logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Mei 2007 NASIONAL
Line

Perjuangan Transmigran Meraih Harapan (1)

Bunga Lili di Bumi Katulistiwa

Mewujudkan mimpi untuk menjadi transmigran yang berhasil di Pontianak, Kalimantan Barat bukan pekerjaan mudah. Ada yang gagal dan menyerah. Namun banyak pula yang terus berjuang dan bertahan, hingga meraih keberhasilan. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka, Purwoko Adi Seno tentang kehidupan para transmigran di Bumi Katulistiwa itu.

''HANYA dengan bukti keberhasilan, jatidiri kita akan diakui,'' kata Andrie Wongso, seorang motivator ternama. Dalam audio book ke-3 bertajuk Wisdom and Success Classical Motivation Stories, dia berkisah tentang perjuangan tunas bunga lili, untuk memenuhi kewajibannya berkembang dan mekar.

Dengan usaha yang keras, bunga lili itu akhirnya mekar. Bahkan dia berkembang, hingga seluruh kaki bukit itu bagaikan diselimuti permadani bunga lili. Orang berdatangan, hingga tempat itu dinamai Tebing Bunga Lili.

Kisah mirip cerita bunga lili itu juga dialami ribuan transmigran asal Jawa Tengah di Kalimantan Barat. Mereka berjuang untuk mengubah nasib. Ada beberapa yang tak tahan dan pulang ke daerah asal. Namun banyak pula yang akhirnya meraih keberhasilan.

Salah satu transmigran itu adalah Rasdi Sandirejo (57), warga asal Desa Kanding Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Rasdi sekeluarga mengikuti program transmigrasi tahun 1974, bersama 15 KK lain dari Banyumas, 20 KK asal Boyolali, dan 14 kk dari Banjarnegara.

Setiba di lokasi mereka harus berhadapan dengan alam yang tak ramah. Hutan lebat harus dibuka, dan lahan itu kemudian digunakan sebagai kebun dan membangun rumah gubug beratap blarak.

Pekerjaan itu juga tak mudah. Lahan gambut yang mudah ambles, menyebabkan rumah-rumah harus dibangun di atas tonggak-tonggak kayu. Rumah semacam itu, hingga kini masih banyak terdapat di wilayah itu.

Seperti para transmigran lain, Rasdi juga bekerja di pabrik kayu. Dengan berbekal kapak dan gergaji, mereka menebangi pohon dan hasilnya ditarik dengan tenaga manusia. Selama bekerja, sudah tak terhitung mereka harus bertemu beruang, babi, atau binatang buas lainnya.

Bagi orang-orang itu, hiburan juga merupakan sesuatu yang langka. Kalau pun ada, hanya pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan atas bantuan pejabat.

Pada masa-masa awal, tak jarang dia kesulitan untuk mendapat makanan. Pemerintah memang membantu beras sebanyak 37,5 kg per KK per bulan, beserta ikan asin dan lauk lainnya.

Namun untuk mengambil bantuan itu, seringkali mereka harus menempuh perjalanan belasan kilometer. Bahkan pada masa awal, tatkala bantuan belum bisa diperoleh, Rasdi sekeluarga nyaris tak bisa makan.

Berusaha Bertahan

Namun beragam kesulitan itu, nampaknya membuat para transmigran itu memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Tak jarang dia diberi ketela pohon oleh transmigran asal Jatim. ''Memang saya sempat berpikiran untuk pulang,'' kata dia.

Namun jarak yang sangat jauh dan tak adanya biaya transportasi ke Jawa, membuat dia berusaha bertahan. Selain bekerja di pabrik kayu, dia juga memanfaatkan lahan pemberian pemerintah untuk berkebun sayur.

Proses terus berjalan, dan perlahan-lahan kehidupannya membaik. Pada tahun 1985, untuk pertama kalinya Rasdi sekeluarga pulang ke Jateng.

Namun beberapa pekan kemudian, dia kembali lagi ke Borneo sambil membawa bibit Mlinjo dan Cengkeh.

Dia berharap tanaman itu bisa berkembang dan hasilnya dijual. Namun nasib berkata lain. Kedua jenis tanaman itu ternyata tak cocok ditanam di lahan gambut yang cenderung asam.

Kegagalan itu rupanya tidak membuatnya patah semangat. Dia terus bekerja di pabrik kayu, dan dari pekerjaan itu pula dia bisa membiayai sekolah anak-anaknya hingga lulus SMA.

Kini, para penerusnya itu telah bekerja dan mendapat penghasilan sendiri. Rasdi yang telah lelah menjadi buruh pabrik kayu, akhirnya memilih untuk merawat kebun sayurnya. Sebab dari tanaman itulah, dia bisa bertahan hidup. Kini, dia juga mendapat kepercayaan dari warga untuk menikmati hidup sebagai kepala dusun di daerah itu. (60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA