logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Mei 2007 NASIONAL
Line

Pengungkapan Pencurian di Bulog Bawen (3-Habis)

''Nek Ora Manut, Ora Entuk Kerja...''


SM/ Rony Yuwono CARA MENCURI: Kasmidi (57), buruh angkut di gudang Dolog Bawen saat mempraktikkan cara mencuri beras raskin. Pelaku menggunakan alat tusuk yang ujungnya seperti bambu runcing. (57)

PAK BREWOK, demikian Bunari (57) disapa, bersama teman-temannya diminta polisi menimbang satu per satu beras yang telah didodos (dicuri) tersebut, kemarin. Di gudang Dolog ini, sejumlah pekerja kasar ini pun menimbang beras dalam sak ini.

Dua sak yang mestinya isi 40 kg, timbangan hanya menunjuk angka 38 kg. Selain diminta menimbang, pekerja angkut ini juga harus memeragakan cara mereka mencuri bahan makanan yang dinanti warga miskin tersebut.

Dengan alat tusuk pipa berlubang dan ujungnya seperti bambu runcing, seorang buruh lalu menusukkannya ke dalam sak beras. Tak lama alat itu masuk sak, keluarlah cucuran butir bahan makanan pokok itu. Sebelumnya, dia sudah menyiapkan gelas plastik untuk menampung beras tersebut.

''Jumlah beras yang diambil kadang-kadang dua gelas. Kami hanya sebagai pesuruh, jadi patuh sama majikan,'' kata Kasmidi (57). Pria berumur, yang telah 30 tahun mencari hidup di gudang tersebut, mengaku disuruh Ngatmin untuk mengurangi isi beras raskin. Menurut dia, di atasnya Ngatmin adalah Suwarsono, juru timbang.

''Nek ora manut, ora entuk kerja Mas...(kalau tidak patuh, tidak boleh bekerja Mas),'' ungkap Kasmidi yang tidak mengira aksinya dipergoki polisi.

Karena berhenti sementara, Kasmidi tidak menerima bayaran lantaran polisi masih intensif memeriksa gudang. ''Dalam sebulan saya bekerja seminggu. Setiap hari saya dapat sekitar Rp 25.000,'' akunya. Ia mengaku melakukan itu sejak ada program raskin sekitar enam tahun lalu.

Setelah didodos, beras curian dimasukkan karung bekas yang disiapkan. Setelah itu beberapa orang ditugasi untuk menjahit karung tersebut.

Rp 7 Juta/Bulan

Berdasar keterangan polisi, tersangka Kepala Gudang Bawen M Tugiran mendapat Rp 7 juta/bulan. Adapun juru timbang memperoleh Rp 3 juta. ''Tapi kalau melihat aksi juru timbang, lebih dari Rp 3 juta yang dia dapat. Karena dia sudah berbohong kepada kepala Gudang. Dia mengaku hanya mengambil 2,5 ons per sak, ternyata lebih. Wartawan lihat sendiri kan timbangannya tadi?'' kata seorang penyidik Polres.

Tri Wanto, Satgas Raskin, dari Kecamatan Susukan mengaku jumlah beras yang diterima tidak sampai 20 kg. Tapi dia enggan mengembalikan ke Bulog. Karena warga tahunya satgas yang mengurangi beras tersebut. ''Akhirnya kalau satu sak dibagi dua, ya dengan takaran. Kalau ditimbang jelas tidak ada 20 kg. Untuk itu disiasati dengan dibagi dua,'' jelasnya saat menunggu jatah beras raskin kemarin.

Karena belum mendapat jatah beras, dia tidak tahu bagaimana nanti ganti ongkos kirimnya. Selain itu, uang transportasi penyaluran ke desa-desa Januari-April dari Pemkab juga belum keluar. (Rony Yuwono-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA