibutuhkan. Paling Populer Sendratari itu diambil dari salah satu versi paling populer Babad Semarang. Alkisah, Adipati Tirang (Harjanto Halim) berikhtiar membuka lahan baru untuk memperluas daerah kekuasaan. Namun, lahan itu ternyata kerajaan Jin Plonthang. Tak rela, jin jahat itu menghalangi niat Adipati Tirang. Dia mengerahkan para jin dan prewangan untuk membuat kekacauan dan menebar pagebluk. Putri sang adipati, Sekar Kedhaton, jadi korban. Dia dirasuki dan gila. Untuk menyembuhkan putri kinasih, Adipati Tirang membuat sayembara. Akhirnya, ksatria Joko Pameling, murid Sunan Kalijaga (Eko), menaklukkan Jin Plonthang dan wadyabala-nya. Adji Noegroho dibantu Winachto dan kawan-kawan menata panggung jadi tiga bagian: Hutan Asem Arang, padepokan, dan kadipaten. Meski minimalis, seting cukup memikat. Apalagi saat ditimpa sorot lampu warna-warni garapan Daniel Hakiki. Adegan setiap babak berganti-ganti dari satu seting ke seting lain.(53) |