| Selasa, 01 Mei 2007 | NASIONAL |
Cagub Perlu Siapkan ''Amunisi'' LebihSEMARANG- Calon gubernur yang akan bertarung dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2008 diminta menyiapkan tenaga dan amunisi tambahan. Sebab, diperkirakan Pilgub akan berlangsung dua putaran, sehingga akan menambah biaya. Asumsi itu didasarkan pada distribusi kursi di DPRD Jateng dan perolehan suara pada Pemilu 2004 yang menentukan bahwa jumlah maksimal pasangan calon yang bisa diajukan oleh parpol maupun gabungan parpol maksimal lima pasang. "Seandainya pada putaran pertama setiap pasangan mendapatkan 20 % suara saja, maka tidak ada pemenang, sehingga harus ada putaran kedua," tutur Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng Fitriyah di sela-sela diskusi Meningkatkan Peran Perempuan dalam Konstruksi Politik di Patra Semarang Convention Hotel, Senin (30/4). Pembicara lain dalam acara Ketua Kaukus Politik Perempuan Indonesia (KPPI) Jateng Munawaroh N, pengamat politik Undip Drs Teguh Yuwono MPolAdmin, dan dari ICMI Jateng. Sesuai aturan yang berlaku, jelas dia, cagub dinyatakan memenangi pemilihan jika mendapatkan dukungan minimal 25 % dari jumlah suara yang masuk. Jika kurang dari itu, maka harus dilanjutkan putaran kedua. Pasangan cagub yang berada pada urutan pertama dan kedua berhak maju pada putaran selanjutnya. Sementara, pelaksanaan putaran kedua maksimal dilakukan 60 hari sesudah habis penetapan dari KPUD dan tidak mendapatkan gugatan dari pihak lain. ''Jika ternyata ada gugatan, maka dilaksanakan maksimal 60 hari setelah hasil keputusan MA diterima KPU,'' tambah dia. Pemilih Membengkak Ia juga menjelaskan bahwa tahapan Pilgub Jateng akan dimulai pada 23 Maret 2008. Namun saat ini Pemprov Jateng lewat Biro Pemerintahan dan Kantor Catatan Sipil di tiap-tiap kabupaten/kota telah melakukan pemutakhiran daftar pemilih. Proses pemutakhiran direncanakan selesai pada 10 Oktober 2007 dan akan diserahkan ke KPU pada Desember. Munawaroh menjelaskan jumlah pemilih perempuan relatif lebih banyak dibandingkan pemilih laki-laki. Namun kemandirian kaum hawa ini belum muncul akibat terlalu lama ''dijajah'' budaya patriaki, sehingga banyak yang belum bisa mengambil keputusan sendiri. ''Apalagi keputusan yang terkait dengan Pemilu dan Pilkada, bahkan untuk memilih menu keluarga pun masih dipengaruhi oleh suami,'' tuturnya. Sebenarnya, menurut dia, pemilih perempuan bisa menjadi penentu dalam Pilgub. Sebab, mereka cenderung lebih setia datang ke TPS. ''Ini dikarenakan kaum wanita tidak banyak memikirkan akan dapat apa kalau datang ke TPS,'' kata mantan anggota DPRD Jateng itu.(H7,G17-60) |