logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 April 2007 INTERNASIONAL
Line

Rakyat Prancis Pilih Presiden Baru

PARIS - Rakyat Prancis mulai memberikan suara untuk memilih presiden mereka, Minggu kemarin. Pemenang dalam pemilihan presiden kali ini sulit diprediksi.

Hal itu antara lain disebabkan oleh adanya jutaan pemilih baru dan banyak dari mereka belum menentukan pilihan sampai menit-menit terakhir menjelang pemungutan suara.

Kendati demikian, sejumlah jajak pendapat menunjukkan Nicolas Sarkozy (52) dari kubu konservatif dan capres wanita dari kubu sosialis Segolene Royal (53) diunggulkan untuk masuk ke putaran kedua yang akan diselenggarakan 6 Mei.

Secara keseluruhan ada 12 capres yang bersaing dalam putaran pertama ini.

Siapa pun kandidat yang terpilih sebagai pengganti Jacques Chirac itu harus menghadapi banyak masalah ekonomi dan keretakan sosial, terutama terasingnya komunitas muda muslim Prancis.

Kementerian Dalam Negeri menyatakan, tingkat partisipasi pemilih (turnout) mencapai 31,2 persen dari 44,5 juta pemilih terdaftar. Itu merupakan turnout tertinggi dibandingkan dengan empat pilpres sebelumnya.

Lebih Besar

"Tingkat partisipasi pemilih kali ini sekitar 31 persen. Itu berarti lebih besar dari pilpres tahun lalu," kata Romain Pinault, petugas pemilu di sebuah tempat pemungutan suara (TPS) Distrik 8 Paris.

Ada sekitar 3,3 juta pemilih baru. Sebagian besar pemilih baru itu berasal dari permukiman imigran yang dilanda kerusuhan pada 2005. Lembaga-lembaga survei menyatakan, jumlah pemilih mengambang yang belum menentukan pilihannya sekitar 30 persen.

"Saya berharap, Sarkozy dan Segolene masuk ke putaran kedua," kata Laurence Rouquette (40), pialang barang antik, setelah memberikan suara di pinggiran Paris. "Biasanya saya memilih untuk kandidat minoritas. Namun kali ini saya memilih kandidat unggulan."

Sarkozy tersenyum saat dia memberikan suara bersama istrinya, Cecilia. Itu merupakan kemunculan pertama suami-istri tersebut, setelah perkawinan mereka diisukan bermasalah.

"Yang paling penting, rakyat Prancis berbondong-bondong memberikan suara. Ini merupakan masa kejayaan demokrasi Prancis," kata dia di kawasan Neuilly, pinggiran Paris.

TPS-TPS ditutup pada siang hari di wilayah timur negara itu, sebagian besar ditutup pada pukul 14.00 waktu setempat.(rtr-ben-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA