logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 April 2007 RAGAM
Line

Membibitkan Salak Banjar

SAMA dengan salak pondoh dan salak nglumut, salak banjarnegara -sering disingkat salak banjar- juga sudah lama dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah. Sesuai dengan namanya, tanaman buah itu berasal dari Kabupaten Banjarnegara.

Salah satu keunggulan tanaman ini adalah ukuran buahnya yang besar. Kulit buahnya bersisik besar dan tersusun rapi, berwarna cokelat. Daging buahnya tebal, berwarna putih kekuningan, mengandung banyak air, dan masir.

Rasa buahnya manis, dan terkadang ada sedikit rasa sepat. Bijinya juga besar, berwarna cokelat tua, dengan jumlahnya 2-3 biji per buah.

Di beberapa pasar atau toko buah, salak banjar dijual dengan harga Rp 4.000 - Rp 6.000 per kilogram. Kalau ukuran buahnya kecik, harga bisa lebih murah, Rp 3.500 - Rp 4.500 per kilogram. Kita bisa menyantapnya begitu saja, atau bisa juga diolah menjadi asinan dan manisan.

Salak banjar bisa tumbuh dengan baik di dataran rendah hingga ketinggian 500 meter dari permukaan laut (dpl). Jenis tanah yang cocok adalah podsolik dan regosol atau latosol, dengan derajat keasaman (pH) 5-7, dan curah hujan 1500-3000 mm per tahun, serta musim kering selama 4-6 bulan.

Jika kondisi lingkungannya sesuai, tanaman sudah berbuah pada umur tiga tahun. Tanaman salak muda lebih senang hidup di tempat teduh atau di bawah naungan. Karena itu, umumnya salak ditanam di bawah tanaman duku, durian, mangga, atau pohon sengon (Albezia sp).

Pembibitan

Perbanyakan tanaman salak banjar tidak berbeda dari jenis salak lainnya. Umumnya dilakukan melalui penyemaian biji, yang diambil dari tanaman berkualitas baik.

Tapi pembibitan melalui biji tak selalu menghasilkan anakan dengan kualitas sama dengan induknya. Itulah sifat perbanyakan secara generatif, di mana hasil pembibitan selalu berubah-ubah, tergantung perlakuan awal serta perawatan di kemudian hari.

Bisa juga melakukan pembibitan secara vegetatif. Bibit dibuat dengan memasukkan potongan bambu di pangkal tunas anakan pohon salak. Selain bambu, botol plastik atau botol infusan juga dapat digunakan sebagai bumbungan.

Media pembiakan yang digunakan adalah campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 2:1. Kalau tunas anakan telah berakar dalam bumbung, bibit vegetatif itu dapat disapih (dilepas). Untuk mempercepat pertumbuhan akar, anakan diberi Rootone-F dengan kadar satu persen.

Jika menggunakan biji, masukkan 3-4 biji dalam setiap lubang berukuran 50 x 50 x 40 cm3, dengan jarak antarlubang 2 x 4 m2 atau 3 x 4 m2. Setiap lubang diberi pupuk kandang se-banyak 10-20 kg. Sebulan kemudian, biji mulai bertunas.

Langkah selanjutnya adalah menyeleksi bibit tanaman. Ini bisa dilakukan setelah tanaman mulai berbunga, yaitu setelah berumur tiga tahun. Dalam setiap lubang cukup disisakan satu pohon yang berbunga betina atau campuran. Tanaman jantan disisakan 10 persen dari populasi.

Pupuk buatan diberikan setiap tiga bulan sekitar 25-500 gram NPK (15-15-15), kemudian ditingkatkan sesuai dengan umur tanaman. Pada umur 1-3 tahun cukup diberi 25-300 gram pupuk per pohon, dan umur 3-10 tahun sekitar 300-500 gram pupuk per pohon.

Jika pembibitannya secara vegetatif, setiap lubang langsung ditanami satu bibit saja. Tanaman dijaga agar tetap lembab, cukup air, dan mendapat naungan. Leguminose dan gliricidia (gamal) dapat digunakan sebagai naungan. Pelepah daun paling bawah dikurangi agar matahari masuk merata dan memudahkan kita melewati jalan di antara lajur-lajur tanaman.

Dalam pemeliharaan, yang terpenting ialah menjaga kebersihan kebun dan membuang tunas anakan yang muncul. Jumlah daun yang disisakan maksimal 17 helai. Pelepah daun dipangkas dengan gergaji atau sabit tajam. Dengan cara itu, sinar matahari dapat masuk ke kebun dan pengambilan buah pun mudah dilakukan. (Intan Duta Swara Kharisma-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA