logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 25 April 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Jangan Buang Bayi

Membaca berita di harian ini beberapa waktu lalu berjudul "Mahasiswi membuang bayi" (entah anak sendiri, entah anak orang lain) di Kota Semarang, menambah maraknya fenomena tindakan tidak terpuji, amoral.

Saya berniat mengurangi hal keji, meski hanya setetes embun di laut, tetapi bagi saya merupakan usaha mencegah daripada tidak sama sekali.

Tentang bayi yang dibuang, dibunuh dan lainnya, khusus untuk mahasiswi yang hamil saya bersedia menerimanya. Termasuk yang hamil ditinggalkan pacar tidak bertanggung jawab. Silakan menemui saya, di Jl Raya 36 Kranggan, Temanggung guna bertukar pikiran/berkonsultasi) tentang penyelesaian status calon bayi.

Saya berpendapat, membunuh paringane Gusti Allah merupakan dosa besar. Si jabang bayi datang ke dunia tidak untuk dibunuh tapi untuk dilestarikan (bukan kemauan dia untuk dilahirkan). Tetapi karena perbuatan orang tuanya yang tidak bertanggung jawab, jadilah bayi-bayi tersebut menjadi korbannya.

Bayangkan, ada ibu yang mengharap bertahun-tahun bisa melahirkan anak tapi di lain pihak ada ibu yang membuang begitu gampang bayi yang dilahirkan.

Jangan berprasangka saya mau dagang bayi, tetapi demi perikemanusiaan dan masa depan si bayi yang tidak punya salah dan dosa. Bagi orang tuanya janganlah dosanya disandang seumur hidup dan mengurangi pertanggungjawaban nanti di akherat.

Tentunya saya ingin mengimbau dan mengharap calon ibu/bapak agar jangan melakukan perbuatan yang tidak terpuji, sehingga menimbulkan korban bagi bayi yang tidak berdosa Perbuatan dosa itu hanya karena lengah akibat bisikan setan.

Bambang Poernomo

Jl Raya 36 Kranggan, Temanggung

Sarasehan Perisai Diri

Pengurus Keluarga Silat Nasional Perisai Diri Jateng/DIJ akan mengadakan "Sarasehan dan Pembinaan Mental Perisai Diri" dengan pembicara Drs Made Suwetja di aula SMAN I Semarang pada tanggal 27 dan 28 April 2007 pukul 19.00. Acara ini akan diikuti siswa SMP, SMA, mahasiswa dan PNS/Polri/TNI yang tergabung dalam perguruan silat tersebut.

Bagi keluarga, calon keluarga dan pelatih yang lama tidak aktif tapi masih berjiwa Perisai Diri dan untuk menjalin silaturahmi bisa menghadiri acara ini. Hubungi Sdr Fajar Firmanto (081325528184); Sdr Maulia M (024-70712262).

Ida Bagus Nyoman TA SIP

Pelatih Nasional, Wakil Pengda

***

Anak dan Pendidikan

Sepuluh ribu lebih anak di bawah 18 tahun terpaksa bekerja. Mereka dipekerjakan di sekitar 16.979 perusahaan yang tersebar di 35 kabupaten/kota di Jateng. Bahkan menurut Agnes Widanti, koordinator Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jateng, UU Ketenagakerjaan memang memperbolehkan mempekerjakan anak dengan sejumlah syarat.

Anak-anak berhak mengecap keceriaan masa bocahnya. Tapi jamak dijumpai di sekitar lampu merah, mereka menjajakan koran, berdagang asongan atau malah menjadi alat untuk meminta-minta. Mereka terpaksa atau bahkan dipaksa menelan asap knalpot di jalanan demi gemerincing receh.

Belum lagi kasus trafficking/jual-beli anak, utamanya mereka yang akhirnya dipekerjakan di tempat hiburan, klub malam dan menjadi PSK di kota besar. Ironi yang selalu berujung pada rupiah. Kita memang dihadap-kan pada persoalan sosial yang menjadi momok negara berkembang yaitu kemiskinan.

Kemiskinan membuat anak harus menjumput rupiah, entah demi kelangsungan sekolah, membantu pemasukan keluarga, hingga menggenjot diri menggapai standar hidup yang lebih layak. Perusahaan pun menerima pekerja anak. Tentu dengan status pendidikan rendah dan pengalaman kerja minim, mereka harus puas dengan upah yang sekadarnya.

Bagaimana pun, harus ada yang peduli dan mengupayakan/memperjuangkan hak anak, terutama dalam bidang pendidikan. Anak-anak ini harus diupayakan untuk dapat mengenyam pendidikan wajib belajar sembilan tahun. Seperti kata Bung Tantowi Yahya, kebodohan dekat dengan kemiskinan.

Jika anak-anak kehilangan haknya dalam memperoleh pendidikan yang layak, makin dekat gerbang kemiskinan menghantui pintu-pintu rumah rakyat Indonesia.

Anggrahini KD

Jl Ahmad Yani 100 Gubug, Grobogan

***

Pancasila Tak Sama

dengan Pancasial

Saya mencermati tulisan Bapak Sumarjoto tentang mental budaya bangsa yaitu masih adakah kebanggaan sebagai berbangsa dan bernegara, sementara para pemimpin berkutat bagaimana memperkaya diri untuk mempertahankan kekuasaan. Pancasila tinggal tulisan berpigura tak bermakna dan sekadar menjadi hiasan dasar negara.

Bahkan seorang penulis Surat Pembaca mengatakan bahwa Pancasila sudah bergeser menjadi Pancasial. Yang ada sekarang adalah orang kaya dengan kehidupan gemerlap, mobil mewah, bangunan megah. Mungkinkah kita mengharap mereka bersusah payah memikirkan penderitaan rakyat?.

Kita sekarang dibentuk sebagai makhluk kantong nasi yang dipikir hanya soal perut. Padahal orang zaman dulu tahan tidak makan 40 hari, tidak mati bahkan tambah sakti. Sekarang telah terkontaminasi dengan ilmu yang berorientasi pada perut hingga habislah cerita tentang kesaktian. Yang ada hanya keberanian mati bunuh diri karena khawatir tidak bisa mengisi perut.

Menyedihkan memang, kita telah kehilangan kepribadian dan jati diri bangsa yang tahan banting dan kegotongroyongan. Kita telah diperkenalkan dengan keempukan singgasana kekuasaan, gemerlapnya dunia antah-berantah. Di mana sekarang teriakan "Merdeka atau Mati", semuanya lenyap. Pancasila menjadi Pancasial seperti bergesernya lempeng bumi yang menimbulkan bencana tsunami.

Sudjarwo

Jl Padangsari 20, Semarang

**

Bravo Jokowi

Luar biasa Wali Kota Solo Bapak Joko Widodo yang akan merenovasi 4 sampai 6 pasar tradisional setiap tahunnya. Walau masih tahap perencanaan, tetapi gagasan ini wajib diacungi jempol. Realitasnya Jokowi mampu merenovasi Pasar Nusukan dan dengan dukungan Pemkot mengglontorkan dana subsidi sebesar Rp 10,494 milliar dari total biaya investasi sebesar Rp 18,630 milliar.

Juga dikatakan para pedagang lama Pasar Nusukan yang menempati los atau kios baru, baik di lantai satu atau dua digratiskan. Bayangkan, misal segalanya diserahakan ke pihak swasta untuk pembiayaannya, dapat dikatakan tidak ada kata gratis yang keluar dari mulut Jokowi.

Saya terus terang merasa iri dengan warga Solo yang mempunyai wali kota sebaik Pak Jokowi ini. Salam dari salah satu warga Kota Semarang yang merasa "care" dengan tindakan Bapak.

Owiek Moehamad Thoyib

Jl Jangli Perbalan Tmr I/71, Semarang

***

Evaluasi Dana BOS

Tak terasa Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) bidang pendidikan telah berjalan dua tahun tepatnya sejak Juli 2005. Untuk mengukur sukses tidaknya sebuah program tentu butuh evaluasi, apalagi bila program tersebut masih baru seperti penyaluran dana BOS.

Sasaran BOS jelas untuk seluruh sekolah baik negeri maupun swasta, sekolah umum maupun madrasah ibtidaiyah dan madrasah tsanawiyah. Kucuran dana selama periode Juli-Desember 2005 untuk tingkat SD sebesar Rp 235.000/siswa/tahun. Maka sebenarnya Ali Muhyidin SE, pengelola madrasah di Subah Batang tidak perlu mengeluh kesulitan memperoleh dana bantuan operasional tersebut.

Menurutnya, masih ada diskriminasi antara sekolah umum dan sekolah agama (madrasah). Padahal fungsi dan peran madrasah strategis sebagai upaya pembentukan mental akhlak spiritual siswa sejak dini. Semua tahu keterpurukan bangsa ini sejatinya akibat faktor akhlak mental yang rapuh. Segala hal seperti tidak ada celah untuk tidak dibuat main-main.

Madrasah juga lembaga sekolah dan mestinya juga mendapatkan dana BOS. Karenanya perlu ada evaluasi sejauh mana penggunaan dana itu. Termasuk bila perlu menginventarisasi lagi sasaran dan juga besarannya karena termasuk membayar honorarium guru, biaya peningkatan mutu guru, membayar daya dan jasa.

Walau praktiknya mungkin tidak sampai sejauh itu namun bila diberi kisi-kisi, minimal tidak menimbulkan tanda tanya banyak pihak. Termasuk masih adanya sekolah yang menjual buku ajar, padahal Mendiknas melarang perdagangan buku ajar di sekolah. Bahkan agar efektif dibuat Peraturan Mendiknas No 11/2005 tgl 22 Juli 2005.

Jaring-jaring pengamannya juga sudah luar biasa. Dari unsur perguruan tinggi, DPR, DPD, BIN, Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, BMPS, LSM, BPK, BPKP, Irjen Depdiknas/Depag sampai Bawasda. Tapi dengan adanya kejadian tersebut, Tim Pemantau Independen mendapat PR. Minimal input untuk penyempurnaan PKPS-BBM bidang pendidikan.

Sekaligus menanggapi wacana Drs H Marno tentang pengalokasian dana BOS ke madrasah. Sayangnya masih ada pengelola yayasan yang belum sepenuhnya memandang eksistensi guru mengaji di sekolah umum (bahkan yang bercirikan agama). Terbukti meski sudah mengabdi sekian lama namun masih berstatus GTT.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Budaya Kekerasan

Melihat peragaan kekerasan di IPDN yang akhirnya membawa korban meninggal dunia yaitu Cliff Muntu dan sebelumnya Eri Rahman (2000) serta Wahyu Hidayat (2003), sungguh hati ini merasa sangat miris.

Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan kekejaman aksi itu selain " para senior pelaku kekerasaan sungguh bukan manusia waras hati nuraninya".

Bayangkan, para yunior dengan mata tertutup digebuki oleh para senior secara leluasa. Kebrutalan dan kekejaman terus dipupuk dari generasi ke generasi berikutnya. Model pendidikan pro kekerasan seperti yang terjadi di IPDN sangat berbahaya bagi penegakan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Para pelaku jelas bukan mahasiswa beradab, mereka brutal dan antikemanusiaan. Namun, sangat tidak adil jika hanya menyalahkan praja tanpa melihat bagaimana para pejabat mendesain pendidikan bagi mereka. Akibatnya mereka tumbuh menjadi liar dan brutal.

Ketika terjadi kecelakaan, para pejabat termasuk rektor selalu menimpakan kesalahan hanya pada mahasiswa saja.

Di lain sisi para pejabat tidak mau melihat kenyataan yaitu apa yang selama ini terjadi di asrama dan di lapangan. Ini ciri khas para pejabat kita yang selalu mencari kambing hitam pada setiap kegagalan tugas. Mereka tidak mau mengakui kelemahan dan kesalahannya kemudian minta maaf secara terbuka dan segera undur diri.

Dilihat dari grafiknya, kekerasan di IPDN benar-benar telah terjadi secara sistematik. Mustahil bila tidak diketahui pejabat setempat. Yang menjadi tanda tanya, apakah para pejabat yang ada di lingkungan tersebut dibuat tidak berdaya atau tidak berkutik oleh ulah para mahasiswanya?.

Jika hal ini yang terjadi, berarti dalam tubuh IPDN telah terjadi kerusakan yang fundamental baik secara manajemen maupun secara ideologis.

Sangat menyedihkan jika kita tidak mau belajar pada kesalahan yang sama di masa lalu. Mereka benar-benar lebih tolol dari seekor keledai. Mari lihat bagaimana penyelesaian persoalan ini.

Suprayitno

Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang

***

Suporter Brutal

Masih ada sisa duka keluarga saya akibat anak yang tak pernah sakit tiba-tiba setelah dewasa menderita penyakit aneh (menurut dokter dinyatakan sakit lupus) dan nyawanya tak tertolong. Dia bernama Nurul Wakhidah (panggilan Ida) mahasiswi semester akhir IAIN Walisongo Semarang. Banyak dosen dan sahabatnya takziyah.

Setelah 15 hari kepergiannya, saya ayahnya (Abd Rohim) beberapa waktu lalu berniat mengambil barang-barang milik almarhumah yang kos di rumah Bapak Mastur belakang masjid Jami' Ngaliyan Semarang. Bapak Mastur menyambut ramah bahkan barang/buku sudah dikemas rapi dalam 4 kardus besar.

Saya menempatkan kardus dalam mobil box dan ditutup dengan terpal serta meninggalkan rumah kos pukul 20.00 WIB. Dalam perjalanan pulang, sampai di bangjo Terboyo ditumpangi paksa sekelompok suporter sepak bola. Mereka berteriak di atas kendaraan minta turun terakhir di Desa Ondorawe Sayung Demak.

Dalam perjalanan selanutnya kendaraan saya mogok, Saat turun, betapa terkejutnya setelah saya melihat barang-barang yang saya bawa ternyata telah berantakan. Tidak ada satu kardus pun yang masih utuh, semuanya diobrak-abrik oleh suporter sepak bola tersebut. Saya sedih dan menyesalkan kejadian ini, semoga menjadi pelajaran bagi masyarakat jangan sampai menjadi korban sekelompok suporter sepak bola tersebut.

Fathul Huda

Singorojo RT 2/RW 3 Mayong, Jepara

***

Indosat Merespon

Menindaklanjuti tulisan saya di Surat Pembaca beberapa hari lalu mengenai harapan ada sinyal di Punggelan Banjarnegara, saya ucapkan terima kasih atas perhatian/ respon positif dari Indosat yang mengirimkan Bapak Suryo Suharyono (Direct Sales Purwokerto) pada 18 April 2007 ke rumah .

Beliau menjelaskan secara lengkap semuanya apa yang saya keluhkan. Hal ini menunjukan Indosat benar-benar memperhatikan apa yang diinginkan konsumennya. Beliau juga mengatakan dalam waktu dekat Indosat akan membangun BTS di wilayah Kecamatan Punggelan. Saya berharap pemasangannya berada di sekitar Desa Karangsari, Kecepit atau Danakerta.

Yanuar Bagaskoro

Karangsari RT 1/Rw 1 Punggelan, Banjarnegara

***

Oleh-oleh Bonafide

Pada 15 April 2007 sekitar pukul 16.30 saya dan suami beli oleh-oleh di "Bonafide" Jl. Pandanaran Semarang untuk keluarga di Lampung. Kebetulan kami sudah lama mengenal dan ibu serta keluarga di Semarang juga menjadi pelanggannya. Namun, hari itu kami dikecewakan oleh sikap pramuniaga yang kurang bersahabat.

Selesai transaksi saya membayar Rp 66.000, (tapi tidak diberi nota, mungkin karena membayar dengan uang pas) dan saya mau menukarkan roti durian seharga Rp 6.000 dengan kerupuk seharga Rp 9.504. Kebetulan suami juga menukarkan 4 bungkus roti durian dengan 4 dus jenang kudus. (nota terlampir Rp 118.300).

Sikap pramuniaga kurang enak, dia berkata kepada temannya: "Wah piye... bingung. Dituker-tuker kabeh..."

Saya diam melihat responnya sambil menunggu pramuniaga melayani pembeli lain. Namun ternyata setelah gilirannya, saya tidak digubris. Lalu saya bertanya: "Mbak, saya bisa tukar?", dijawab seenaknya: "Ibu tahu barang yang sudah masuk tidak bisa ditukar".

Saya jawab: "Mbak, saya belanja nggak cuman satu kali. Punya suami saya kenapa bisa ditukar, sedang saya kok tidak?". Dia menjawab: "Punya ibu sudah masuk, tapi bapak belum". (Padahal saya melihat sendiri dia membuat nota baru untuk suami saya dan ditulis ''batal'' pada nota.

Saya malas berdebat. Terus terang, saya tidak mempermasalahkan nilai uangnya dan jika barang tidak bisa ditukar bisa dimengerti. Namun saya sesalkan sikapnya yang tidak menyenangkan dalam melayani pembeli. Semoga tulisan ini jadi masukan positif bagi pemilik toko untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi bagi pelanggannya.

Dokter Intan

Jl St Agung Gg Tirtasar 1A Kedaton, Bandar Lampung

***

Soal Voice Mail Box

Sehubungan tulisan saya di Surat Pembaca 19 April 2007 perihal komplain Voice Mail Box, pihak Indosat langsung memberikan klarifikasi dan tanggapan untuk mengaktifkan kembali voice mail box itu sehingga jika ponsel saya off ada informasi SMS yang bisa diterima. Saya ucapkan terima kasih atas respon yang begitu cepat menanggapi keluhan pelanggan.

Alex Aprilyanto

Prambatan Lor RT 7 /RW 1, Kudus


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA