| Senin, 23 April 2007 | WACANA |
Surat PembacaKorban BirokrasiMenurut kamus umum bahasa Indonesia, susunan WJ S Poerwadarminta, birokrasi artinya sistem pemerintahan yang didominasi oleh pegawai negeri yang dibayar tapi cara kerjanya serba lambat, serba menurut aturan dan banyak lika - likunya. Fenomena tersebut cocok dengan potret birokrasi di negeri ini. Gaya, performa dan perilaku pegawainya kerap menunjukkan watak arogan alias sombong bila berhadapan dengan publik, lebih-lebih dalam pelayanan pada masyarakat. Nampak kental nuansa feodalismenya. Para birokrat lupa bahwa mereka sosok pelayan publik yang digaji oleh rakyat lewat dana yang dihimpun dari pajak, restribusi dan pungutan lainnya. Para PNS masih memakai paradigma lama, yakni bukan melayani tapi minta dilayani. Selain serba pakai duit, urusan pembuatan sertifikat, akte dan surat lain yang sebenarnya sederhana dan gampang dibikin bertele-tele, ruwet dan lama. Padahal rakyat sudah membayar "upeti" berlapis. Para investor asing akan lari terbirit-birit bila harus berurusan dengan para birokrat. Ini terkait dengan regulasi perizinan penanaman modal. Maklum jika akhirnya para pemilik modal asing tak berminat berbisnis di Indonesia dan lebih melirik ke Singapura, Malaysia atau Vietnam. Kondisi sama juga terjadi di level terbawah yaitu pada birokrasi kelurahan. Seperti yang terjadi di Desa Kalibogor Kecamatan Sukorejo, Kendal. Menurut beberapa warga, pihak perangkat desa tanggal 21 Maret 2006 melakukan program sertifikat masal swadaya (SMS) dengan biaya Rp 800 ribu/orang. Konon 30 warga sudah membayar uang muka sejumlah Rp 500 ribu/orang. Tapi sudah setahun urusannya juga belum kelar, bahkan pengukuran tanah pun belum. Juga tanggal 19 Februari 2007 atas permintaan sekdes, warga disuruh membayar lagi Rp 150 ribu/orang. Kemudian penduduk menginformasikan pula pada 21 Maret 2006, secara serentak dilakukan pembuatan KTP clan KK masal dengan biaya Rp 25 ribu. Setahun sudah berlalu perkara ini juga belum beres. Hanya sebagian KTP sudah jadi, sementara KK masih nihil. Mungkin kasus yang sama juga terjadi di desa-desa lain seperti yang pernah terjadi di Desa Selo Kecamatan Patean. Ini membuktikan pelayanan publik oleh para birokrat masih memble. Ternyata tak hanya revolusi, birokrasi pun sering memakan anaknya sendiri. S Joko Wiyono Sudagaran RT 5/RW 1, Sukorejo Asal Kebaya Saya mahasiswa tingkat akhir jurusan Sejarah Undip yang sedang menulis skripsi tentang kebaya. Namun saya kesulitan menentukan daerah asal kebaya. Menurut sumber, kebaya katanya berasal dari China namun ada juga yang mengatakan berasal dari Portugis. Saya berharap di antara pembaca ada yang mengetahui sumber tertulis otentik mengenai hal ini, sehingga dapat membantu saya menulis kebenaran tentang asal usul kebaya. Semoga hal ini dapat membuka wacana baru bagi perkembangan kebaya di Indonesia. 024-7609263/ 081 326 097 345. Dwi Purbosasi (081326097345) Jl Sriwibowo V/1, Semarang *** Penipuan Tenaga Kerja Pada 24 Maret 2007 ibu saya memberi kopi pengumuman lowongan pekerjaan. Ibu kebetulan bekerja di kantor Disnakertran Kota Pekalongan. Lowongan pekerjaan itu dibuat PT Kukuh Shivex Indojaya Jl Jendral Sudirman Plaza Siliwangi Blok B5 Karangayu Semarang No.005/PSDM/ KSIJ/III/2007. Tanggal 26 Maret 2007 pagi dengan motor saya ke Semarang untuk mengajukan lamaran. Saya diterima panitia yang mengisyaratkan agar membayar biaya pendaftaran Rp 25 ribu baru kemudian diberi blangko tes. Setelah diisi saya serahkan ke anggota panitia yang lain dan saya lulus tes tersebut. Untuk dapat bekerja, saya diminta membeli salah satu produk yang ditawarkan misalnya setrika listrik Rp 280 ribu, panci presto Rp 350 ribu, blender dan lainnya. Mereka mengatakan kalau saya beli salah satu produk, esok paginya sudah dapat bekerja tapi jika tidak membeli maka dinyatakan gagal. Berpegang pada pengumuman yang ditempel bahwa pembukaan kantor cabang baru dimulai 1 November 2007 serta tata cara penerimaan tenaga kerja ada unsur pemaksaan (harus membeli salah satu produk) maka saya putuskan tidak melanjutkan menjadi karyawan. Mengikuti proses lowongan pekerjaan tersebut, jelas ada unsur penipuan yaitu bisa masuk kerja setelah membeli salah satu produk. Padahal pencari kerja jelas orang yang berbekal tenaga dan pikiran bukan berbekal uang. Kepada para pencari kerja agar berhati-hati, jangan tertipu. Kita memang butuh pekerjaan tetapi bukan dengan cara seperti itu. Kepada Dinas Tenaga Kerja jangan mudah menempel bursa lowongan pekerjaan, hendaklah teliti apakah perusahaan dan tata cara rekrutmennya sesuai prosedur atau hanya sebagai alat menjual produk. Apalagi sekarang makin banyak orang yang menghalalkan semua cara dan makin sedikit orang yang berpegang pada prinsisp kebenaran. Hamdan Nugraha Jl Arum Indah III/25, Tegal *** Konspirasi Indosat dan Operator 3845 Awal ulan lalu saya beli perdana Mentari 081 577 53 123 dan setelah diaktifkan, saya langsung daftar ke 4444. Sekitar 30 menit setelah aktif saya mendapat SMS dari operator 3845 yang isinya: "Anda telah berlangganan AST PIS". Setelah cek saldo, pulsa berkurang Rp 2.000 padahal saya tidak pernah registrasi ke 3845. Baru beli perdana kok langsung berkurang saldonya. Padahal saya belum melakukan panggilan dan SMS ke mana pun. Kemudian saya menelepon ke 222 untuk menghentikan keaktivan 3845 dan oleh operator saya diminta menunggu paling lambat 3X24 jam karena akan ada petugas khusus yang menghubungi. Selama menunggu, saldo saya berkurang terus setiap hari. Setelah saya tunggu seminggu tidak ada kejelasan dari Indosat. saya telepon lagi ke 222. Ternyata mengejutkan sebab dengan entengnya operator bilang agar saya meninggu lagi 3X24 jam, padahal saldo saya berkurang terus Rp 2.000/hari. Sampai 14 Maret 2007 Indosat belum mengirim stafnya untuk menghubungi saya. Berarti sistem informasi dan SDM-nya kacau. Hati-hati para pelanggan, sewaktu-waktu saldo akan berkurang tanpa Anda sadari. Karena hal ini ada konspirasi antara Indosat dan operator 3845. meski hanya Rp.2.000. P Adi Riyanto SKom (081842123573) Jl Balekambang IX/9 Mugasari, Semarang *** Gerakan Paranormal Dalam situasi yang penuh gejolak dan corat-carut ini, banyak orang terkena stres dan bingung. Sebagian berusaha mencari ketenangan batin dan tak jarang dukunlah yang menjadi tempat mengeluh dan meminta pertolongan melalui kekuatan supranaturalnya. Di sini peran dukun yang kini populer disebut paranormal memperoleh peluang emas. Akibatnya kini merebak praktik dukunisasi, baik yang terang-terangan maupun terselubung, apalagi info tentang dunia perdukunan kian mudah didapat. Paranormal sering diklam sebagai tokoh spiritual yang punya daya linuwih dan lebih diistimewakan. Klaim ini didukung media dengan rubrik khususnya. Isi rubrik menyangkut info perdukunan baik artikel maupun wawancara. Produk perdukunan juga diiklankan misal jimat, pengasihan, pelarisan dagangan serta bentuk lainnya. Yang lebih mencengangkan, ada media cetak bernuansa agama tapi juga mau memuat iklan semacam itu. Gerakan paranormal lebih nyata dengan mengadakan pergelaran khusus di mana mereka bertemu untuk mendemokan keahliannya. Masyarakat pun tertarik menyaksikan. Lagi-lagi media memberi respon dengan publikasinya yang sarat sensasional. Bukan rahasia lagi, ada orang yang mengaku beragama namun masih mempercayai jimat atau propaganda paranormal. Prof Dr Amin Rais menyatakan Muhammadiyah antisyirik dan musyrik. Kalau masih ada umatnya yang berbuat syirik, lebih baik mengembalikan keanggotaanya kepada PP Muhammadiyah. Apalagi kalau masih mempercayai nogodino, betal jemur, gatoloco dan lainnya yang jelas menyimpan akidah suci tauhid ilahiyah. Pernyataan keras itu demi melindungi umat dari syirik yang mengotori akidah tauhid. Secara umum diingatkan umat tidak mencampuri ajaran Islam dengan isme lain yang bertentangan dengan Islam. Ibaratnya mencampur susu dengan racun hingga jadilah obat yang menimbulkan mala petaka. Amar Makruf Purwogondo Kalinyamat, Jepara. *** Kepada Satlantas Beberapa tahun lalu ketika saya masih ngangsu kawruh di Semarang, lalu lintasnya sangat disiplin dan tertib. Para pengendara mematuhi peraturan walau tanpa petugas. Mitos Satlantas yang tanpa kompromi menilang dan Buser yang siap mengejar pelanggar sangat kuat di hati masyarakat dan melegenda waktu itu. Bahkan saking tertibnya, Semarang pernah mendapat predikat sebagai kota yang disiplin dalam berlalu lintas. Kini keadaan berubah manakala lewat bunderan Kalibanteng, di Pamularsih bahkan di Jl Indraprasta ternyata banyak pengendara tanpa memakai helm melintasi jalan raya itu. Kamera digital teman saya bahkan mengabadikan momentum tersebut dan anehnya di dekat lokasi ada pos Polisi. Helm merupakan alat keselamatan penting bagi pengendara yang jika dibiarkan dikhawatirkan jatuhnya korban jiwa karena ketidakpatuhan mentati peraturan. Menjadi tugas Polisi untuk menindak pelakunya. Untuk Pak Poltas Semarang, jika tak pakai helm dibiarkan lalu bagaimana bila merembet ke kota kecil seperti Kendal, Demak dan sekitarnya. Semoga kedisiplinan lalu lintas yang dulu menjadi ciri khas Kota Semarang bisa tetap dipertahankan. Aryo Widiyanto AMd Jl Sri Agung 234 Cepiring, Kendal *** Untuk ACC Tegal Saya menjadi pelanggan ACC Tegal sejak 2001 sampai sekarang bersama keluarga sudah 20 kali melakukan transaksi yang setiap transaksi selalu diikutkan dalam Asuransi Astra Buana (Garda Otto). Suatu saat Colt Diesel Mitsubish saya G 1828 CG mengalami kecelakaan di Pamanukan, Jabar hingga kondisinya rusak parah. Beruntung mobiI dilindungi asuransi tersebut No 0605782833 sehingga langsung saya klaimkan. Berkat dukungan dari tim ACC Tegal, klaim dapat dijamin 100%. Terima kasih kepada Bapak Sofi Herlambang (kepala di Tegal), Bapak Edi (AAB) dan semua pihak yang membantu saya. Wahyu Pranoto STP Dukuhwringin RT 16/RW 9 Wanasari, Brebes *** Kritik untuk SM Saya pembaca setia Suara Merdeka sejak 1975. Di usia ke-57 ini, saya tahu persis perkembangan berita- berita yang paling aktual dan mutakhir. Jadi memang pas disebut ''Korannya Wong Jawa Tengah''. Namun saya ingin menyampaikan kritik untuk harian tercinta ini. Pada terbitan tertentu terutama di halaman depan (1) terkadang tidak berwarna atau hitam putih melulu. Ini kan lucu, bahkan putri saya yang duduk di Kelas VII SMP nyeletuk: "Lho Pak, di zaman modern gini kok masih ada koran yang gambarnya tidak berwarna ya?". Untuk itu mohon agar gambar/foto di halaman depan dibuat full collor, sehingga menarik pembaca dan juga pembeli eceran. Khusus rubrik Teknologi, artikelnya cukup menarik dan selalu saya kliping. Mohon juga gambar Kapsul Kesehatan diperbesar biar enak dibaca. Bagaimana kalau Suara Merdeka bernostalgia dengan pembaca setianya dengan memuat lagi komik Tarzan karya Edgar Rice Bourough?. Terakhir, saya mendukung usulan Sdr Suhani tentang pemuatan kembali setiap bulan naskah/tulisan di kolom Surat Pembaca yang ''terbaik". Misal tulisan Sdr Aryo Widiyanto, Joko Suprayoga, Moeljono Hp, Noor Rofiq dan lainnya. Hari Yudhotomo Getan Kidul RT 2/RW 4 Boja, Kendal - Terima kasih kritik dan sarannya. Soal kadang tak full collor, karena ada masalah teknis dan saran yang lain, kami pertimbangkan-Red *** Wong Cilik Kejet-kejet Rasanya rezim saat ini kurang bisa memahami kehidupan wong cilik yang jangankan menyekolahkan anak - anaknya, mencukupi biaya makan sehari-hari saja sudah kalang kabut. Di sana-sini banyak rakyat yang makan nasi aking dan tidak sedikit yang harus nrimo dengan makan singkong. Termasuk mereka yang tidak bisa makan secara wajar sehingga balita dan anak-anak dalam masa pertumbuhan kekurangan gizi. Wakil rakyat yang diharapkan mewakili aspirasi rakyat kenyataannya hanya meributkan rapelan dan laptop serta interpelasi. Padahal kalau menjelang pemilu mereka menyembah - sembah rakyat. Dengan kebijakan 1 April 2007 yang menelorkan kenaikan harga BBM dan beras, komplit sudah penderitaan rakyat yang benar-benar sampai ke ulu hati. Rakyat memang identik dengan langkahnya yang pendek, jangkauan tidak jauh, makan tidak bergizi, sekolah nggak muluk - muluk meski mereka punyai cita - cita. Kiranya singkatan di bawah ini tidak dianggap plesetan, sebab bagi wong cilik adalah fakta yaitu : Pertamina : Per Tahun harga Minyak Naik SBY-JK : Sulit Bensin, ya Jalan Kaki. Miyono Lemah Mendak RT 1/RW 6 Mijen, Semarang *** Tawarkan Prangko Saya punya prangko bekas cukup banyak, ada 150-an buah lebih yang saya koleksi sejak duduk di bangku SMA tahun 1994-an. Prangko koleksi saya mulai keluaran tahun 1980-an sampai 2000-an. Sebagian saya simpan dalam sebuah stamp album, lainnya ditaruh di amplop. Sayang koleksi itu sekarang tidak terawat dan mulai banyak yang rusak. Untuk itu, saya bermaksud menawarkan kepada para penggemar prangko (filatelis). Kalau mungkin mengganti sepantasnya. Uang itu rencananya akan saya gunakan sebagai tambahan membeli buku bacaan. Kebetulan dalam waktu dekat saya berencana merintis pendirian rumah baca untuk umum. Muchlisin (0292) 659351 Jl Muh Kurdi 27 Godong, Grobogan *** Budayakan Malu Kondisi negara saat ini sungguh membuat miris. Cobaan demi cobaan datang tanpa diundang dan tak terduga dan membawa bencana besar. Tapi entah kenapa banyak pihak yang seharusnya bertangung jawab, hanya saling lempar tanggung jawab. Mereka tidak berusaha mengatasi bencana atau memperbaiki kerusakan. Yang menolong justru kebanyakan ada udang di balik batu. Mereka memanfaatkan bencana yang menyengsarakan rakyatnya demi keuntungan diri pribadinya. Mari budayakan malu. Budayakan kita masih punya hati, perbuatan kita benar dan tidak menyusahkan orang lain serta jangan memalukan. Dengan malu akan selalu mengingat kelakuan buruk kita karena dengan malu maka hati akan terjaga. Moch Maemun Ridlo Kalijaran RT 4/RW 1 Karanganyar, Purbalingga *** Soal TNT Ekspress Sehubungan permohonan penjelasan dari Ibu Istiqomah di Surat Pembaca 18 April 2007 mengenai kirimannya ke Dumai, kami minta maaf atas keterlambatan tersebut. Juga kami jelaskan bahwa masalah ini telah diselesaikan kedua belah pihak dan Ibu Istiqomah menerima kompensasi atas keterlambatan pengiriman tersebut. Kami telah beroperasi sejak tahun 1979 senantiasa berupaya memberikan dan meningkatkan layanan serta mematuhi peraturan. Bayu Irawan Marketing & Communications Manager |