logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 18 April 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Para Wakil Rakyat

Siapa yang tak kenal jargon " kembali ke laptop ". Ya, jargon ini dipopulerkan Mas Tukul lewat acara Empat Mata. Laptop, komputer kecil yang bisa dijinjing ini demikian ngetopnya. Lihat di setiap pameran komputer, barang yang paling banyak terjual adalah laptop. Tukul telah memopulerkan barang yang seharusnya bisa untuk meningkatkan SDM.

Di Jakarta sana, dengar beritanya. Wakil rakyat pun tak mau kalah. Mereka semula usul mendapatkan fasilitas lapotop. Tidak tanggung-tanggung, harganya Rp. 21 juta per unitnya. Sebagai orang awam, saya bertanya-tanya, seberapa canggihkah peralatan itu sehingga harganya sedemikian mahal.

Padahal yang saya tahu di pameran harganya ada yang cuma Rp 5 juta saja. Saya pun jadi berfikir, apakah laptop Rp 21 juta itu bisa beroperasi sendiri tanpa bantuan pemakainya. Bagaimana seandainya anggota Dewan ada yang tidak bisa bahkan mungkin tidak kenal laptop, apakah juga akan memberikan manfaat bagi peningkatan kinerjanya ?

Benar kiranya apa yang dikatakan ketua MPR Hidayat Nurwahid, bahwa wakil rakyat yang mengenal dan bisa menggunakan laptop sudah lama memiliki sendiri. Sedang yang belum punya, bisa dipastikan wakil rakyat tersebut tidak bisa menggunakan laptop (SM,220307). Mengapa juga hare gene masih tega-teganya menyakiti hati rakyat.

Masihkah mereka berpikir dan punya hati nurani untuk rakyat. Tahukah mereka akan penderitaan yang dialami saudara-saudara kita yang jadi korban lumpur panas Lapindo, gempa, longsor, banjir, kelaparan dan lainnya. Laptop Rp 21 juta akhirnya tak jadi dibagikan karen amendapat reaksi keras dari rakyat.

Anggarannya bisa digunakan untuk hal lain yang lebih manfaat. Kalau hal kecil ini dilakukan, sepertinya masyarakat adil makmur dan sejahtera tinggal menunggu hari yang tidak terlalu lama..

Arief Budi Kusuma

Beringin Putih D2/14 Ngaliyan, Semarang.

Budaya Kekerasan

Melihat peragaan kekerasan di IPDN yang akhirnya membawa korban meninggal dunia yaitu Cliff Muntu dan sebelumnya Eri Rahman (2000) serta Wahyu Hidayat (2003), sungguh hati ini merasa sangat miris.

Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan kekejaman aksi itu selain " para senior pelaku kekerasaan sungguh bukan manusia waras hati nuraninya".

Bayangkan, para yunior dengan mata tertutup digebuki oleh para senior secara leluasa. Kebrutalan dan kekejaman terus dipupuk dari generasi ke generasi berikutnya. Model pendidikan pro kekerasan seperti yang terjadi di IPDN sangat berbahaya bagi penegakan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Para pelaku jelas bukan mahasiswa beradab, mereka brutal dan antikemanusiaan. Namun, sangat tidak adil jika hanya menyalahkan praja tanpa melihat bagaimana para pejabat mendesain pendidikan bagi mereka. Akibatnya mereka tumbuh menjadi liar dan brutal. Ketika terjadi kecelakaan, para pejabat termasuk rektor selalu menimpakan kesalahan hanya pada mahasiswa saja.

Di lain sisi para pejabat tidak mau melihat kenyataan yaitu apa yang selama ini terjadi di asrama dan di lapangan. Ini ciri khas para pejabat kita yang selalu mencari kambing hitam pada setiap kegagalan tugas. Mereka tidak mau mengakui kelemahan dan kesalahannya kemudian minta maaf secara terbuka dan segera undur diri.

Dilihat dari grafiknya, kekerasan di IPDN benar-benar telah terjadi secara sistematik. Mustahil bila tidak diketahui pejabat setempat. Yang menjadi tanda tanya, apakah para pejabat yang ada di lingkungan tersebut dibuat tidak berdaya atau tidak berkutik oleh ulah para mahasiswanya?.

Jika hal ini yang terjadi, berarti dalam tubuh IPDN telah terjadi kerusakan yang fundamental baik secara manajemen maupun secara ideologis. Sangat menyedihkan jika kita tidak mau belajar pada kesalahan yang sama di masa lalu. Mereka benar-benar lebih tolol dari seekor keledai. Mari lihat bagaimana penyelesaian persoalan ini.

Suprayitno

Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang

***

Reformasi di IPDN

"Cliff Muntu dianiaya sepuluh orang, Kasus kematian Praja Madya IPDN", demikian judul berita di harian ini beberapa waktu lalu. Isinya Cliff, praja madya, ketua Kontingen Sulavvesi Utara yang meninggal dunia akibat dianiaya seniornya. Belum luput dari ingatan, tahun 2003 pada saat masih bernama STPDN, seorang praja bernama Wahyu Hidayat, juga meninagal dunia dengan cara sama.

Atas desakan masyarakat, kejadian ini memicu dilakukan reformas hingga STPDN menjadi IPDN. Harapan agar budaya militeristik di lembaga ini dihilangkan, diganti dengan budaya pelayanan sesuai dengan tugas para praja setelah lulus. Kini peristiwa yang sama kembali terjadi, budaya militeristik di IPDN ternyata belum hilang, bahkan makin menjadi-jadi.

Seperti pengakuan seorang dosennya di teve, bahwa "pembinaan" oleh senior kepada yuniornya dilakukan dengan cara memukul perut sampai sempoyongan atau perut ditendang sampai terjengkang, seperti yang kita lihat di layar kaca. Itu sih bukan militeristik tapi perlakuan pada tawanan perang.

Inti militeristik adalah disiplin bukan kekerasan. Apakah para pamong praja setelah lulus harus tahan pukul dan tahan tendang, sehingga pembinaan yang dilakukan, kental dengan kekerasan. Sebagai orang luar yang tidak tahu bagaimana kurikulumnya, masyarakat umum tentu bertanya dan menyimpulkan bahwa kurikulurnnya bisa jadi lebih militeristik dibanding Akademi Militer.

Buktinya, kita tidak pernah mendengar ada Taruna Akaderni Militer yang tewas dianiaya seniornya. Di IPDN, sudah 37 praja tewas saat pendidikan. Hal ini juga pengakuan dari dosen tadi bahwa hampir semua yang tewas karena penyakit "lever buatan sadium 4'' akibat dada retak dan lever hancur, sungguh mengerikan.

Walau sudah direformasi, tidak mudah menghilangkan atau merubah budaya kekerasan yang sudah turun temurun. Karena motivasinya balas dendam, senior tentu ingin melampiaskan dendam ke yuniornya sebab dulu dia pun diperlakukan sama ketika masih yunior.

Kita berharap, agar kejadian ini adalah yang terakhir karena tidak bisa dibayangkan bila terjadi pada anak, adik bahkan tetangga kita yang menjadi praja. Sekarang yang perlu dilakukan tidak cukup hanya dengan merubah kurikulum saja tapi sebuah reformasi.

IPDN bukan lernbaga pendidikan militer yang steril dari dunia luar tapi merupakan lembaga pendidikan sipil yang mengikuti kaidah yang berlaku di suatu perguruan tinggi. Yang lebih penting, kasus ini harus diusut sampai tuntas, hukurn pelakunya setimpal dengan kesalahannya.

Rukhiyat M

Plamongan lndah Blok D I/11-12, Demak

***

Layanan TNT Ekspress

Pelayanan TNT Ekspress di Jl Imam Bonjol Semarang tidak memuaskan konsumen. Mereka menawarkan banyak jasa termasuk katanya lebih bagus dari pengiriam lewat pos. Beberapa waktu lalu saya mengirim paket ke Dumai lewat TNT Ekspress yang lebih cepat dengan pembayaran sistem dolar senilai 25 dolar atau sekitar Rp.250.000 dengan paket 1 hari sampai.

Tapi saya menghendaki pengiriman yang lebih cepat. Kemudian petugasnya menawarkan service yaitu Before 9 am Express, pengiriman lebih cepat bila diserahkan sebelum pukul 09.00 dengan tambahan uang Rp100 ribu. Akhirnya saya menyetujui, Tapi kenyataannya informasi yang disampaikan kepada saya berbeda satu dengan lainnya .

Seorang petugas menyatakan paket sudah diantar kira-kira sampai pukul 16.00 hari itu juga, tapi yang lain bilang barang masih di agency Dumai dan baru besok dapat delivery kira-kira pukul l0.00, Akhirnya saya minta pertanggungjawaban TNT. Mereka bilang, semua pengiriman mengalami keterlambatan akibat hilangnya SMU (Surat Muatan Udara).

Dinyatakan, semua barang tertahan di bandara. Apa ini yang disebut pengiriman ekspress. Itu baru boneka pelagi kalau dokumen penting maupun makanan

Istiqomah

Jl Jagalan Tengah 192, Semarang

***

Menyiapkan Generasi

Berakhlak

Depag tengah mengkaji ulang pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama di sekolah, untuk dapat lebih memberikan bekal moral, budi pekerti dan perilaku yang baik kepada anak didik. Hal tersebut dikatakan Menag Maftuh Basyuni bekum lama ini. Ada pepatah, guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Namun tidak perlu menyalahkan generasi tua ahli korupsi karena sudah ada pihak berwajib yang mengurusnya. Kita hanya perlu memproteks generasi muda untuk tidak ikut-ikutan tambeng seperti generasi tua. Hanya masalahnya bagaimana menetralisasi sesuatu yang terlanjur dikonsumsi dari hasil penipuan. Padahal itu nantinya yang bakal menjadi darah dan daging.

Bagaimana mempersiapkan anak didik untuk lebih bermoral, berbudi pekerti dan berperilaku baik ?. Bila mereka setiap hari selalu mendapatkan asupan yang terkontaminasi dan tidak steril hasil olah otak dan kreasi apus-apus. Padahal itu nanti yang akan menjadi darah dan daging serta pandangan pola pikirnya.

Pembentukan mental, akhlaq dan kepribadian anak didik tidak cukup sekadar merevisi model pendidikan agama di sekolahan yang hanya sekian jam perhari. Namun melibatkan juga peran aktif orang tua di rumah di samping faktor lingkungan yang tidak kalah pentingnya dalam proses pembentukan mental kepribadian anak.

Kadang kita masih suka sembrono dalam menanamkan spirit nilai-nilai terapan agama di rumah sejak usia dini. Padahal roh agama masih kita anggap sebagai benteng pertama dan terakhir bila kita laksanakan dengan benar dan tepat. Ayatnya pun jelas innasshalaata tanha 'anil fahsyaa i wal munkar.

Isinya mengandung maksud, bila salat dilaksanakan secara benar maka akan dapat menjauhkan dari perbuatan keji dan tercela. Pembekalan moralitas memang tidak mudah mengais hasil. Sejak zaman orde baru ada proyek P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tapi apa yang terjadi?.

Sampai sekarang pengingkaran nilai-nilai murni Pancasila terus terjadi walaupun santiaji/pembekalan telah dilaksanakan di mana-mana dengan menghabiskan anggaran yang tidak sedikit.

Maka bila ingin menciptakan generasi berakhlaq, mestinya kita perlu memperhatikan asupan terhadap mereka. Terkontaminasikah atau tidak.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

Menjawab Keraguan

Menanggapi Surat Pembaca belum lama ini berjudul "Jawaban Keraguan", saya mewakili manajemen Hanoman Tour Semarang mengucapkan terima kasih atas masukannya. Saya berpendapat bisnis jasa tidak harus dilihat dari kantornya saja tetapi kredibilitas para pengelolanya.

Semua sepakat servis dan pelayanan ini yang ingin kami tonjolkan. Terus terang dari kepercayaan dan kepuasan para konsumenlah perusahaan ini akan terus hidup dan eksis di dunia pariwisata. Untuk itu kepuasan konsumen akan terus kami jaga dan tingkatkan.

Drs Charis Supartono

Jl Watugunung I/83 Krapyak, Semarang

***

Tentang RSU Tugurejo

Menanggapi Surat Pembaca 8 April 2007 dari Sdr Joko Susanto SE di Tambak Aji RT 10/RW 12 Ngalian Semarang, kami turut menyesal atas kehilangan yang saudara alami. Juga mengucapkan terima kasih masukannya untuk meningkatkan sistem keamanan di RSUD Tugurejo.

Security kami pernah 3 kali menangkap pencuri yang beroperasi di RSUD ini dan selanjutnya diserahkan ke Polsek Tugu. Di setiap ruang rawat inap kami juga membuat imbauan baik tertulis rnaupun peringatan kepada pasien/keluarga untuk tidak membawa barang berharga.

Isinya bahwa kehilangan tidak menjadi tanggung jawab RS. Namun masih saja ada orang yang mencari kesempatan/kelengahan untuk mencuri barang milik pasien/keluarga pasien. Harapan, semua pihak agar menjaga kewaspadaan.

Manajemen RSUD Tugurejo

***

Abad Pemerkosaan

Barangkali tidak ada masa yang tak sarat dengan perkosaan. Dimulai lonceng perang Jepang yang mabuk kemenangan dengan menggerakkan ambisinya menantang Rusia hingga meletus perang.

Kala itu dunia pun terbangun dari tidurnya, terperangah. Hasrat untuk memperoleh kemenangan telah menggerakkan banyak pelanggaran terhadap hak orang lain. Dunia diberingaskan oleh kiat barunya.

Kemudian pertumpahan darah sudah bukan hal mengejutkan lagi. Justru menjadi pertunjukan. Orang tidak lagi heran atas perilaku ini dan justru dilakukan tanpa rasa penyesalan.

Dalam perkembangannya diilhami "keuntungan", maka dilakukan perkosaan yang dimodifikasi sedemikian rupa halusnya hingga tidak lagi dirasakan sebagai laku brutal yang pada gilirannya dipandang sebagai masalah biasa.

Kemudian sering terjadi perzinaan yang tidak lagi dipandang sebagai perbuatan maksiat. Nahkan menjadi topik di layar bioskop, di layar kaca saat ini sekaligus menjadi tontonan yang menggembirakan. Bahkan perzinaan mestinya merupakan perilaku tidak layak, berubah menjadi mentah karena diberi label pramuria atau lokalisasi, resosialisasi.

Semangat itu kini mewabah generasi sekarang. Perkosaan barangkali diratapi orang-orang pinggiran tapi sebagai hal biasa oleh orang perkotaan tanpa sanksi hukum. Apakah hal ini semata gambaran maya orang pinggirran yang sakit hati dan kalah hingga kemudian mencari "hiburan" batin?.

Kita telah banyak melakukan perkosaan yang "dimaafkan". Misal pelanggaran untuk memperkaya diri. Laku serupa kini merupakan sesuatu yang dapat dikatagorikan sebagai dosa, tetapi dibungkus dengan kemasan "kepentingan terpuji". Kita pun girang menikmati kebanggaan yang sesungguhnya bukan milik kita.

Kita malu mengakui keadaan yang sesungguhnya. Malu mengakui kemiskinan dan kekurangan. Keinginan memperkosa menjadi-jadi di saat ini. Canggihnya teknologi komunikasi telah melahirkan perkosaan lebih "sublim". Contoh dalam beriklan. Iklan dipandang sebagai sesuatu yang wajar,tapi pada sisi lain konsumen dipaksa mengakui keunggulan produk tertentu. Penggeraknya sama saja, uang.

Pemaksaan lebih mencolok saat mengikuti tayangan film di teve swasta. Kita terang-terangan telah diperkosa untuk "menelan" iklan di tengah film yang isinya pun penuh adegan amburadul, amoral seperti berbagai perkosaan dan lainnya..

Akan menjadi apa anak-anak kita nantinya. Generasi apakah nanti jadinya bila anak-anak siang malam dijejali adegan perkosaan. Dari celah mana demokrasi hendak ditanamkan kepada anak-anak hingga diinsafi sebagai kenikmatan yang benar?

Amar Makruf

Purwogondo,Kalinyamat,Jepara

***

Laptop

Namaku laptop

Berbenuk tas koper

Kakak kandung komputer

Dioperasikan orang pinter

Yang gaptek pasti gemeter

Namaku laptop

Dipopulerkan seorang komedian

Reynaldi lelaki julukan

Memahami teks bacaan

Jika trabel kelabakan

Namaku laptop

Kini aku jadi dambaan

DPR yang ingin tampilan

Tenteng tapi bingung operasikan

Atau untuk anak sebagai mainan

Namaku laptop

Lusa rumahku di gedung dewan

Tuanku rapat aku sebagai teman

Utak-atik game sedikit catatan

Padahal hargaku duapuluhsatu juta

Namaku laptop

Semoga aku tidak dibagikan

Ke 550 anggota dewan

Apalagi dibeli dengan paksaan

Padahal uang rakyat kebanyakan

Namaku laptop

Syukurlah aku dibatalkan

Anggaran tidak perlu dikeluarkan

Semoga kelak tidak lagi ada usulan

Yang bikin rakyat makin gelagepan

Agus Eko Santoso

Pondok R Patah Blok K1/21, Demak


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA