| Kamis, 03 Mei 2007 | KEDU & DIY |
''Jangankan Gratis, Murah Saja Susah Terwujud''YOGYAKARTA - Pendidikan gratis tampaknya hanya tinggal mimpi. Bahkan Ketua Komisi D DPRD DIY Nasrullah Krisnam mengatakan, ''Jangankan gratis, pendidikan murah saja sangat susah terwujud.'' Dia mengatakan itu ketika berbicara dalam seminar pendidikan bertemakan ''Prospek Pendidikan Murah dan Bermutu di Era Globalisasi'' yang digelar Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) DIY bekerja sama dengan kampus terpadu UMY, Rabu (2/5). Dia pesimistis pendidikan gratis dan murah akan terealisir di negeri ini. Pendidikan, jelasnya, adalah upaya memanusiakan manusia. Namun saat ini yang terlihat hanyalah untuk memenuhi permintaan industri dan pasar. Pendidikan menjadi jauh dari konsep cita-cita pendidikan Ki Hajar Dewantara. ''Hal ini mungkin muncul dari arogansi masing-masing orang yang merasa diri telah berilmu, sehingga lupa pada pendidikan yang juga memiliki tujuan menciptakan nilai kejujuran dan moral. Yang terlihat sekarang hanyalah kompetisi pemberian fasilitas dan kenyamanan layaknya hotel berbintang dengan mengabaikan sisi kualitas ilmu yang seharusnya diperoleh,'' paparnya. Profit Dia menyebut kondisi pendidikan nasional mengarah ke era global, sektor profit menjadi tujuan utama, bukan pada proses pencerdasan dan sosial. Pada akhirnya, untuk bisa mengakses pelayanan dan fasilitas yang lebih baik, diperlukan pengeluaran biaya yang tidak sedikit. Artinya, biaya pendidikan tetap mahal. Nasrullah menambahkan, sebenarnya pemerintah berkewajiban memenuhi dan melakukan pemerataan pendidikan rakyat sesuai amandemen UUD 1945 Pasal 31 Ayat (1) dan (2). Undang-undang mengamanatkan subsidi sebesar 20% untuk pendidikan dari total APBN. Tapi kenyatannya, dana yang sekarang di alokasikan untuk pendidikan hanya sekitar 4%. ''Keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab negara dan tidak bisa diabaikan,'' tandasnya. (D19-21) |