| Selasa, 01 Mei 2007 | BUDAYA |
Garis Getir Kepudaran TradisiHERRY Muncang Novianto menggelar pameran ''Muncang Pameran Drawing'' di Galeri Seni Rupa TBJT, Surakarta, Jumat-Senin (27-30/4). Karya-karya Muncang menguarkan kegetiran yang terpicu oleh keprihitanan atas kepudaran seni tradisi. Dalam ''The Gong Dancer's'', misalnya, dia memunculkan sosok perempuan terlilit tali di sekujur tubuh. Garis-garis Muncang menegaskan betapa perempuan berbusana seperti penari itu berkesan meronta. Ya, itulah satu dari sekian banyak karya perupa alumnus SMSR dan kini melanjutkan studi di ISI Surakarta itu. Seorang penari yang tak lagi bisa bergerak bebas adalah ungkapan empati tentang kepudaran tradisi. Dalam katalog pameran, Muncang menyertakan tulisan mengenai ''The Gong Dancer's'' bahwa penari tradisi terkadang terjebak dunia hiburan. Itulah yang kemudian bagai membutakan rasa dan jiwa mereka dalam berkarya. ''Dalam dasawarsa ke depan, itu bisa jadi masalah,'' katanya. Dengan objek berbeda, pemaknaan tentang kegelisahan pun mengemuka. Kegelisahan dan kegetiran itu bisa pula terbaca dari Dewa Ruci, Harya Penangsang, Jatayu, Kalabintalu, Reog, Memesis, Hanoman, Kumbokarno, Refleksi, dan Kanjeng Ratu. Muncang bagai mendobrak konvensi ketika bentuk yang dia sajikan bisa saja tak sama dengan wujud yang ada dalam benak. Terasa ada pengembangan tafsir, misalnya, melihat sosok Hanoman atau Kumbokarno yang berbeda. ''Garis, bentuk, arsir, dan volume adalah faktor penting dalam penciptaan karya saya,'' ujar Muncang. (Wisnu Kisawa-53) |