| Selasa, 01 Mei 2007 | NASIONAL |
Pengungkapan Pencurian di Bulog Bawen (1)Polisi pun Nyamar Jadi Penjual Celana
Jajaran Polres Semarang membongkar aksi pencurian beras raskin di Gudang Bulog Bawen, Minggu (29/4). Bagaimana modus pencurian yang diduga berlangsung selama enam tahun terakhir ini, dan sudah menjadi budaya? Bagaimana pula usaha polisi meringkus sejumlah tersangka. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Rony Yuwono. SAAT warga miskin berharap beras murah subsidi pemerintah, justru beberapa oknum Bulog mencari kesempatan memperkaya diri. Data Pemkab Semarang, menyebutkan warga miskin di kabupaten tersebut dan Kota Salatiga mendapat alokasi bantuan 700 ton/bulan. Dengan cucuran keringat, mereka membeli beras seharga Rp 1.000/kg. Tapi siapa yang menduga jika distribusi beras tersebut mengalami penyimpangan. Meski hanya setengah kilogram yang diambil dari setiap sak isi 20 kg, hal ini menyebabkan kerugian bagi warga miskin. Warga yang seharusnya mendapat jatah 20 kg hanya menerima 19,5 kg/sak. Pembongkaran kasus pencurian beras ini tergolong hebat. Karena, sistem distribusi beras yang dilakukan setiap bulan ini dapat diketahui penyimpangannya. Dua puluh tenaga kasar dikerahkan dalam aksi ini. Sejumlah karyawan menjadi dalang aliran beras dan dana hasil curian ini. Menurut sumber Suara Merdeka, aksi ini sudah menjadi budaya atau masuk dalam sistem jaringan Bulog. Terungkapnya kegiatan melawan hukum ini menjadi pelajaran dan pengetahuan tersendiri bagi Perum tersebut. ''Beras tersebut dijual ke kontraktor atau rekanan. Selama beberapa tahun ini mungkin sudah miliaran rupiah yang diterima Bulog,'' ungkap seorang anggota reserse yang enggan disebut namanya. Proses pembongkaran kasus ini tak luput dari kejelian polisi. Sejumlah anggota Resmob menyamar sebagai sopir truk yang menanyakan stok dan distribusi beras. Yang tak kalah serunya, Kasat Reskrim AKP Agus Purwanto SH menyamar sebagai penjual celana jins. ''Butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelidiki kasus ini. Sepuluh hari terakhir kami tingkatkan penyelidikan hingga mereka tertangkap tangan pada Minggu (29/4) pukul 10.00,'' jelas Agus Purwanto. Dikira Sopir Ia mengatakan, rela membawa ''dagangannya'' selama dua kali keluar masuk gudang tersebut. Untuk menyempurnakan samarannya, Kasat juga harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer keluar dari gudang Bulog. Setelah memastikan ada aktivitas ilegal di dalam gudang, dengan segenap kekuatan Resmob, dia mengepung lokasi dan meminta para tersangka menyerah. ''Kami menangkap tangan aktivitas mereka saat mengambil beras dari karung. Kami juga memotret kegiatan ilegal itu. Sebab anggota saya yang mengambil gambar dikira sopir truk,'' papar Agus Purwanto, yang belum lama ini juga berhasil membongkar sindikat jual beli bayi di Ambarawa. Kasiyani (30), buruh angkut asal Lemahireng, Bawen, mengaku sempat membeli dua celana yang dibawa Agus Purwanto. ''Saya tanya, harganya berapa? Lalu dijawab, Rp 15 ribu. Kemudian saya tawar Rp 15 ribu dapat dua dan dikasih. Saya nggak tahu kalau itu Pak Komandan (Kasat Reskrim-Red),'' terang Kasiyani yang disambut gelak tawa reserse dan buruh angkut beras lainnya yang wajib lapor ke Polres. Kasiyani mengaku, dia dan teman-teman hanya disuruh ndodos beras tersebut untuk dikumpulkan dan dijual kembali. Ia mengatakan, selama empat tahun bekerja di gudang tersebut, selama waktu itu pula mengambil setiap sak beras sebanyak dua gelas plastik.(60) | ||||