logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Mei 2007 NASIONAL
Line

Dua Tahun Lagi Semarang Semacet Jakarta

SEMARANG - Bila tak segera dilakukan pembatasan kendaraan pribadi dan perbaikan angkutan umum, dalam dua tahun ke depan Kota Semarang diprediksi semacet Jakarta. Arus di hampir semua ruas jalan utama tidak stabil akibat jumlah kendaraan yang terus naik. Antara tahun 2005-2007, sepeda motor meningkat 13.693 unit, sedangkan mobil jenis sedan dan jip sekitar 4.943 unit atau 181 persen.

Hasil penelitian Laboratorium Transportasi Fakultas Teknik Sipil Unika Soegijopranata menggambarkan, kenaikan sepeda motor di Semarang wilayah timur cukup mencengangkan. Bila September 2005 hanya ada 7.454 yang beroperasi, Maret 2007 sudah meningkat 96,98% atau 7.229, sehingga menjadi 14.683 unit.

''Bandingkan dengan sepeda yang turun cukup besar. September 2005 ada 2.121, bulan kemarin cuma tinggal 723 unit sepeda. Turunnya 1.398 unit sepeda itu cukup menarik. Kebanyakan pengayuh sepeda di Semarang wilayah timur adalah buruh, dan sekarang mereka mulai memilih sepeda motor. Apalagi, kredit saat ini relatif murah, sementara tarif angkot mahal,'' ujar Djoko Setijowarno, peneliti dari Laboratorium Unika, kemarin.

Dia mengatakan, Pemkot mestinya waspada terhadap kecenderungan tersebut. Akibat jumlah pengguna kendaraan pribadi yang tidak terkendali itu, beberapa ruas jalan makin sesak.

Dia menyebutkan jalan protokol embrio macet yang diperkirakan bisa separah Jl Kaligawe, yakni bundaran Kalibanteng, sekitar Kaligarang, Jl Citarum, dan persimpangan Jatingaleh depan Kantor PLN.

''Kebanyakan potensi macet ada di persimpangan,'' ujar dia.

Pengamatan Suara Merdeka, kemacetan jalan utama terjadi pada pagi dan sore hari. Siang kemarin misalnya, arus yang merayap di sepanjang Jl Dr Wahidin ke arah Jatingaleh dan Banyumanik sangat padat. Antrean motor, mobil, dan bus memanjang 1 kilometer di tanjakan Jatingaleh akibat sebuah bus mogok. Kepadatan lalu lintas di kawasan itu bukan hal baru sehingga Pemkot tahun lalu berencana membuat underpass (terowongan) sebelum tanjakan Gombel untuk memecah kemacetan. (H12, H9-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA