logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 30 April 2007 RAGAM
Line

Cucak Biru, Cantik dan Merdu

BANYAK ragam burung di Indonesia. Namun tidak banyak burung yang memiliki warna bulu indah dan ocehan merdu. Cucak biru termasuk dalam kelompok yang sedikit tersebut.

Warna bulu di bagian punggungnya biru beludru, sedangkan sayapnya hitam legam dengan sedikit dihiasi warna biru. Paruhnya juga hitam. Yang menarik, matanya berwarna merah.

Cucak biru juga memiliki ocehan yang merdu dan variatif. Suara dan nadanya hampir sama dengan cucak hijau. Hanya saja variasi suara cucak hijau lebih komplet.

Namun jika dipelihara sejak kecil, apalagi didekatkan dengan burung-burung berkicau lainnya, cucak biru mampu merekam banyak ocehan.

Burung ini dulu banyak dicari kicau mania. Tetapi karena jarang ada upaya penangkaran, sementara permintaan meningkat, populasi cucak biru di alam bebas kini makin menipis. Termasuk di habitat aslinya, yaitu hutan-hutan primer di Sumatera dan Filipina bagian selatan.

Jika datang ke pasar burung, belum tentu ada pedagang yang menjualnya. Kalau pun ada, harganya sudah melambung tinggi. Inilah dampak negatif dari pemanfaatan satwa tanpa dibarengi kesadaran untuk melestarikannya.

Postur tubuhnya sedikit lebih besar daripada cucak hijau. Namun pakannya sama, yaitu pisang dan voer. Di alam bebas, ia terbiasa hidup secara individual di hutan-hutan yang berisi pepohonan tinggi dan lebat.

Dia juga mencari makanannya di atas pohon, berupa semut, kroto, ulat, dan serangga lainnya. Pada saat musim pancaroba, burung jantan akan mencari calon pasangan, kemudian berkembang biak.

Pemeliharaan di dalam sangkar relatif mudah. Sediakan buah setiap hari, terutama pisang dan pepaya, serta serangga. Gunakanlah sangkar berukuran 40 x 50 cm2. Setiap hari dimandikan dan dijemur. Mudah bukan? (Arief Ismeidi-32)

Temulawak Bisa

Mengusir Wasir

SEJAK dulu hingga sekarang, manusia sering menggunakan tanaman untuk mencegah dan mengobati penyakit. Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan temulawak untuk mengusir wasir.

Wasir adalah pembesaran vena di dalam usus besar (rectum) dan sekitar dubur (anus), yang terkadang disertai pendarahan melalui anus. Ada dua jenis wasir, yakni wasir eksternal dan internal. Wasir eksternal terjadi di luar anus, sedangkan internal terjadi di dalam saluran anus.

Penyakit ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Diduga karena adanya peningkatan tekanan pada vena di sekitar rectum dan anus, terutama akibat mengejan saat buang air besar, melahirkan, mengangkat benda terlalu berat, dan batuk terlalu keras. Jika wasir datang, proses penyembuhannya relatif lama.

Dalam pengobatan tradisional terhadap wasir, ada beberapa tanaman yang bisa digunakan dan sudah dilakukan nenek moyang kita sejak dulu. Ramuan ini bisa dibuat sendiri, dengan bahan 30 gram temulawak, 30 gram daun duduk, 30 gram daun ungu dan 20 gram pule pandak, ditambah empat gelas (800 ml) air matang.

Semua bahan dicuci hingga bersih, kemudian diiris atau dirajang kecil-kecil. Setelah itu semua bahan direbus, sehingga air rebusan tinggal tersisa dua gelas. Saringlah air rebusan itu.

Setelah dingin, air bisa diminum dua kali sehari (pagi dan sore) setelah makan. Setiap minum cukup satu gelas saja. Selamat mencoba. (Usnin Indartono-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA