logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Mei 2007 SALA
Line

Para Wanita Tua Pengawal Batik Asli Sukoharjo

  • Oleh Irfan Salafudin

SUMIYATUN(64), Suparmi (70), dan Misromi (50), berkali-kali memonyongkan mulut untuk meniup ujung canting yang mereka pegang, setelah canting tersebut mereka celupkan ke sebuah baskom kecil berisi malam (semacam lilin) cair berwarna coklat pekat dan panas.

Setelah itu, tangan mereka dengan luwes menorehkan ujung canting itu pada selembar kain, sesuai dengan motif batik yang sudah digambar dengan pensil pada kain tersebut.

Wajah mereka tampak serius. Maklum, satu kesalahan saja, kain batik tulis yang mereka kerjakan pasti tidak sempurna hasilnya. Pekerjaan membatik sama seperti mentato permukaan kulit manusia. Tak boleh salah sedikit pun, agar hasil akhirnya sempurna.

Aktivitas seperti itu dilakoni ketiga perempuan asal Desa Kedung Gudhel, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, tersebut setiap hari. Mereka adalah tiga di antara puluhan wanita desa itu, yang sehari-hari bekerja sebagai pembatik. ''Saya membatik sudah 50 tahun. Pekerjaan ini saya lakoni sejak kecil,'' ujar Sumiyatun.

Dalam sehari, dia bisa membatik tiga sampai 3,5 meter kain, bergantung pada tingkat kesulitan motifnya.

Suparmi bahkan lebih lama menekuni pekerjaan tersebut. Wanita renta itu jadi pembatik sejak usia 10 tahun. Artinya, sudah 60 tahun dia bergelut dengan kain, malam, dan canting setiap hari. ''Sejak kecil, saya sudah diajari mbatik,'' katanya.

Tentang upah yang diterima dari pekerjaan tersebut, Misromi mengatakan upah mereka sedikit. Untuk pembantikan setiap empat meter kain, seorang pembatik hanya diupah Rp 5.000.

''Kalau tiga meter, upahnya ya Rp 3.000. Kecil memang. Tetapi, kami tidak pernah kapok. Meskipun cuma sedikit, ning nguripi,'' ujarnya.

Kalah Bersaing

Dengan upah minim, ketiga wanita itu - dan juga puluhan pembatik lain di Desa Kedung Gudhel - bisa dibilang merupakan ''benteng pertahanan terakhir'' dari kejayaan batik asli Sukoharjo.

Batik Kedung Gudhel sekarang tak secemerlang dulu. Kalah bersaing dengan produk batik lain.

''Dulu, di desa ini banyak home industry batik. Tapi, lama kelamaan banyak yang bangkrut. Sekarang tinggal tiga yang bertahan,'' kata Anis, pemilik salah satu perusahaan batik di desa tersebut.

Dia mengatakan, banyaknya batik buatan mesin yang harganya lebih murah ikut andil dalam menggeser posisi batik tulis Kedung Gudhel.

''Sebab, meskipun secara kualitas produk kami lebih bagus, harganya lebih mahal,'' katanya.

Kurang mulusnya regenerasi pembatik, juga menjadi faktor penghambat yang lain. Kebanyakan pembatik di Desa Kedung Gudhel adalah wanita-wanita yang sudah berumur.

Mereka sejak muda sudah menekuni pekerjaan tersebut. (58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA