logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 25 April 2007 BUDAYA
Line

SENIMAN

Menolak Hegemoni

SEPERTI stereotipe masyarakat pesisiran, wong Pati punya karakter keras dan mengukuhi prinsip yang dianggap benar. Sejarah mengenal Adipati Pragola sebagai tokoh yang berani berhadap-hadapan dengan Panembahan Senopati dari Mataram.

Tampaknya karakter itu secara tak langsung teradopsi dalam laku kesenian mereka. Tak hanya di ranah seni tradisi, namun juga kesenian kontemporer di Pati saat ini.

Ada idiom perlawanan yang terekam dalam karya para seniman Pati. Ada spirit pendobrakan terhadap hegemoni yang mewarnai.

Satu di antara seniman muda yang mewakili karakter wong Pati adalah Putut Puspito Edi. Perupa asal Gabus itu mendedahkan semangat perlawanan dalam karyanya.

''Abad Api'' yang saat ini masih dipamerkan di B'OK Art House, Semarang, cukup menjadi bukti. Juga karya-karya lain serupa sajak pamflet. Garang dengan simbol-simbol gumpalan otak, burung gagak, dan bola api menyala-nyala.

Mengawali karier sebagai perupa, Putut menimba banyak ilmu dari para senior di Pati. Dia dan rekan-rekan seangkatan berproses di Sanggar Gembleng yang diasuh Joko Wahyono dan Eri Nurbaya. Dari mereka, lelaki kelahiran Pati, 9 Agustus 1975, itu belajar teknik dasar melukis realis.

Tak berlama-lama mengakrabi realis, dia beranjak ke surealis. Dengan corak itu, Putut merasa lebih leluasa membuncahkan ide kreatif.

Bersama Imam Tohari, Berbudi Lestyowibowo, Yanuri, dan Puji Puryanto, Putut membentuk kelompok Embrio. Mereka, baik perseorangan maupun atas nama kelompok, aktif berpameran keliling ke berbagai kota di Jawa Tengah. Ya, mereka berpameran di Semarang, Kendal, Jepara, Rembang, dan Magelang.

Kiprah Embrio diapresiasi The Japan Foundation. Pada tahun 2002, lembaga itu memfasilitasi sebuah pameran yang menampilkan karya mereka. Namun akhirnya cuma Putut dan Imam Tohari yang berpameran di Galeri Mini.

Tampaknya Manajer Kebudayaan The Japan Foundation, Sato Maho, terkesan pada karya kedua perupa asal Pati itu. Dia pun meminta Putut dan Imam berpameran lagi di rumahnya bersama perupa Jepang, Midori Oki.

Setelah itu, Putut terus berproses. Medio 2006, dia bersama tiga perupa asal Pati, yakni Imam Bucah, Imam Tohari, dan Susilo Tomo, menggelar karya di Rumah Seni Kayangan, Semarang, dalam pameran bertajuk ''Logika Hitam Putih''. Terakhir, karyanya ''Abad Api'' lolos seleksi pameran Open Art Project yang menurut rencana digelar di London, Inggris, pertengahan tahun ini.

Lajang gondrong itu juga aktif berteater. Dia berproses bersama Teater Gong. Putut mengakui berteater memberikan wacana baru yang memperkaya dirinya sebagai perupa.(Rukardi-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA