| Senin, 07 Mei 2007 | BUDAYA |
Siapkan Buku BaruRADEN Kelik Sumaryoto seperti identik dengan pelesetan. ''Pelesetan itu jenis humor cerdas. Saya harus mengandalkan kecepatan mengolah kata dengan tetap mengusahakan publik mengikuti maksud saya,'' ujar pria yang akrab disapa Ucup Kelik itu pada penutupan "Pesta Buku" di Purwokerto, Rabu (2/5). Humor, ujar dia, tak cuma berujung-pangkal pada penciptaan tawa. Humor berkualitas memberikan katarsis atau pencerahan ke khalayak. Dan, pria yang memasang target menikah tahun depan itu menjadikan humor sebagai wahana kritik. ''Sama sekali tak berniat menjelek-jelekkan. Wakil Presiden Kalla pernah mewacanakan hendak melarang tayangan 'Republik BBM'. Padahal, siapa pun tak berhak melarang. Presiden sekalipun. Yang bisa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI),'' ujarnya. Kini, Kelik menyiapkan buku terbaru. Dia bakal membukukan tulisan pada rubrik "Capek (Catatan Pelesetan Kelik)" di Suara Merdeka plus tulisan lain, Juni nanti, dengan judul Republik BBM, Sekali Plesetan Tetap Plesetan. ''Saya akan menopik soal reshuffle hingga lumpur Lapindo. Juga usulan agar tak terjadi lagi pemerkosaan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia, kita kirim tenaga kerja waria (TKW),'' katanya. Dia bersetia pada jalur pelesetan sebagai strategi kritik tanpa efek menyakitkan. Karena itu dia bergantung pada koran untuk menambah vitamin pengetahuan agar selalu aktual. Dia berlangganan 10 koran. Usai subuh, dia membaca koran itu saban hari. ''Kemampuan pelesetan saya tertolong oleh kesukaan membuat kliping apa saja sejak kecil.'' Pelesetan seperti musik parodi. Seseorang harus bisa bermain musik dahulu untuk bisa memarodikan lagu. ''Dengan membaca koran, saya bisa mengusai topik terkini untuk saya pelesetkan. Itu salah satu rahasia menjaga konsistensi mutu lawakan,'' katanya. (Sigit Harsanto-53) |