logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Mei 2007 SEMARANG
Line

Semarang Ikut Deklarasi Kyoto

SEMARANG - Wali Kota Sukawi Sutarip ikut menandatangani ''Kyoto Declaration'' di Kyoto, Jepang, akhir April lalu. Itu merupakan pernyataan bersama para Wali Kota se-Asia, terkait dengan persoalan penanganan transportasi berwawasan lingkungan. Acara di Kyoto itu merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di Nagoya, Jepang (2003) dan Manila, Filipina (2004).Demikian disampaikan YMT Kepala Kantor Infokom Kota Achyani SSos, kemarin. Dikatakannya, pertemuan tersebut dihadiri perwakilan 22 kota dari 12 negara di Asia. Selain Semarang, Indonesia diwakili oleh Kota Surabaya dan Yogyakarta.

''Isi deklarasi mewujudkan transportasi berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang terintegrasi tersebut, sebagian programnya telah dilaksanakan Pemkot,'' kata Achyani.

Dia menjelaskan, deklarasi itu antara lain menyebut tentang penyediaan fasilitas pejalan kaki, pembangunan rumah susun di pusat kota dan zona industri, pemantauan kualitas udara, uji emisi, serta bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Pertamina mengenalkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.

Wali Kota didampingi pakar lingkungan Undip Prof Sudharto P Hadi MES PhD. Mereka datang atas undangan United Nations Centre for Regional Development (UNCRD).

Pertemuan itu diisi presentasi para peserta mengenai prakarsa dan capaian tentang transportasi berkelanjutan yang berwawasan lingkungan di wilayah masing-masing. Sesudah paparan, dilanjutkan dengan diskusi yang berisi intervensi dari para ahli tentang komentar dan pandangan atas presentasi peserta. ''Pak Wali mendapat kesempatan pada sesi pertama, urutan kedua setelah Wali Kota Korat, Thailand,'' terang Achyani.

Dalam presentasinya, Wali Kota menjelaskan mengenai kondisi transportasi di Kota Semarang, prakarsa yang sudah dilakukan dan program ke depan dalam mendukung terciptanya transportasi yang berwawasan lingkungan.

Achyani menjelaskan, delegasi Indonesia memasukkan tiga poin penting, meliputi aspek gas rumah kaca sebagai dampak dari transportasi, memperhatikan dampak dari penggunaan sepeda motor yang jumlahnya makin banyak di hampir semua kota di Asia, serta ketersediaan pendanaan environmentally sustainable transport (EST) yang berkelanjutan. (H9,H12-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA