| Senin, 23 April 2007 | BUDAYA |
PERCIKBudaya Othokowok
KETIKA sekelompok pemain jatilan trance, pesinden melagukan tembang rancak "Othokowok". Para pemusik pun memukul perkusi bertalu-talu dalam irama rancak. Para pemain yang telah lebih dalam terhipnotis, megal-megol, larut dalam ingar bingar budaya othokowok. Othokowok, othokowok mbang juwawut/Othokowok, othokowok mbang juwawut/Bola-bali mbang juwawut.... Apa sebenarnya yang terjadi? Seseorang yang trance, ndadi, berada dalam hypnosis state. Saat itu gelombang pikiran mereka pada posisi alpha atau tetha. Jika diukur dengan electroencepalograph (EEG), gelombang pikiran itu berada pada angka 4 12 circle per second. Pikiran jadi sangat sugestif. Mau menerima apa pun yang disugestikan ke pikiran bawah sadar. Setelah memperdalam ilmu hipnosis di Banyan Hypnosis Center, California, AS, saya masih tertegun menyaksikan permainan itu. Dulu, saya anggota kelompok kesenian jatilan Turangga Muda di Borobudur. Jadi, saya ingat persis bagaimana suasana ketika "Othokowok" dilantunkan. Saat pemain jatilan, reog, kubro siswo, kuntulan, ebeg ndadi, yang bersimaharaja pada diri seseorang bukan setan bin demit. Ia adalah pikiran bawah sadar, gudang ingatan, tumpukan pengertian tentang ilok dan ora ilok, boleh tak boleh, baik dan buruk, gambaran diri, dan hal-hal lain yang membentuk kepribadian. Saat ndadi, apa pun yang disugestikan ke pikiran, sejauh tak bertentangan dengan sistem kepercayaan, akan mereka terima dengan gampang. Persoalan muncul manakala ke pikiran seseorang yang ndadi disugestikan lagu Othokowok, Bojo Loro, Mendem Wedokan, Paman Doblang, Ndang Baliya Sri, Tali Kotang ber-senggakan berbau porno. Itulah kebudayaan yang menjerumuskan. Siapa pun yang masih mengimani tembang "Othokowok" dan selalu menancapkannya saat ndadi akan berpembawaan othokowok. Karena, apa yang dipikirkan itulah yang jadi kenyataan dalam dunia empiris. Coba simak tayangan hipnotis di televisi. Apa pun yang disugestikan sang juru hipnosis ke pikiran bawah sadar suyet, subjek hipnosis, itulah yang terjadi dalam kenyataan empiris. Jika dalam pikiran seseorang lupa nama, organ tubuh untuk menyebutkan nama pun tiba-tiba macet. Jika seseorang disugesti atau menyugesti diri terus-menerus bakal gagal, organ tubuh yang menunjang keberhasilan pun tertutup dan macet. Sebaliknya, jika terus-menerus disugesti atau menyugesti pikiran bawah sadar bakal sukses, organ kesuksesan pun bekerja untuk mewujudkan. Nah, jika terus-menerus menyugesti diri sebagai othokowok, Anda tentu tahu hasilnya bukan? (53) |