logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 April 2007 PANTURA
Line

Sebayu Menggugat Hari Jadi Kota Poci

PENETAPAN tanggal 12 April sebagai hari jadi Kota Poci menjadi polemik di tengah masyarakat. Bahkan, Sebayu yang selama ini dijadikan tokoh pendiri kota itu mengajukan gugatan. Sebab, dia merasa tidak lahir pada tanggal itu, yang tiba-tiba ditetapkan dan disepakati sebagai hari jadi.

Karena itu, Sebayu kemudian menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Dia menggugat Ketua DPRD Kota Poci, Kanapi SH dan empat ketua faksi yaitu Darjo, Abu, Paijo, dan Kopral. Sebab, mereka dinilai melakukan kesalahan fatal atas penetapan hari jadi Kota Poci yang menyebabkan gonjang-ganjing dahsyat, karena 12 April konon merupakan tanggal pelantikan Wali Kota Poci saat itu, Samsuri.

Bulan ke-4 (April) melambangkan rekayasa dari keempat fraksi yang membuat keputusan. Itu terjadi karena sidang berakhir buntu. Mereka bingung, sehingga memutuskan tanpa melalui kajian sejarah. Akibatnya, saat persidangan "Gugatan Sebayu" digelar, terjadi saling tuding antara penggugat dan tergugat.

Bahkan, pembela yang dipercaya mematahkan gugatan justru membelot karena sakit hati lantaran merasa dibohongi. Akhirnya, sidang kacau-balau. Untuk mengatasi keadaan itu, hakim terpaksa merangkap menjadi pembela.

Dia pun kemudian menerangkan bagaimana menentukan penanggalan dan siapa tokoh yang layak menetapkan hari jadi. Namun, karena masih saja kacau, hakim memutuskan sidang ditunda.

Amandemen

Tak berselang lama, muncul Wali Kota Poci yang saat ini menjabat, yaitu Wiwin. Muncul pula para calon wali kota yang akan bersaing dalam perebutan kursi kepemimpinan tahun depan, yaitu Jaya, Munir, dan Tanto. Mereka kemudian berkampanye dan berjanji, apabila terpilih akan mengamandemen persoalan penetapan hari jadi dan menyejahterakan wong cilik.

Itulah naskah parodi dengan lakon "Sebayu Gugat" yang dimainkan sejumlah pekerja seni di Gedung Kesenian Kota Tegal, Senin (16/4) malam. Mereka antara lain, Tambari Gustam, Wijanarto, Rudi Iteng, Lutfi AN, Entieh Mundakir, dan Sunaryo. Cerita itu merupakan karya dari Lanang Setiawan dan Nurgundiono. Penata musik adalah M Gunadi dan artistik panggung Ki Bontot Sukandar bersama Widodo.

Melalui pentas itu, tampaknya mereka menyentil para pejabat yang kini sedang bersilang pendapat dalam menentukan hari jadi Kota Tegal.

Meski persiapan pementasan hanya beberapa hari, mereka tampil ciamik. Terbukti puluhan penonton yang terdiri atas pejabat, pekerja seni, dan masyarakat umum merasa terhibur.

Ini terbukti dari tawa mereka--bahkan sampai terbahak-bahak--yang kerap pecah ketika melihat tingkah para aktor itu. (Wawan Hudiyanto-65)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA