logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Mei 2007 BUDAYA
Line

Kemaknyusan Teater

  • Oleh Achiar M Permana

BURUBABIBARURUSARUBAH, burubabibarurusarubah." Berkali ulang Uly Atria, siswi kelas XI SMA 2, mengucapkan bunyi itu. Berkali ulang pula dia gagal melakukan secara sempurna. Lidahnya seperti terpuntir ketika harus mengucapkan dalam tempo cepat.

Itu pula yang dialami puluhan kawan Uly saat mencicip keasyikan latihan dasar teater bersama Maston Lingkar di ruang multimedia SMA 2, pekan lalu. Sebenarnya dedengkot Teater Lingkar itu diundang bukan untuk latihan dasar, melainkan membedah lakon Malam Jahannam yang dimainkan teater legendaris Semarang itu di Auditorium RRI, beberapa waktu lalu.

Bukan kebetulan para siswa yang mengikuti dialog telah melihat pementasan lakon karya Motinggo Busye itu. Selain Maston yang berperan sebagai Mat Kontan, turut serta Sonya yang berperan sebagai Paijah, Eddy Morphin (pemimpin proyek), serta ilustrator musik. Rencananya, Sabtu (5/5), ganti St Sukirno yang menyutradarai Malam Jahannam menyambangi para siswa.

Antusiasme para siswa terlihat ketika menanyakan berbagai hal tentang pementasan itu. Mulai dari persoalan pengadeganan, akhir pementasan, hingga berbagai hal yang berkait dengan pribadi pemain. Maston dan kawan-kawan menjawab semua pertanyaan itu dengan paparan gamblang.

Teguh Wibowo, guru bahasa Indonesia, meminta Maston memberikan semacam klinik pelatihan teater. Jadi, paling tidak siswa bisa mencicip kemaknyusan latihan dasar teater yang biasanya dilakoni anggota Lingkar.

"Dengan merasakan keasyikan latihan teater, siapa tahu mereka tertarik terjun ke teater," kata Teguh, yang ketika kuliah adalah salah seorang dedengkot Teater SS IKIP Semarang (kini Unnes).

Lucu

Maston tak berkeberatan. Dia pun segera turun ke lantai untuk melatih teater. Maka, terjadilah adegan-adegan lucu, semacam Uly dan kawan-kawan yang belepotan mengucap burubabibarurusarubah. Sesekali para siswa terkikik manakala kawannya keliru mengucap "Buru... babi... rubu... bara..." atau bahkan sengaja mengelirukan "Buru... babu... baru... raba...".

"Ini latihan artikulasi supaya kita bisa mengucap setiap kata lebih jelas. Latihan semacam ini menuntut konsentrasi penuh," ujar Maston di sesela latihan.

Sebenarnya jika diucapkan dengan kecepatan rendah, pengucapan bunyi itu tak terlampau merepotkan. Ya, ya, dengan tempo lambat, bunyi-bunyi itu menjadi sesuatu yang jelas terdengar, bahkan bisa dipahami. "Buru... babi... baru... rusa... rubah."

Selain artikulasi, para siswa juga diajak melatih konsentrasi, olah tubuh, hingga permainan komposisi. Namanya juga mencicip, beberapa latihan itu mereka lakukan selintas kilas. "Versi lengkapnya, silakan datang ke Lingkar," seloroh Maston. (53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA