logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Mei 2007 BUDAYA
Line

PERCIK

Nyanyi Sunyi Kartunis

"AYAH jarang ada dalam album foto keluarga karena dia paling sering memotret keluarganya." Phyllis Hobe menuliskan hal itu dalam bukunya, Hal-hal Menakjubkan pada Ayah (1997). Karena ketakhadiran wajah dan senyum sang ayah dalam foto keluarga sedemikian sering, sulit melihat bukti seberapa sering ayah gembira. Kita cuma bisa meraba-raba, saat foto keluarga itu penuh senyum pastilah ayah juga tersenyum saat memotret. Meski, bisa saja sedang bersedih, sang ayah menyembunyikan kesedihan dengan mengembangkan senyum di hadapan istri dan buah hatinya.

Nasib itu tak jauh beda dari kartunis. Kita tak pernah tahu apakah di balik gambar kartun yang mengundang senyum, sang kartunis juga menyimpan senyum yang sama di wajah dan hatinya. Kita hanya bisa menebak-nebak, tanpa pernah bisa merasakan, bagaimana sang kartunis menyimpan rapat tawa untuk diledakkan lewat karya.

Kehidupan kartunis mungkin sama dan sebangun dengan kehidupan penyair. Dia bisa dan biasa berlama-lama memasuki lorong sunyi penuh kontemplasi. Dia biasa memasuki labirin yang memaksa berkutat tanpa henti di dunianya sendiri untuk secuil eksistensi.

Memang ada begitu banyak kartunis biasa bermain di "ruang ramai". Mereka biasanya berada dalam sebuah komunitas. Kartunis model begini menjaga eksistensi dengan merangkum kompetisi sebagai bagian dari denyut nadi kehidupan mereka.

Namun, tak sedikit pula kartunis "kesepian" yang mempertahankan eksistensi sendirian. Tanpa teman berbagi. Tanpa komunitas untuk menakar kadar kompetensi diri.

Kartunis "kesepian" yang biasa bernyanyi sunyi lebih memandang aktualisasi diri sebagai wujud eksistensi. Kompetisi untuk menebus media (koran) tak lebih sebagai katup penyeimbang dari impitan ketakberdayaan mencari kawan bertarung.

Banyak sekali model kartunis "kesepian" di negeri ini. Mereka tersebar di hampir semua kota, keculai kota dengan komunitas kartunis yang kuat seperti Kendal, Semarang, Ungaran, Yogya, atau Jakarta. Kartunis dengan akses relatif kecil ke media (koran) serta peluang sempit untuk ikut kompetisi (lomba kartun) membutuhkan mental baja untuk bisa tetap ada.

Keterbatasan akses hanya bisa dijinakkan dengan "membaca lebih cerdas": kartun tak sekadar bisa hadir di koran-koran. Kartunis bisa mengaktualisasikan diri lewat media alternatif yang bisa diperjuangkan sendiri. Misalnya, lewat komik indie, novel grafis, menerbitkan buku panduan praktis untuk menjadi kartunis (yang bisa sangat personal), atau melirik animasi. Bahkan media luar ruang semacam papan iklan di jalanan pun bisa jadi ajang ekspresi.

Jadi, apakah kartunis akan terus bernyanyi sunyi? Tidak! Sebarkan virus kartun ke mana saja! (53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA