logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Mei 2007 MURIA
Line

Tahun Ini Pemasaran Cangkul Seret

  • Oleh Sony Wibisono

SEJAK kecil Kariyanto sudah terbiasa membantu ayahnya bekerja. Mulai dari pekerja pandai besi sampai menjual barang jadi ke pasar. ''Sehabis sekolah, saya disuruh menjual pacul bikinan bapak ke pasar. Kadang juga membantu di rumah,'' ujarnya. Pada waktu itu usaha yang dikelola Sekar --nama sang bapak-- masih menggunakan alat manual.

''Kalau tidak salah beliau membuka usaha pandai besi mulai 1969,'' ucapnya.

Hasil didikan Sekar membuat Kariyanto menjadi pekerja keras. Kini usaha warisan di RT 6 RW 4, Desa Gulang, Kecamatan Mejobo itu menjadi salah satu yang terbesar di Kudus.

Peralatan yang digunakan pun makin modern. Tidak ada lagi pompa api manual untuk pembakaran. ''Kami sudah menggunakan blower, las, dan gerinda listrik,'' tuturnya.

Dengan alat yang kian modern, Kariyanto bisa memperbanyak hasil produksinya. Otomatis, dia juga membutuhkan pekerja yang banyak.

''Saat ini jumlah pekerja 17 orang, sebagian besar orang sedesa dan beberapa dari desa tetangga,'' ucap Ngatmini, istri Kariyanto, yang setia mendampingi para pekerja.

Pacul

Produk yang dihasilkan Kariyanto sebagian besar adalah pacul. ''Ukurannya bermacam-macam dari 12 mm sampai 22 mm. Harga pokoknya Rp 10.000 - Rp 22.000.''

Di samping itu, dia juga membuat pisau untuk membajak sawah walau tidak seberapa banyak.

Untuk bahan, Kariyanto mengambil besi-besi bekas dari Semarang. ''Tapi kadang banyak juga tukang rosok yang datang ke tempat saya.''

Jenis bahan yang digunakan adalah pelat koil dan beton polos. Pelat koil merupakan bahan dasar pembuatan pacul sedangkan untuk pelapisan digunakan beton.

Dalam sehari, para pekerja Kariyanto rata-rata bisa menghasilkan 100 pacul. Selain Kudus, dipasarkan ke Demak, Pati, Juwana, dan Rembang.

Jika pasaran sedang sepi, dia menumpuk produknya di rumah.

''Kadang-kadang sampai seribu pacul menumpuk di rumah. Ya, tinggal menunggu pedagang yang mau ambil,'' ungkap dia.

Permintaan ramai biasanya pada masa seusai panen, April-Juni dan menjelang musim hujan, Oktober-Desember.

Dari hasil penjualan pacul, dia mengaku mendapat Rp 30 juta per bulan. ''Itu yang Rp 10 juta sudah mesti untuk bayar utang dari bank dan koperasi.''

Karyanto mengungkapkan, baru pada 2007 ini dia merasakan pemasaran produknya agak seret. ''Entahlah, sejak banyak bencana agak seret. Sepertinya sekarang orang lebih suka memperbaiki pacul daripada harus membeli baru.''

Dia juga menyebutkan, tidak ada lagi pelanggan yang mau menjual produk ke luar Jawa. (63)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA