logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 24 April 2007 WACANA
Line

Peran PKL Menyongsong SPA

  • Oleh Agus Hartono

SEMARANG Pesona Asia (SPA) empat bulan lagi akan digelar. Event dengan biaya puluhan miliar rupiah itu sampai sekarang belum begitu tampak gaungnya. Yang paling ekstrem terlihat hanya "pembersihan" pedagang kaki lima (PKL) yang terkadang kurang manusiawi maupun "Resik-resik Kutha" yang hanya sebatas serimonial.

Sosialisasi SPA melalui lurah, juga kurang efektif karena warganya (RT, RW, maupun tokoh masyarakat), menurut beberapa pengamat kurang tanggap dengan kegiatan berskala internasional tersebut. Saat ini mereka hanya memprioritaskan bagaimana cara mencari makan secara instan, karena pada level bawah banyak orang yang tidak bisa makan, mencari pekerjaan sulit, membuka usaha dioprak-oprak oleh Satpol PP.

Mereka apatis dengan program Wali Kota Sukawi Sutarip, yang menurut mereka "cari makan saja susah, kok neka-neka". Lantas, sosialisasi dan langkah macam apa yang harus dikerjakan oleh Pemkot Semarang untuk meyakinkan warganya agar mendukung SPA dengan sepenuh hati?

SPA yang diharapkan dapat menarik investor mancanegara untuk melirik potensi yang ada di Semarang dalam jangka panjang, diharapkan dapat berimbas menguntungkan PKL. Agar para PKL juga dapat merasakan dampak langsung dari SPA itu, tentunya Pemkot Semarang harus mempunyai jurus jitu "memperjuangkan" nasib PKL, untuk 'dijual' di ajang SPA, dengan berorientasi kepada kebersihan, keindahan, kenyamanan, dan kemanusiaan.

Pemkot juga harus menggandeng pakar tata kota dari perguruan tinggi, yang nantinya sebagai desainer untuk menata para PKL agar rapi, bersih, dan berestitika.

Inventarisasi Wisata

Yang tidak kalah penting adalah inventarisasi tempat-tempat wisata yang ada di Semarang. Yang dimaksud bukan hanya tempat-tempat wisata yang sudah punya nilai jual seperti Kota Lama, Lawang Sewu, Gereja Belenduk, dan Gedung Batu, namun Pemkot melalui dinas terkait bisa mendata di setiap kelurahan atau bahkan RT mempunyai potensi wisata yang layak dijual.

Karena di samping ada perbendaharaan baru tentang wisata, masyarakat sekitar juga merasa diuwongake. Little tourism itu diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga setempat untuk ikut nyengkuyung SPA.

Di daerah Tugu ada candi Hindu, di Kalibanteng Kulon ada makam Sunan Kuning (Sun Ang Ing) yang pada 1970-an pernah ramai dikunjungi peziarah (kebanyakan Tionghoa), dengan view yang bagus dan akses jalan yang mudah. Di daerah Gajahmungkur ada pura dan Kerkof (makam Belanda), di Tegalsari ada sendang yang oleh masyarakat sekitar disebut stoom, di Banyumanik ada Ondorante (masih ada?), dan tentunya masih banyak lagi tempat yang luput dari publikasi media, yang tidak kalah menariknya dari tempat-tempat wisata yang sudah ada.

Untuk menginventarisasi tempat-tempat wisata, Pemkot sebagai pranata paling tinggi di Semarang, tentunya sangat mudah dan cepat mendelegasikan kepada camat dan lurah untuk mendata di wilayahnya ada potensi wisata yang menarik dan layak jual.

Tentunya camat/lurah bisa mendiskusikan hal tersebut dengan pengurus RT dan RW, tokoh masyarakat di wilayah setempat, untuk "menyulap" wisata bisa menjadi tujuan wisata yang memesona.

Seharusnya greget Semarang The Beauty of Asia itu harus sudah seperti saat kita menyambut HUT Kemerdekaan; di sana-sini sudah ada bendera, umbul-umbul, dan pengecatan gapura maupun siskampling. Ada bermacam-macam lomba: panjat pinang, balapan karung, makan kerupuk, dll. Atraksi-atraksi semacam itu bisa ditampilkan dengan kemasan eksklusif pada hari "H" nanti.

Pemkot juga harus menggandeng EO (event organizer) untuk mengolah dan meramu hal-hal yang bersifat hiburan rakyat menjadi pertunjukan yang berkelas dunia seperti barongsai, warak Semarang, dan jathilan.

Memang untuk mewujudkan itu semua kita harus cancut tali wanda, agar saat event tersebut digelar, warga Semarang tidak malu dengan masyarakat luar negeri. Pemkot sendiri sebagai pemrakarsa harus segera bergerak, karena waktu empat bulan dengan event sekelas itu, betul-betul waktu yang pendek.

Dana miliaran rupiah harus betul-betul digunakan dengan cermat, dan jangan sampai disalahgunakan untuk kepentingan pribadi maupun golongan. Tentunya kalau pemerintah kota bersungguh-sungguh, pasti warga akan mendukung dengan sepenuh hati. (68)

--- Agus Hartono, sekretaris RW II Kalibanteng Kulon, Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA