| Kamis, 03 Mei 2007 | NASIONAL |
Hari Jadi Ke-460 Kota SemarangPersenyawaan Wayang Kulit dan Wayang Orang
KEMUNCULAN sosok danawa dengan tindak tanduk merahwana itu sungguh berhasil menjadi adegan yang menghadirkan kesan. Ya, penonton disodori kejutan pada bagian pertama penampilan. Maka, hingga pementasan berakhir sekitar dua jam kemudian, mereka praktis tak memberanjakkan mata dari panggung pertunjukan. Begitulah sajian pementasan wayang kolaborasi dengan lakon ''Aji Saka'', yang dimainkan di ruas Jalan Letjen Suprapto, di kompleks Gereja Blenduk, Kota Lama, Semarang, semalam. Pementasan hasil kerja sama Pemkot dan Dewan Kesenian Semarang (Dekase) itu digelar dalam rangka Hari Jadi Ke-460 Kota Semarang. Tak tanggung-tanggung, lakon karya Ki Joko ''Edan'' Hadiwijoyo yang disutradarai Maston Lingkar itu dimainkan lima dalang, yang sekaligus menjadi penelangkai lakon. Selain Ki Joko, tampil dalang Ngesti Mudha Ki Kristanto Widayat Gunocarito, Ki Darsono, Ki Kuswinarto, dan dalang cilik Sindhunata Gesit Widiarta. Pementasan itu didukung juga oleh para seniman dari Ngesti Pandawa, Ngesti Mudha, Yasa Budhaya, Wijaya Laras, dan Langen Budaya Jawi. Ya, seperti awalan yang kerap digunakan pada pertunjukan teater, wayang kolaborasi itu dimulai dengan teknik muncul yang mengejutkan. Persis setelah tiga dalang, yakni Ki Joko, Kristanto, dan Sindhu membuka adegan dengan olah gunungan, muncullah sosok raksasa menyeramkan. Tubuhnya sentosa, dengan rambut gimbal panjang, muka merah, dan tindak tanduk berangasan. Ditendangnya apa saja yang menghalangi jalan. Dilemparnya segala yang menghalangi pandangan. Dialah Prabu Dewatacengkar, raja Medangkamulan yang berujud danawa. Tokoh antagonis yang dalam cerita rakyat Ajisaka selalu digambarkan sebagai raja lalim yang ditakuti rakyatnya. Raja yang tak segan memakan daging rakyatnya, ketika rasa lapar hadir di perutnya. Bersenyawa Lakon ''Aji Saka'' mengisahkan perjalanan seorang pertapa dari tanah seberang, yang bernama Aji Saka. Pertapa yang memiliki dua pengikut, Dora dan Sembada, datang ke Medangkamulan yang diperintah Dewatacengkar. Atas kesaktian Aji Saka, raja durjana itu berhasil dikalahkan, dan berubah menjadi buaya putih. Kisah itu diakhiri dengan penemuan aksara Jawa, yang diilhami dari kisah dua anak buah Aji Saka yang mati sampyuh karena salah paham. Sementara, dari sisi penggarapan, sutradara terbilang cukup berhasil membesut persenyawaan wayang kulit, wayang wong, sastra, tari, dan teater menjadi bersenyawa. Dan tentu saja, membuat para penonton, termasuk Wali Kota Sukawi Sutarip, rela hati menghadiahkan tepukan di sesela adegan.(60) | ||||