| Rabu, 25 April 2007 | SEMARANG |
''Bu Guru Tolong Diulang Membaca Soalnya ...''HARAPAN dapat mengerjakan soal-soal UN dengan cara cepat dan cermat oleh tiga siswa tunanetra SMP LB A Wantu Wirawan Salatiga, pupus sudah. Mengapa? Karena soal yang dikerjakan tidak menggunakan huruf braile seperti yang mereka harapkan sebelumnya. Ya, pagi kemarin pada hari pertama menggerjakan soal Bahasa Indonesia, tiga siswa itu, Sri Sugiyanti, Lia Nurulita, dan Apip Shalikah, harus berkali-kali menyimak soal yang dibacakan guru pengawas. Bahkan sesekali terdengar ucapan dari salah satu siswa tunanetra itu agar soalnya dibacakan ulang. ''Bu guru tolong dong diulang lagi membaca soalnya, saya kurang mengerti maksudnya,'' kata Apip. Guru pengawas yang sabar itu, berusaha memenuhi keinginan siswa tunanetra dengan membacakan kembali salah satu soal. Kemudian terdengar kembali permintaan untuk mengulang, membaca poin jawaban A pada salah satu soal. Tak Terpenuhi Siapa saja yang melihat kejadian itu pasti trenyuh, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Seharusnya siswa dapat mengerjakan soal tanpa harus dibantu orang lain. Dengan satu syarat, soal-soal bagi siswa tunanetra itu ditulis dengan huruf braile. ''Kalau seperti ini caranya siswa tidak dapat mengerjakan dengan konsentrasi penuh. Hak-hak mereka untuk mengerjakan soal dengan benar dan berdasarkan kemampuan mereka tidak terpenuhi pula,'' kata Anggota Tim Pemantau Independen (TPI) Elisabet Betty. Dia berharap agar soal berikutnya bagi siswa tunanetra menggunakan huruf braile. Dia juga tidak tahu mengapa terjadi kesalahan karena berdasarkan informasi serta masukan dari SLB LB A, soal UN siswa tunanetra dipastikan ditulis dengan huruf braile. (Surya Yuli P-16) |