logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Mei 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Budaya Korupsi

Korupsi, sudah menjadi tren atau budaya bahkan negeri ini dinobatkan sebagai terkorup ke-5 dari 146 negara dunia. Mulai pejabat hingga elite politik melakukan tindak korupsi dengan alasan tuntutan ekonomi. Bahkan ada anggapan saat ini lebih mudah mencari jarum di dalam tumpukan jerami daripada mencari seseorang yang tulus dan jujur.

Korupsi menjadi biasa. Padahal selama ini kita berusaha lepas dari krisis ekonomi untuk terus bertahan hidup di tengah persaingan yang makin ketat. Akhirnya korupsi berjalan seiring dengan pembangunan. Akibatnya pembangunan menjadi timpang dan tidak seimbang.

Bagaimana mungkin tujuan pembangunan terwujud bila para pelakunya tidak memiliki kesadaran dan semangat meraih keberhasilan. Ke manakah dana pembangunan yang selama ini dipungut dari rakyat ?. Kita bahkan dapat melihat begitu lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Kesenjangan sosial begitu kentara bahkan banyak tayangan teve yang mengangkat masalah kemiskinan dan korupsi. Banyak para pejabat maupun wakil rakyat tertangkap melakukan tindak korupsi. Namun, hukuman ringan, membuat mereka tidak jera.

Mungkin mata hati sebagian masyarakat menganggap korupsi adalah hal biasa dan wajar. Mata mereka telah silau dengan kekayaan dan harta duniawi yang memberikan kepuasan sesaat. Lalu, setelah semua harta yang mereka miliki habis, apa yang mereka dapat. Yang tersisa hanya penyesalan dan jeritan penuh derita.

Kapan lepas dari predikat negara terkorup ?. Akankah diam saja dan tidak maukah kita membuka mata hati untuk menghentikan tindakan korupsi. Saya percaya bila ada kesadaran masing-masing orang untuk peduli dan menjalankan perannya dengan baik niscaya negara ini akan bisa keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Tan Paramita Wibowo

Siswi SMA Kolese Loyola, Semarang

Teroris

Noordin M Top si teroris sampai sekarang belum terendus keberadaannya. Padahal perlengkapan senjata dan alat komunikasinya kalah canggih dengan yang kita miliki. Atau mungkin ditilik dari namanya berarti selalu di puncak, selalu top jadi tak mungkin tertangkap. Seorang teroris biasanya diidentikan dengan gerakan bawah tanah.

Keberadaannya tak diketahui pihak lain. Menyusun strategi di gua, bertampang sangar, berjanggut dan berjubah. Padahal dalam kenyataaannya tidak demikian. Mereka menyewa rumah dan menyamar sebagai pedagang atau lainnya. Seperti yang digrebek dan dilumpuhkan Densus 88 Antiteror Polri selama ini.

Anggota teroris pemula biasanya didoktrin ajaran membela kaum tertindas dengan cara bunuh diri sekalipun. Jadilah bom Bali I & II, bom Kuningan dan lainnya. Ironisnya daerah yang selama ini aman dari kerusuhan malah jadi sarang teroris. Jateng seolah menjadi ibukota teroris Indonesia.

Walau Dr Azahari telah dilumpuhkan dengan timah panas, namun muncul generasi berikutnya yakni Abu Dujana. Yang terakhir ini sulit dideteksi. Sebab namanya berkonotasi dengan "durjana".

Pengotakan istilah teroris seharusnya diubah. Bukan hanya berkaitan dengan peledakan bom tapi juga bisa dengan perbuatan yang merugikan orang lain.

Misal, menyebar SMS yang mengancam peledakan bom di tempat dan waktu tertentu. Mengabarkan dapat hadiah mobil dengan cara membayar pajak terlebih dulu. Orang jahat mengaku aparat minta ditransfer uang pada sejumlah instansi. Bukankah cara-cara teror ini bisa dikategorikan teroris ?

Agus Eko Santoso

Pondok R Patah Blok K1/21, Demak

***

Sloganisme Gapura

Semarang Pesona Asia yang digagas wali kola adalah harapan, cita-cita untuk menjadikan kota tercinta lebih bersih, indah dan mempesona. Dalam imaginasi yang kreatif, Semarang punya banyak potensi di antaranya, letak geografis yang terdiri perbukitan dan pantai, peninggalan budaya.

Juga banyaknya sungai yang satu sisi menjadi penyebab banjir tetapi pada sisi lain bisa diberdayakan menjadi salah satu potensi wisata. SPA yang diadakan pada rentang waktu Agustus - September hendaknya tidak hanya menjadi gawe sebagian warga apalagi hanya terpusat di tengah kota saja,

Karena itu perlu dicari kegiatan yang melibatkan semua warga. Karena pelaksanaannya berdekatan dengan perayaan 17-an, maka ada wahana untuk mengajak warga secara aktif memeriahkan SPA yaitu memperindah dan mempercantik gapura kampung.

Gapura fungsinya sebagai batas antara kampung. Dengan SPA yang di dalamnya ada semangat, semboyan dan brand image untuk menjadikan kota ini sejajar dengan kota-kota di Asia, saya usul gerakan sloganisme gapura kampung. Gapura tidak hanya perwujudan ekspresi menyambut 17-an, tetapi juga menjadi media pembelajaran dan pemberdayaan.

Pada gapura dituangkan semboyan, slogan yang bisa memotivasi kemajuan bangsa. Sudah jenuh rasanya tiap saat dijejali iklan yang mengarah pada hedonisme, konsumerisme dan materialisme. Gapura adalah media murah yang memberi keseimbangan, paling tidak memberi inspirasi dan motivasi.

Contoh gapura Jl Wiroto II Semarang telah terukir slogan: "Gapai citamu setinggi Mahameru". Slogan tersebut sebagai ajakan kepada semua generasi, pembelajaran untuk bekerja keras dalam mencapai cita-cita yang dalam visinya, cita-cita tertinggi adalah manusia karya, manusia yang bisa berkarya bagi diri dan lingkungannya.

Selain contoh tersebut, banyak tema yang bisa kita tampilkan atau barangkali tentang kejujuran, antinarkoba, antikorupsi dan lainnya. Jika hal ini terlaksana, bayangan saya SPA adalah brand image yang menjadi induk dari slogan lain yang muncul dari berbagai kampung.

Sudah saatnya membangun karakter bagi kemajuan bangsa justru dari kampung. Semoga Semarang Pesona Asia berjalan sukses dan didukung semua warga sampai ke pelosok kampung.

Bambang Widriarto

Jl Wiroto II/3, Semarang

***

Tanggapan Honda

Terima kasih atas kepercayaan Bapak R Goenarto sebagai konsumen setia dan kami jelaskan, motor Honda sudah menggunakan 98 % komponen yang diproduksi di Indonesia dengan standar kualitas HES (Honda Engineering Standard) Jepang, sesuai standar pengendalian kualitas (QC) pabrikan serta lolos kelayakan dari departemen terkait.

Kami berikan tips yang dapat membantu Bapak merawat motor Honda agar tetap berkualitas dan andal yaitu : melakukan perawatan/perbaikan sesuai petunjuk dalam Buku Pedoman Pemilik dan Buku Servis; Gunakan spare part Honda asli atau yang dikenal Honda Genuine Parts (HGP) dan lakukan perawatan/perbaikan di AHASS sebagai tempat servis resmi kami.

Bila ada keluhan, kritik dan saran berkait produk dan layanan dapat disampaikan lewat Honda Customer Care Center 0800 11 27872 (bebas pulsa pada jam kerja) atau 024- 760 2887, sms 08888651674, e-mail hondacare@hso.astra.co.id.

Yohanes Sancahyohadi

Honda Customer Care Center

***

Tanggapan Undip

Mengenai SPMB

Kami menanggapi Surat Pembaca dari Ir Gunawan Hadianto terutama menjelaskan latar belakang pernyataan Rektor Undip Prof Dr dr Susilo Wibowo Sp And tentang SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Pernyataan rektor dalam konferensi pers, sesungguhnya yang utama menjelaskan rencana Undip tahun 2007 akan menyelenggarakan Ujian Mandiri (UM).

Rektor memandang perlu mengadakan UM, mengingat pengalaman tahun sebelumnya karena khawatir tidak mendapatkan 'input' calon mahasiswa terbaik. Berbagai PT di luar dan dalam negeri secara kreatif berupaya menjaring lulusan SMA atau bahkan siswa kelas 3 untuk masuk di PTN/PTS mereka.

Juga berdasar pengamatannya, siswa SMA rangking 1 banyak yang diambil universitas di luar negeri. Dicontohkan, di SMA Karangturi Semarang setiap tahun 20 sampai 30 siswa diambil universitas LN. Lulusan SMA terbaik lainnya kemudian diambil UGM, ITB, IPB, UI. Bahkan Unpad dan Unnes juga mengadakan ujian masuk yang semuanya mendahului pelaksanaan SPMB.

Jika Undip tidak mengadakan UM, mungkin hanya mendapatkan calon mahasiswa saringan ketiga, sisa dari dua seleksi sebelumnya yang dilakukan universitas LN dan berbagai ujian masuk PTN lain. Ujian Mandiri (UM) 2007 ini untuk menyaring lulusan SMA/siswa kelas 3 terbaik yang dilaksanakan sebelum SPMB. Namun demikian seleksi SPMB dan PSSB (Program Seleksi Siswa Berpotensi) masih tetap dipertahankan.

Tentang apa yang terjadi pada putra Bapak, hal ini bersifat kasusistis. Dia rangking 1 dan karenanya diterima di University of British Columbia. Jika kemudian diterima di PTN melalui SPMB, dia tentu masuk kategori lulusan rangking 1 dan terbaik hingga tidak masuk dalam paparan yang dikemukakan rektor tersebut.

Namun kami terima kasih atas perhatian Bapak termasuk kritik dan penilaian bahwa Undip masih di bawah UI dan ITB. Semoga melecut segenap sivitas akademika Undip untuk lebih termotivasi. Perlu diketahui, Undip, UGM, UI dan ITB, keempatnya masuk dalam rangking 520 perguruan tinggi terbaik di dunia versi sebuah media ternama di Inggris.

Kepala Humas Undip

Doktor Adi Nugroho

***

Bangsaku Menyebalkan

Membaca laporan harian ini beberapa waktu lalu tentang SBY yang tidak pernah meluangkan waktu untuk beraudiensi dengan organisasi guru (PGRI), rasanya memang suatu hal yang menyebalkan. Lebih ironis lagi pada waktu yang relatif sama Ibu Negara dengan enjoy-nya meluangkan waktu untuk bertemu dengan orang utan asal Thailand.

Sebuah tontonan yang menarik untuk diperbincangkan pada aras kebangsaan. Di mana derajat jutaan guru lebih rendah dibanding tiga ekor orang utan. Pemimpin bangsa ini seakan lebih doyan yang remeh-temeh dalam membangun citra, daripada memikirkan hal yang lebih urgen untuk kemajuan bangsa.

Karenanya wajar kalau mereka lebih memanusiakan orang utan daripada memanusiakan guru. Sejarah organisasi guru memang selalu bernasib malang-megung. Walau wacana memanusiakan guru adalah substansi emas untuk ditawarkan saat kampanye pemilu berlangsung, namun kenyataannya kemudian ditinggalkan begitu saja saat kekuasaan telah diraih.

Sampai kini paradigma pemerintah dalam memaknai organisasi guru tidak ubahnya seperti era kolonial Belanda. Organisasi guru hanya untuk melengkapi administrasi negara, bukan sebagai wadah mengusung ke depan. Hal ini dapat dilihat dengan hadirnya UUGD yang sampai saat ini masih mangkrak di awang-awang.

Hal yang sama, amanat konstutusi UUD 45 tentang anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN/APBD juga belum terealisasikan. Sebagai organisasi guru tidak salah kalau setiap detik selalu menyuarakan hak guru. Namun kenyataannya organisasi ini juga terlihat mandul dalam menyuarakan pendidikan dan hak guru.

Lihat kasus dipecatnya guru Nurlela Desember 2004 dalam menghadapi kasus tukar guling (ruislag) dengan alasan otonomi daerah. Organisasi terbesar ini seakan tiarap dan tidak memiliki nyali seperti saat menyuarakan hak untuk menjadi CPNS.

Bahkan dipandang hanya sebagai alat perpanjangan status quo, corong politik pemerintah, alat pemantau gerak-gerik guru dan cenderung mengusung paradigma prakmatis untuk tunduk dan patuh pada hegemoni penguasa. Ada dua hal yang perlu diubah dalam mengusung pendidikan yang mencerdaskan dan mencerahkan.

Pertama, mengubah cara pandang pemerintah/penguasa bahwa organisasi guru bukan gerbong tumpangan politik yang hanya cukup diperhatikan secara administratifnya saja. Kedua, organisasi guru baik PGRI, FGII dan lainnya agar kembali pada fitrohnya yaitu sebagai organisasi yang mengusung wacana dan keteladanan.

Dengan demikian komitmen kebangsaan untuk memanusiakan guru dan memanusiakan masa depan Indonesia tidak lagi dipertanyakan. Bukan sebaliknya malah menjadi bangsa yang menyabalkan di mata generasi muda.

Suhadi

Mhs Fak Ilmu Sosial Unnes

***

Belum Bebas Banjir

Sebanyak 70% dana pemeliharaan hanya untuk dua sungai (Kali Banger dan Kali Semarang) dan mulai Oktober Kali Banger akan dikeruk dengan biaya Rp.54 miliar. Demikian harian ini memberitakan 10 Juni 2004 tapi walau begitu masih belum mampu membebaskan Semarang dari ancaman banjir.

Karenanya tidak heran kalau sebagian tokoh masyarakat hampir tidak percaya Semarang mendapat Adipura di tengah hiruk pikuk pilpres yang mungkin orang sudah lupa makanan apa itu adipura. Luar biasa, di tengah kegamangan menghadapi banjir, kita masih mampu menggulirkan anggaran demikian besar yang harus dibayar dari pajak pula.

Sebagai orang yang tinggal di kota ini sejak tahun 1965 saya ingin menyampaikan beberapa pangalaman sbb: Awal Pelita dulu Pak Djamin Ch, bos Tanah Mas Group mendapatkan pujian para ahli perumahan dengan konsep membeli gunung tandus murah untuk menguruk rawa di pantai.

Jadilah rumah hunian murah di kota. Dengan datangnya banjir di berbagai kawasan di kota, kini kita tahu, ternyata konsep ini mencelakakan. Juga awal jabatan Pak Kawi selaku wali kota mengadakan gebrakan menormalisasi alur sungai Banjirkanal Timur, tepatnya dari jembatan Majapahit ke hilir.

Begitu mencapai beberapa puluh meter tidak diteruskan. Kabarnya patah arang karena begitu hujan datang bantaran yang telah dikeruk, pulih kembali akibat tingkat sedimentasi sangat tinggi.

Langkah Pak Wali itu menurut hemat saya perlu dilanjutkan, karena salah satu fungsi Kali Banger dan Kali Semarang untuk menampung limbah rumah tangga dari kawasan sekitarnya.

Dengan dibantu penggelontoran air dari bendungan Kali Garang sehingga melancarkan aliran limbahnya. Jadi fungsi kedua sungai tersebut tidak untuk mengatasi banjir tetapi sekadar menampung limbah kota. Tentu saja syaratnya, pengelolaan sampah harus baik, tata riolering tepat di seluruh jalan raya/kampung, maupun kebiasaan hidup dengan lingkungan sehat harus benar-benar ditegakkan.

Namun dengan datangnya rob, sempurnalah masalahnya. Seingat saya, baik Kali Semarang maupun Kali Banger sudah sering dinormalisasi (dikeruk dan dilebarkan) melalui proyek SSUDP dan PLP. Kalau dikaitkan dengan fungsinya, saya kira keadaan sekara sudah cukup baik.

Maka tidak bijaksana bila pembuangan air polder Tawang justru diarahhan ke K Semarang sehingga air hanya akan berputar. Semua pompa air untuk mengatasi banjir dan rob harus diarahkan dan dibuang ke Banjirkanal Barat atau Banjirkanal Timur, karena di samping peil dasar sungainya lebih rendah hingga airnya tidak cepat kembali.

Masalahnya, daya tampung kali terbatas akibat pendangkalan dan penyempitan alur akibat sedimentasi bertahun-tahun tanpa penanganan berarti.

Untuk itu perlu normalisasi Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur sebagai kebutuhan mendesak. Normalisasi meliputi, penataan bantaran, pendalaman peil dasar sungai dan penataan/pengaman tanggul dari bangunan.

Semua kebutuhan urukan tanah untuk pembangunan, harus diarahkan dari tanah bongkaran bantaran sungai, bukan dengan pengeprasan bukit. Hal ini sudah ditetapkan pada proyek saluran Pucang Gading.

Biaya normalisasi kedua sungai tersebut memang sangat besar, namun bisa diatasi dengan pembiayaan secara bersama (mutual fund) baik pemkot, pemprov maupun pusat atau mungkin peran swasta.

Drs H Marno

Jl Gemah Jaya I/4, Semarang

***

Hadiah Tora Bika

Baru-baru ini saya membeli tiga bungkus Tora Bika Duo+Susu. Tapi lucunya setelah dibuka semua, yang dua tidak ada tulisan, yang satu ada logo hologram dengan batas penukaran 31 Desember 2006. Di bagian luar tertulis Januari 2008 di sebelahnya batas penukaran tersebut.

Setelah saya bawa ke agen penukaran ya ditolak. Agen berpedoman pada tulisan di hologram yang lingkaran merah kecil 31 Desember 2006. Jelas ini kan merugikan konsumen. Semoga perusahaan ini lebih teliti menulis batas penukaran, agar konsumen selalu minum kopinya .

Hadi Suwito

Mangunsari Rt 1/Rw 3 Gunungpati, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA