logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Mei 2007 WACANA
Line

"Empat Mata" dari Sebelah Mata

  • Oleh Dyah Pitaloka

BAGI setiap selebritas, keberhasilan mereka memang diukur dari popularitas serta kredibilitas dalam menjalani profesi sebagai bintang dunia hiburan. Kondisi itulah, yang telah berhasil diciptakan Tukul Arwana. Dia tidak saja berhasil menjadi salah satu host terpopuler dalam waktu sangat singkat, namun juga dipandang oleh masyarakat sebagai pembawa acara talkshow yang mumpuni, mampu menguasai panggung dengan aktif dan interaktif.

Namun di sisi lain, kepopuleran itu juga harus berhadapan dengan individu ataupun kelompok masyarakat yang memandang bahwa popularitas Tukul dan acara "Empat Mata" yang diusungnya semata-mata karena unsur sensualitas yang mewarnai acara tersebut sejak awal sampai akhir.

Sensualitas memang memiliki daya jual dan persuasi yang tinggi. Sensualitas tidak melulu muncul dari tampilan fisik seseorang yang secara seksual sangat atraktif dan seduktif, dari pakaian mereka yang sedikit terbuka, seksi, atau yang ibu saya sering katakan "semlohay". Unsur itu bisa juga mengambil bentuk berupa ucapan, pilihan kata, intonasi, dan irama bicara, bahkan pada bahasa tubuh berupa ciuman ataupun cara duduk, misalnya.

Selera Publik

Sebagai sebuah talkshow, kemasan "Empat Mata" sangat ringan. Tidak jarang pertanyaan yang diajukan kepada bintang tamu tidak dituntaskan. Kehadiran bintang tamu tidak lebih sekadar pengamat dan pemanis acara. Tidak sebagaimana layaknya talkshow, dalam "Empat Mata" tidak ada topik yang serius yang harus disikapi. Tidak ada diskusi mendalam, bahkan host pun sangat terpaku pada deretan kalimat yang (mesti tidak bisa kita lihat dan baca) tertulis dalam laptop.

"Empat Mata" semata berisikan joke-joke segar yang tidak bisa disalahkan, karena pada akhir acara selalu dikatakan oleh Tukul sebagai "just for fan".

Demikianlah, selera publik kita saat ini terpuaskan dengan acara "Empat Mata". Namun tentunya "bunga-bunga" yang menyertai acara itulah, yang kemudian harus kita lihat apakah sudah pantas atau belum untuk ikut ditayangkan dan dikonsumsi oleh masyarakat secara luas.

Masalah pertama yang muncul adalah perubahan jam tayang yang maju dari semula pukul 22.00 menjadi pukul 21.30. Sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Saran (P3SPS) dalam Bab IV tentang Kesopanan, Kepantasan, dan Kesusilaan disebutkan, program yang mengandung unsur seks, ditayangkan mulai pukul 22.00-03.00 sesuai dengan waktu stasiun penyiaran yang menayangkan. Karena itu, saya cukup kaget ketika menonton tayangan "Empat Mata" edisi 4/4/2007 yang menampilkan Betharia Sonata sebagai salah satu bintang tamu dengan busana (maaf) bagian dada sangat terbuka.

Masalah kedua, dengan pernak-pernik yang sarat sensualitas itu, tayangan "Empat Mata" muncul nyaris tiap malam, sehingga tingkat kejenuhan khalayak terhadap acara itu pun memuncak. Tampilan bintang tamu (perempuan) dan para pemain yang lengkap dengan atribut seksinya, menjadikan penonton kemudian terjebak antara menikmati acara itu sebagai hiburan daripada secara cerdas memilih antara pantas dan tidak pantas.

Kerutinan itulah, yang melahirkan kebosanan sehingga acara yang semula memang dikonsumsi secara pantas untuk memenuhi kebutuhan batin berhubungan dengan diri, sosial, dan citra diri, pun mengabur. Pihak TV7 dan produsen, serta Tukul abai dan tak melihat gejolak itu di masyarakat.

Berkait dengan masalah itu, KPI telah melakukan teguran (No 480/K/KPI/10/06) karena "Empat Mata" dianggap memuat lelucon cabul dan merendahkan perempuan sebagai objek seks.

Jika itu tetap diabaikan, sangatlah dimungkinkan dilakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian, dengan membawa bukti-bukti rekaman, karena lembaga penyiaran itu dianggap melanggar Pasal 36 UU 32/2002 tentang Penyiaran, dan akan dikenakan sanksi pidana sesuai dengan Pasal 57.

Sesungguhnya, "Empat Mata" bukanlah acara pertama yang menuai pro dan kontra; hanya sudut pandang, isi dan muatannya-lah yang berbeda. Namun dengan bijak, kita semua memiliki satu jawaban bahwa fenomena Tukul dan "Empat Mata"-nya mendidik kita semua untuk lebih dewasa dan cerdas sebagai penonton. Dengan tidak saling tuding, sesungguhnya itulah, saat untuk terlibat aktif melakukan apa yang disebut self censorship. Tidak untuk menghakimi, tetapi untuk terlibat aktif dalam kepentingan kita semua, sebagai penonton, sebagai orang tua, sebagai perempuan, dan sebagai masyarakat.(68)

--- Dyah Pitaloka, staf pengajar Jurusan Komunikasi FISIP Undip Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA