logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 April 2007 BUDAYA
Line

Puisi Anis Mengawini Musik

TAK puas mengolaborasikan puisi dan musik, Anis Sholeh Ba'asyin dan Kelompok Musik Sampak Gusuran memasukkan unsur pedalangan pada pertunjukan mereka. Itulah yang dilakukan para seniman dari Pati itu, Sabtu (21/4) malam, di hall Taman Krida, Kudus, saat jadi penutup "Parade Teater dan Puisi" untuk merayakan hari ulang tahun PMII.

Sebelum memulai pertunjukan "Mari Gila Bersama: Wis Ngedan Ora Keduman", Anis meminta penonton membaca surah Al-Fathihah. "Doa ini kita tujukan untuk rekan, saudara, dan salah satu pemikir Sampak Gusuran, Ryantorro, yang meninggal seminggu lalu," ujarnya.

Anis memulai dengan komposisi musik puisi "Jaman Akhir". Cabikan dawai gitar serta pukulan saron, peking, dan gender dengan nada cukup progresif menggugah adrenalin penonton. Anis pun melagukan puisi sebagai syair komposisi.

Namun terkadang dia menonjolkan pembacaan puisi, diiringi musik minimalis. Komposisi berikutnya, seperti Syair Cinta Pinggir Jalan, Jaman Gugat, Suluk Mabuk Segala Jurusan, Pantun Jadi-jadian, pun mulus meluncur.

Orkes puisi Anis memang tak jauh beda dari musikalisasi puisi. Cuma, nuansa musik Sampak Gusuran lebih condong ke musik pesisiran dan pinggiran. Pola pukulan pada gamelan dengan ansambel kecil. Permainan ansambel kecil, tak lengkap, itu umumnya digunakan pada kesenian rakyat yang jauh dari lingkungan keraton.

Puisi Anis yang sarat diksi Islam dikondisikan dengan permainan perkusi, semacam terbang dan jimbe. Namun Sampak Gusuran tak meniru pakem terbang dalam tradisi Islam.

Mereka menerjemahkan religiusitas syiar Anis dengan permainan yang cenderung kontemporer. Pukulan terbang disahuti alat tiup, jelas meninggalkan pakem permainan terbang.

Pemakaian slompret yang biasa dipakai dalam reog atau barongan menunjukkan warna etnis musik pinggiran. Ya, itu sesuai dengan nama "Gusuran" dari permainan bentuk kata "gusuran" yang bisa diartikan penggusuran.

Malam itu, bukan cuma musik yang mengawini puisi. Anis juga menyampaikan buah pikiran melalui wayang. Tak seperti pembacaan puisi atau musikalisasi, saat itulah sindiran Anis terasa lebih natural.

"Saya wayangan lagi. Dulu, tahun 80-an, saya pernah memakai konsep ini," ujar Anis. (Sony Wibisono-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA