| Selasa, 01 Mei 2007 | NASIONAL |
Tari Gambyong 1.000 Penari (1)Tak Semua Sekolah Izinkan SiswanyaJalan Mayor Kusmanto dan halaman gedung bekas Brigir 6 Surakarta tidak seperti biasanya yang ramai didatangi orang. Ya, Minggu lalu, kawasan tersebut mencatat peristiwa penting yakni pergelaran kesenian tradisional Tari Gambyong 1000 Penari. Kelangkaan seperti itu barangkali yang membuat kegiatan tersebut tercatat di museum rekor Indonesia (Muri). Berikut laporannya. MESKI didukung banyak pihak, ''perjalanan'' untuk menggolkan kegiatan Tari Gambyong 1.000 Penari ternyata tidak selancar yang dibayangkan. Adalah Heru ''Mataya'' Prasetyo selaku pelaku pelestarian warisan budaya di Solo yang mencetuskan ide kegiatan tersebut. Heru menyebut prakarsanya itu semata-mata untuk merayakan Hari Tari Internasional 2007 yang dititikberatkan pada ajakan untuk memasyarakatkan tari di kalangan anak-anak. Dia kemudian mengajak kalangan guru tari dan pemerhati kesenian tradisional untuk bersama-sama merayakan hari khusus tersebut dengan sebuah kegiatan akbar. Ajakan tersebut ternyata mendapat sambutan baik. Paguyuban Guru Tari Indonesia (Pagutri) Solo bersedia diajak bekerja sama untuk mewujudkan gagasan tersebut. ''Hanya sekitar satu bulan persiapannya, sejak ajakan itu dilontarkan Mas Heru kepada Pagutri,'' ujar Ketua Pelaksana Gambyong 1.000 penari, Maya Heni Kuswardani SSen. Pertemuan dengan anggota Pagutri pun dilakukan. Ternyata ajakan itu juga disepakati para guru tari. ''Memang tidak semua guru tari terlibat karena sekolah tidak memberikan dukungan. Dari 70 anggota, yang mengikuti rapat hanya 20 orang. Untung mereka bisa mewakili lima kecamatan.'' Tak Mudah Meskipun sudah diwadahi dalam paguyuban, bukan berarti para guru itu dengan mudah mengajak murid-murid yang dididik di sekolahnya. Demikian pula SD tempat guru itu mengajar, belum tentu memberikan izin muridnya terlibat. Seperti diungkapkan Retno Utami, guru tari SDN Sumber IV yang menjadi koordinator lapangan (korlap) Kecamatan Banjarsari. Untuk mendukung kegiatan tersebut dia mengajak guru tari di wilayahnya. ''Banjarsari menyertakan 249 siswa dari sekitar 30 SD. Di luar yang dikoordinasi Pagutri, ada penari lain yang datang sendiri.'' Ada SD yang memberikan dukungan dengan menyertakan siswanya ikut menari. Namun dukungan itu memang terbatas hanya untuk menyertakan siswanya. ''Tapi bagi kami, siswa bisa diberi izin bisa ikut saja sudah terima kasih. Syukur ada bantuan dana. Yang juga menggembirakan dukungan dari orang tua murid.'' Rini Kristinawati, guru tari SDN Yosodipura yang juga korlap Kecamatan Laweyang mengatakan, meski penari yang diajak hanya 172 orang terdiri atas murid SD dan guru tari, ada juga siswa SMA dan SMK yang ikut bergabung. ''Namun ada juga kepala sekolah yang masih menanyakan manfaat kegiatan itu. Padahal kegiatan seperti itu juga merupakan sarana pendidikan bagi siswa, apalagi anak-anak sangat antusias,'' katanya. (Sri Wahjoedi, Wisnu Kisawa-46) |