logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 24 April 2007 INTERNASIONAL
Line

LINTAS JAGAT

Mendagri Palestina Mundur

GAZA - Meski baru berumur satu bulan, Pemerintahan Persatuan Nasional Palestina sudah pengalami perpecahan. Dalam pertemuan kabinet, kemarin, Menteri Dalam Negeri Hani al-Qawasmi mengajukan permohonan pengunduran diri namun PM Ismail Haniyeh menolaknya, kata pejabat pemerintah.

Qawasmi memberitahu kabinet bahwa dia ingin mundur, kata Mohammed Madhon, pembantu dekat PM Haniyeh dari Hamas. PM menolak pengunduran diri itu, jelasnya.

Menurut seorang pejabat, Qawasmi yang menyusun satu rencana untuk mengurangi pelanggaran hukum di Gaza, kecewa karena tidak adanya kerja sama antara para kepala kemananan Palestina.

Sebagai menteri dalam negeri, peran Qawasmi adalah mengawasi pelayanan keamanan utama Palestina tapi Presiden Mahmud Abbas dari faksi Fatah mengangkat salah seorang seteru utama Hamas, Mohammed Dahlan, sebagai penasihat keamanan nasional secara keseluruhan.

Beberapa pengamat Palestina menganggap pengangkatan Dahlan itu sebagai satu usaha untuk menyisihkan Qawasmi dan mengurangi kekuasannya atas dinas keamanan.

Qawasmi memangku jabatan itu baru sebulan lalu sebagai bagian dari pemerintah persatuan yang dibentuk Hamas dan Fatah yang bertujuan untuk mengakhiri perang antar kelompok Namun ketegangan antara Hamas dan Fatah tetap tinggi dan pelangaran hukum meluas, terutama di Jalur Gaza.(ap-niek-26)

Zia Menunggu Visa

DHAKA - Mantan perdana menteri Bangladesh Khaleda Zia batal berangkat ke pengasingan di Arab Saudi, kemarin, walaupun dia telah mengemas barang-barangnya. Sebab, pengurusan visa untuknya belum selesai.

''Pengurusan visa dan keperluan lainnya belum selesai,'' demikian laporan koran Naya Diganta yang mendukug Partai Nasionalis Bangladesh pimpinan Zia.

Sejumlah laporan Minggu lalu menyatakan, pengurusan visa sudah hampir selesai dan sebuah pesawat carteran telah menunggu Zia di bandara Dhaka. Sumber pemerintah mengatakan jika Saudi tidak mengeluarkan visa untuk Zia, pemerintah Bangladesh akan mengupayakan visa dari negara-negara lain, seperti Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman dan Singapura.

Zia dilaporkan telah setuju untuk meninggalkan negara, dengan imbalan kedua putranya tidak dipenjara. ''Semua barang-barangnya telah dikemas ke dalam beberapa kardus,'' kata salah seorang kerabat Zia.

Sampai kemarin sore, keluarga Zia (termasuk dua menantu dan tiga cucunya) menunggu kabar dari pemerintah apakah mereka akan diasingkan ke Saudi, Kuwait, atau ke negara lain.(afp-ben)

Hafal Alquran, Dihadiahi Rp 244 Juta

SANA'A - Seorang siswa penyandang cacat di Arab Saudi yang hafal Alquran dan hadis memperoleh hadiah 100 ribu riyal (sekitar Rp 244 juta) dari Putra Mahkota Saudi. Mubarak Abdullah Al-Dausari, siswa setingkat SD itu, juga hafal nama-nama ibu kota, raja, presiden dan kepala pemerintahan di seluruh dunia.

Selain itu, dia juga piawai dalam bidang saham dan masalah perbankan sehingga menjadi bintang dari 16 siswa cacat di kelasnya. Prestasi Mubarak itu diketahui oleh Pangeran Sultan bin Abdul Aziz yang langsung menghadiahkannya uang sebesar 100 ribu riyal.

''Dia mungkin termasuk siswa langka di dunia. Dia cacat namun dapat menghafal Alquran, hadis, nama-nama ibu kota dan kepala negara seluruh dunia di luar kepala,'' kata Mubarak Nasser Al-Khafran, mantan kepala sekolah SD tempat Mubarak menimba ilmu.(ant-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA