logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Mei 2007 BANYUMAS
Line

Film Bisa Dibuat dengan Murah

ARTIS molek dan aktor perkasa, teknologi audio visual canggih, dikerjakan oleh seniman andal, serta berbiaya selangit. Sederet anggapan itulah yang kerap masih melekat pada benak orang awam sepanjang berbicara mengenai bagaimana film dibuat. Ah, nyatanya semua anggapan itu omong kosong.

Begitulah setidak-tidaknya pesan yang sedang dikumandangkan Arisan Film Forum (AFF) Purwokerto di hadapan siswa kelas XI SMA Bruderan, Purwokerto. Tujuh kelas secara bergantian pada Jumat-Sabtu (4-5/5) dan Rabu (9/5) mendatang bisa menyaksikan film-film yang memang mampu menjungkirbalikkan segala pemikiran yang umum berlaku mengenai film.

Tak aneh, ungkapan spontan seperti ''unik'', ''aneh'', ''gak mudheng'' dan ''aku bingung'' menjadi komentar yang dominan dari para siswa. Betapa tidak, sajian bertajuk Perjaka Mencari Cinta yang cuma berdurasi 59 detik juga sudah bisa dikategorikan sebagai karya film. ''Maksudnya bikin film kayak gitu sih apa?'' celetuk seorang siswa.

Bayu Bergaswaras dari AFF menjelaskan, pengertian film hendaknya tak hanya dilabelkan pada film-film keluaran industri besar. Siapa pun, asal menguasai sedikit kemampuan bidang film, bisa menciptakannya. ''Termasuk pelajar, karena film tak harus berbiaya besar,'' ungkapnya.

Dorong Kreativitas

Contohnya film Laporken Kenapa dan Jijiek yang memotong-motong sedemikian rupa film mainsteam untuk dijadikan satu rangkaian gambar dengan cerita baru. Praktis, hanya dibutuhkan kemampuan komputer editing guna mencipta karya dengan teknik found votage itu. ''Lalu, apa film semacam itu diakui?'' sergah seorang siswa.

Yah, kebebasan berkreasi memang kadang di luar pikiran jamak. Usah terhenyak, jika film semacam Laporken Kenapa yang hanya butuh tak lebih dari Rp 20.000 menjadi film pilihan dalam Bulan Film Nasional di Jakarta. Seperti dituturkan Pusat Data AFF, Hanung, dengan menyajikan fakta semacam itu, diharapkan mampu menyulut semangat pelajar untuk berkarya.

''Produksi film menjadi cara baru bagi pelajar di Banyumas untuk mengekspresikan idenya,'' jelasnya.

Pengajar Bahasa Indonesia, CH Sri Sutati, mengatakan, kegiatan itu bisa memberi wawasan seputar dunia film pendek. Juga mendorong anak untuk berkreativitas di dunia film. Apalagi mereka juga sudah praktik membuat siaran berita, termasuk liputan di lapangan.

''Ini juga menjadi bagian dari materi resensi film sehingga mereka mengetahui kian banyak ragam film,'' imbuhnya.

Selain film lokal, studio ''dadakan'' di Lab Bahasa itu juga turut memutar film dari berbagai kota. Di antaranya Old Shoes, Physic Girl, My Life, The True Global Idol, Lelaki Pesolek, Mahkotaku 50:50, dan The Gatotkaca Gugurs. (Sigit Harsanto-21)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA