logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Mei 2007 BANYUMAS
Line

Mengunjungi Museum Soegarda Poebakawatja

Dari Masjid Kuno, Menhir hingga Prasasti

  • Oleh: Arief Nugroho

KABUPATEN Purbalingga sebenarnya mempunyai banyak situs purbakala. Namun kekayaan sejarah itu belum mendapat perhatian masyarakat luas, termasuk kalangan pendidikan. Karena itulah MAN Purbalingga mengajak 210 siswa mengunjungi beberapa situs tersebut.

Mereka didampingi Suritno Hardin, pemelihara situs di Bobotsari serta Adi Purwanto, pengelola Museum Soegarda Poerbakawatja. Situs yang dikunjungi adalah makam dan masjid Syech Machdum Kusen di Desa Rajawana, makam dan masjid Syech Machdum Cahyana di Desa Grantung, menhir di Dagan dan Prasasti Batu Tulis di Cipaku.

''Sebenarnya Purbalingga mempunyai banyak situs purbakala yang sudah dikenal dunia internasional, tetapi banyak masyarakat Purbalingga yang belum mengetahuinya. Contohnya situs di Desa Ponjen dan Limbasari,'' jelas Adi.

Dia menambahkan, di forum-forum ilmiah baik di tingkat regional, nasional maupun internasional kedua situs tersebut sering menjadi bahan diskusi para arkeolog. Sebab, keduanya ada kekhasan benda-benda yang ditemukan ternyata jarang ditemukan di negara lain.

Menurut Linda, guru sejarah, studi lapangan seperti itu merupakan cara agar siswa dapat lebih berinteraksi. Selama ini siswa hanya belajar lewat buku, di perpustakaan dan perangkat audiovisual, sehingga jenuh. Untuk itulah studi lapangan ini sangat membantu, di samping harus tahu juga tentang sejarah.

Masih Antusias

Kegiatan ini mendapat respon yang baik dari siswa. Terbukti sampai dengan akhir acara siswa masih antusias mengikutinya.

''Rasanya sih lelah dan panas. Tetapi menyenangkan karena bisa menambah pengalaman,'' kata Siti, seorang siswa.

Siswa yang lain, Budi merasa kaget dan heran karena ternyata Purbalingga mempunyai peninggalan-peninggalan sejarah yang cukup banyak. Selama ini dia mengira hanya ada situs Prasasti Batu Tulis dan Ardi Lawet di daerahnya. Tetapi, ternyata lebih banyak yang tidak dia tahu.

Keheranan Budi ini memang cukup beralasan karena selama ini tidak pernah diberi pelajaran tersebut baik waktu di SD maupun SMP. Adanya situs-situs lain yang diceritakan Suritno Hardin ,yang juga sebagai pemandu wisata, di sela-sela kunjungan itu merupakan daya tarik tersendiri bagi para siswa. (29)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA