| Kamis, 03 Mei 2007 | SALA |
Harga Bahan Baku Naik, Perajin Genteng TerpukulBOYOLALI - Para perajin genteng di Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali Kota, saat ini menghadapi kenyataan pahit: pemasaran genteng mereka terbuka luas, namun harga bahan baku - tanah liat dan kayu bakar - melonjak. Sutarjo (45), seorang perajin genteng, mengatakan keuntungan yang diperolehnya sekarang sangat minim. Dari setiap satu tobong, perajin paling-paling hanya memperolah keuntungan bersih Rp 350.000. Genteng terkadang tidak langsung laku dijual, setelah selesai dibakar di tobong. ''Otomatis, modal perajin berhenti lama dan terlambat diputar. Untuk mengatasi masalah ini, saya harus rajin mencari pembeli,'' katanya, Rabu (2/5) kemarin. Bapak tiga anak itu mengatakan, paling tidak 200 perajin gentang butuh perhatian pemerintah. Apalagi, paguyuban yang dibentuk pada tahun 2006 lalu, sekarang dalam keadaan mandek. ''Sebenarnya, perajin untung kalau paguyuban masih berjalan. Penjualan genteng maupun bantuan modal akan lebih mudah,'' katanya. Perajin Terpukul Atin (43), juga perajin genteng, mengatakan menipisnya bahan baku tanah liat dan kayu bakar, membuat para perajin terpukul. Tadinya, kayu bakar hanya berharga hanya Rp 50.000/colt. Sekarang, harganya melonjak hingga Rp 150.000/colt. Setiap tobong membutuhkan bahan bakar kayu tiga colt. Perajin tidak berani mengurangi pemakaian kayu, karena akan berdampak buruk (kualitas jelek) pada genteng yang dihasilkan. Untuk pemasaran, para perajin masih mengandalkan wilayah seputar Boyolali. Suatu ketika, saat pemerintah melakukan revitalisasi pasca-gempa Mei tahun lalu, mereka pernah kebanjiran order dari Boyolali, Klaten, dan Yogyakarta.(G10-58) |