logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Mei 2007 BUDAYA
Line

Di Tepi Kali Mereka Berpuisi

PENYAIR baca sajak di pinggir kali? Ya, Edhie Prayitno Ige, Slamet Priyatin, dan Achiar M Permana berpuisi di pinggir Kali Garang, di halaman Omahpring Bowo Kajangan, Kampung Talangsari IV, Gajahmungkur, Semarang.

Di bawah pepohonan, ditingkahi gemeresak air kali, dalam samar cahaya lampu teplok, para penyair yang sehari-hari adalah jurnalis itu membacakan puisi mereka.

Achiar pun mendenyarkan sajak "Rotasi": Barangkali ini lingkaran iblis/yang paling rajin menggambar kunang-kunang di seputaran kepala membikin muntah/kembali panggang roti sarapan pagi//Persis katamu/seperti zombie tanpa kepala setiap hari makan-berak-kerja.... Sajak lain yang dia bacakan adalah "Cakrawala 2", "Stela Hijau Toska", dan "Peluru".

Edhie menghadirkan puisi yang berisi sindiran. Meski pembacaannya kurang ekspresif, dia mampu menghangatkan suasana melalui olahan kalimat demi kalimat. Dalam "Nasehat Koruptor tentang Perempuan", misalnya, dia menyatakan "Soal surga dan neraka/janganlah terlalu dipikirkan/sebab itu urusan Tuhan".

Slamet, yang dibesarkan di Kampung Boomlama, Semarang Utara, mengutarakan tentang rob dan betapa sulit para nelayan memperoleh pinjaman atau bahan bakar. Pembacaan puisi di tepian kali, di kampung padat penduduk, itu adalah upaya untuk mendekatkan puisi pada wong cilik. (Dicky Priyanto-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA