| Kamis, 12 April 2007 | WACANA |
Surat PembacaAku Ingin KuliahDi sekolahku SMK 3 Boja Kendal aku bukan murid terpandai. Namun sejak kelas satu ranking tiga besar selalu menyertaiku, terakhir meraih juara I lomba Mapel Matematika antar-SMK tingkat kabupaten 2007 (piagam terlampir). Setelah lulus aku ingin sekali melanjutkan kuliah jurusan matematika/fisika. Tapi apa daya, pekerjaan bapakku hanyalah buruh/kuli bangunan sedang ibuku mencari tambahan penghasilan dengan berjualan jajanan di luar pagar SD. Kadang dilarang berjualan karena di dalam sekolah sudah tersedia kantin. Jangankan biaya kuliah, mendengar harga formulir pendaftaran yang ratusan ribu rupiah saja, jauh jauh hari orang tuaku sudah angkat tangan. Saya berharap ada pembaca/orang tua asuh/donatur/pejabat atau siapa saja yang dapat membantu cita-cita seorang anak bangsa ini dengan segala konsekuensinya. Terngiang selalu mutiara kata dari guruku, "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit nak". Ya Bu, aku ingin kuliah. Adi Sulistyo Siswa SMK 3 Boja, Kendal Andai Aku Pejabat Aku ditakdirkan menjadi rakyat. Coba kalau sekarang jadi pejabat, pasti aku pusing sebab harus mencari tempat membuang lumpurku. Juga harus mencari jalan ke mana lagi rakyatku yang dilenyapkan oleh Senopati dan AdamAir. Kemudian harus sibuk mencarikan tempat relokasi gempa di Padang dan Solok. Aku juga tidak tega melihat jamaah hajiku minta makan tetangga serta tak tega melihat rakyatku terkena sepakan Garuda. Menjadi pejabat belum tentu enak terus. Salah bertindak akan menuai badai yang ujung-ujungnya berurusan dengan kepolisian atau KPK. Tapi satu hal yang kukagumi dari mereka yang jadi pejabat, yaitu nyalinya tinggi. Terbukti tidak mudah putus asa menghadapi berbagai bencana dan musibah silih berganti. Kesabarannya sungguh mengagumkan walau mungkin kursi yang diduduki sudah mulai terasa hangat dan sebentar lagi jadi panas. Namun panasnya dirasa masih suam-suam kuku sehingga bila diduduki malah enak, bahkan menyehatkan. Tapi mungkin tidurnya kurang jenak sehingga bolak-balik nglilir karena pikiran melayang ke TKP (Tempat Kejadian Perkara). Andai yang menjadi pejabat itu aku, belum tentu sekuat mereka mengemban amanah rakyat yang sedemikian berat ini. Untuk itu aku patut bersyukur karena tidak dimintai pertanggungjawaban tentang amanah yang kuemban. Ya, karena tidak dibebani berkarya untuk rakyat. Karyaku cukup mengurusi buruh kecil di sebuah pabrik tekstil di Bawen. Orang kecil itu pikirannya simpel tapi mentes. Bila janji bisa dipastikan karena tidak molor seperti ganti rugi limpur Lapindo atau bantuan korban gempa Klaten/Yogyakarta. Dalam bekerja pun mereka tuntas. Tidak seperti kasus Marsinah, Udin, Kutaduli. Di samping itu juga tidak salah alamat seperti kasus Sengkon-Karta, Pak De dan lainnya. Namun yang mengherankan, dalam situasi serba sulit seperti ini kok ya masih ada dan bahkan banyak yang rela merogoh kocek berkoper-koper hanya untuk mengejar amanah. Sejatinya amanah merupakan pemberiaan, bukan sesuatu yang harus diperjuangkan dan ngotot mati-matian. Karena semuanya ada LPJ (Laporan Pertanggungjawaban)- nya. Pangkat memang mampu menyilaukan mata seperti proyek light on sehingga tetap maju tak gentar membela yang bayar, seperti dalam pilkades, pilkada, pilbup, pilgub. Yang jelas tidak di-pilkate (pemilihan ketua RT) Noor Rafiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Bangjo Tlogosari Bangjo daerah Tlogosari/Supriyadi Semarang pada malam hari terlalu cepat dimatikan. Masa pukul 21.30 atau 22.00 sudah dimatikan sehingga bisa menimbulkan kecelakaan terutama bagi anak muda yang tidak mau mengalah dan langsung rnenerobos tanpa memperhatikan keadaan jalan. Bagaimana Bapak Polisi, kenapa tidak menanggapi serius, padahal ada pos polisi di situ. Saya harap Bapak Polisi rnemperhatikan, juga seluruh lapisan masyarakat bila melewati daerah ini Iebih berhati-hati. Doni Hendrico Yulianto Jl Gustiputri I/37 Tlogosari, Semarang *** Tanggapan Klarifikasi soal SPBU Sukorejo Saya ucapkan terima kasih kepada Sdri Purnawati selaku manajer SPBU 44.513.01 Sukorejo Kendal yang telah menggunakan hak jawab lewat klarifikasinya 5 April 2007. Juga kepada pihak Pertamina, Balai Metrologi Wilayah Semarang serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kendal yang menindaklanjuti komplain saya dengan melakukan ceking serta menera ulang pompa ukur di SPBU tersebut. Dalam masalah ini saya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa sinyalemen adanya kecurangan di SPBU tersebut benar-benar berdasarkan temuan di lapangan melalui wawancara dengan para konsumen yang ada di wilayah tersebut. Yang saya sayangkan, mengapa dalam proses ceking dan tera ulang tidak melibatkan pihak ketiga. Dalam hal ini YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) atau LP2K (Lembaga Perlindungan dan Penyuluhan Konsumen) Semarang sesuai permintaan yang saya tulis di Surat Pembaca 21 Maret 2007. Bila perlu saya dan konsumen lain akan mengontak sendiri lembaga terkait tersebut. S Joko Wiyono Sudagaran Rt 5/Rw 1, Sukorejo *** Lilin-lilin Kecil itu Kini Telah Redup Tak ada yang bisa menerka kapan manusia menghadap ke ribaan-Nya. Demikian juga dengan Chrisye sang legenda, telah berpulang untuk selamanya dengan meninggalkan kenangan yang tak bisa dihapus begitu saja. Album-albumnya selalu dinikmati siapa saja, baik tua maupun muda termasuk konsernya. Beliau dapat bersinergi dengan penggemarnya tnpa menimbulkan bencana dan kesan hip-hip hura-hura seperti pertunjukan selama ini yang sering menimbulkan malapetaka. Terlahir sebagai Lilin-lilin Kecil yang selalu menerangi sekelilingnya, memberi energi bagi penyanyi muda. Kemauan berkolaborasi dengan generasi di bawahnya menandakan beliau berusaha menimba ilmu tak mengenal usia. Tak ada batasan antara yunior dan senior dalam olah suara. Mengesampingkan perbedaan aliran musik berduet dengan Waljinah si penembang Jawa. Bergandeng dengan Ariel Peterpan maupun Ungu, Projek Pop juga Sofia Latjuba. Beliau telah di-sabda alam sebagai penyanyi tiada duanya. Berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri telah diterima, namun tiada kata puas dalam berkarya. Sampai tiga dekade membahagiakan penggemar tanpa ada cela masalah keluarga. Bersikap sederhana. Mengalir begitu saja. Mewujud Merpati Putih melawan kanker paru yang diderita cukup lama. Berbagai upaya sampai ke Singapura. Tak kurang pengobatan alternatif telah dicoba. Hanya semangat penggemar dan keluarga yang menjadikan tegak kepala. Juga peluncuran buku perjalanan karier sang legenda. Badai Pasti Berlalu memang ada . Setidaknya yang berupa derita sekian lama telah sirna. Tapi tak menjadikan yang ditinggalkan menghapus memori begitu saja. Sekumpulan album menandakan Chrisye memang ada. Dan itu selalu terpatri di dada penggemarnya. Agus Eko Santoso Pondok R Patah Blok K1/21, Demak *** Manusiakan Manusia Bila melihat tayangan kekerasan di teve, rasanya ngeri. Kenapa di kehidupan modern ini masih ada tindakan kekerasan yang mematikan. Seperti abad 14 zaman jahiliyah yang lekat dengan istilah perbudakan, di mana yang kuat menindas si lemah, hukum rimba berlaku. Si Lemah hanya menjadi sesuatu yang hina dan tak herguna. Lagipula ini terjadi di sebuah lembaga pendidikan yang mendidik calon pemimpin bangsa. Apa jadinya kalau jiwa pemimpin dari senior kepada yuniornya ini akan berlanjut. Padahal semua praja akan menjadi pemimpin bangsa. Kalau manusia dipimpin orang yang bukan manusia dan tidak memanusiakan manusia, apa jadinya. Padahal Indonesia terkenal adat ketimurannya yang lemah lembut, menghormati yang tua, menyayangi yang muda. Tidak berarti semua kejam dan kasar sebab masih banyak lembaga pendidikan lain yang bisa mendidik kader bangsa andal. Sungguh sayang bila jumlah praja yang meninggal akibat kekerasan seniornya berjumlah 35 orang. Mereka itu pasti putra/putri terbaik, cerdas, pintar, memiliki pisik yang gagah dan menjadi kebanggaan keluarga/masyarakat. Sungguh pantas praja tersebut disebut sebagai pahlawan dan mati sahid. Siapa yang mencari ilmu kemudian mati maka dia mati sahid. Sungguh tidak bisa dibayangkan, betapa sedih orang tuanya yang menggantungkan cita-cita agar kelak putranya menjadi orang yang berhasil, gagah serta disegani orang. Namun, kini mereka tinggal melihat foto kenangan indah dan jasad yang terbujur kaku, dingin, biru lebam kena pukulan di sekujur tubuhnya. Pantas para pelaku mendapat hukuman setimpal. Pelaku tidak hanya yang menganiaya tapi juga lembaga, pimpinan dan semua komponen. Sebab Iembaga pasti ada yang mengatur dan bertanggung jawab, kalau yang digerakkan untuk mengatur manusia pasti aturannya juga manusiawi dan memanusiakan manusia. Kalau pemimpin IPDN mengatakan insiden kekerasan tersebut di luar kontrak dan kemampuannya alias ilegal, jelas cuci tangan ingin lepas dari tanggung jawab. Di sekolah yang tidak mengasramakan siswa saja ada bagian-bagian waktu tanggung jawab. Contoh pukul 07.00 s.d 14.00 tanggung jawab sekolah, yang terdiri dari kepala sekolah, guru BP, wali kelas, dewan guru, satpam/penjaga. Bila siswa melakukan hal yang salah, yang dipanggil pertama adalah pihak sekolah. Terus pukul 14.00 s.d 06.00 tanggung jawab keluarga. Masih banyak lembaga pendidikan unggulan yang mengasramakan siswanya juga tidak sampai terjadi insiden yang berarti apalagi merenggut nyawa. Lihat di pondok pesantren yang jumlah santrinya ribuan orang, tidak pernah ada kekerasan. Kiai tidak punya satpam, alat pendeteksian kejahatan dan semua santri boleh masuk. Tetapi mereka aman-aman saja sebab kiai itu orang yang tahu manusia dan mau memanusiakan manusia. Padahal mereka tidak digaji. Di IPDN berapa uang negara yang digunakan untuk mencetak kader bangsa, agar menjadi pemimpin yang baik, malah menjadi pembunuh yang sadis. Hentikan kekerasan, perbaiki kinerjamu dan sistim pendidikan yang ada, agar tidak terjadi korban lagi. Ngeri Pak Rektor bila melihat tayangan di teve. Muntasiah Adirejo Rt 1/Rw 1 Tunjungan, Blora Pencari Kerja Belum lama ini saya melamar pekerjaan di KSI Indo cabang Semarang. Ketika wawancara saya diminta membayar biaya administrasi sebesar Rp 15.000 di samping diharuskan membeli salah satu produk mereka agar diterima kerja. Namun karena tak bisa, maka saya dianggap gugur. Berdasar kejadian tersebut saya kecewa dan curiga sehingga kehilangan kepercayaan pada iklan lowongan kerja. Bahkan sampai sekarang. Atau mungkin sistem yang berlaku memang seperti itu.Walau begitu saya tetap ingin kerja. Tri Haryanto Jl Sawah Besar Raya Blok B/l, Semarang *** Kenaikan Pensiunan Sejak Januari 2007 terpetik berita, para pensiunan akan menerima tambahan kenaikan gaji pokok 15%. Seandainya benar, mohon agar kenaikan gaji pokok tersebut dilaksanakan pembayarannya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi para pensiunan bila pemerintah selalu memperhatikan gaji para pensiunan dengan kenaikan secara rutin. Juga mohon yang berwenang jangan ngotak-atik peraturan pensiunan yang sudah berjalan hampir 62 tahun. Soengkowo HS Jl Kanoman 131 Bancar, Purbalingga *** Zamannya Komersial Saya bingung atas kebijakan Pemkot yang mengganti air muncrat di Jl Pahlawan Semarang dengan papan iklan. Sebenarnya air muncrat tersebut dibuat untuk mempercantik kota dalam upaya meningkatkan, keindahan ibukota Jateng. Namun realisasinya justru membuat kota Semarang menjadi kurang indah. Belum lagi penggantinya malah papan iklan. Bukankah hal itu justru akan mengurangi keindahan kota? Perlu diingat dalam setiap perubahan, belum tentu menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Butuh pertimbangan matang. Sebaiknya Pemkot tidak mengganti hanya demi kepentingan komersial. Bukankah itu termasuk salah satu bentuk pemborosan yang sebenarnya dapat dihindari. Dana yang besar itu dapat digunakan untuk hal lain seperti perbaikan jalan mengingat masih banyak yang bergelombang bahkan berlubang. Martin Wiliam Handoko Siswa SMA Kolese Loyola, Semarang *** Urun Rembuk SPA Semarang Pesona Asia (SPA) dan Beauty of Asia (BoA) telah dicanangkan Wali Kota Semarang. Saya sebagai anggota masyarakat yang peduli terhadap perkembangan kota tercinta ini ingin menyampaikan urun rembug, agar SPA tidak hanya sekadar slogan, antara lain : - Sosialisasi SPA yang dirasa masih kurang, mengingat sampai kini sebagian besar masyarakat belum tahu "mahluk" apa itu. Apalagi namanya BoA. Jadi sosialisasi perlu digalakkan dengan memancing umpan balik dari masyarakat untuk perbaikan. Misal Pemkot membuka media komunikasi, kolom, rubrik atau apa pun namanya di harian ini untuk menampung usul, saran, unek-unek, pendapat dari rakyat. - Kota lain lebih dulu membuka diri melalui program sister city dengan kota yang setara dari negara maju agar dapat belajar tentang manajemen dan pengelolaan kota. Tujuan utamanya agar kita dikenal di luar. Contoh, Bandung - Braunschweig Sister City sebagai kota dagang dan jasa yang kini sudah berkembang pesat. - Mengembangkan wisata bernuansa heritage dengan fokus Gereja Blenduk dan Lawangsewu yang tiada duanya di dunia. Dengan penataan menarik, saya yakin objek ini akan banyak menarik wisatawan seperti yang dilakukan DKI dengan Musium Fatahillah dan kota lama-nya. - Selain Pecinan dengan Pasar Semawis-nya, juga perlu dibuat tempat wisata kuliner di sepanjang JI Letjen Suprapto. Ruas jalan depan Gereja Blenduk ditutup dari sore hingga pagi khusus untuk tempat makan terbuka, tapi sebelumnya harus dibersihkan dan dipercantik. Hal ini juga mendukung konsep city walk di kota lama. Kota lain yang sudah ada, di Kesawan Medan, Cikapundung dan Braga Bandung. - Di luaran, Semarang masih dikenal sebagai "kota miskin budaya", karena bila ada event atau pertunjukan bertingkat nasional apalagi internasional, Semarang biasanya dilewati. Dari Jakarta, Bandung, Yogya atau Solo, terus ke Surabaya. Ini tantangan bagi warganya untuk menunjukkan bahwa Semarang adalah "kota kaya budaya". - City tour religi potensi yang luar biasa tapi kenapa tidak ada paket wisata religi yang digabung dengan obyek yang sudah ada. Misal paket wisata vihara Watu Gong, kelenteng Gedungbatu, masjid Agung Jawa Tengah lalu ke Masjid Agung Demak. Harapan agar SPA, yang tinggal beberapa bulan lagi, dapat berjalan lancar dan sukses. The show must go on, apa pun pendapat para ahli dan pakar terhadap program ini. Juga agar BoA dapat terwujud dalam waktu kurang dari 10 tahun. Harapan lain, kesiapan Pemkot dan seluruh warga mengatasi rob dan banjir yang menentukan sukses tidaknya SPA dan BoA. Dicky Tutuko A Plamongan Indah Blok D I/11-12, Demak *** SGA/SPG Don Bosco Karena membaca kolom Surat Pembaca, saya bisa ikut reuni eks SGA/SPG Don Bosco 2006. Tidak demikian halnya pada reuni tahun 1987 karena sata tidak tahu. Saya anggap reuni lalu sukses kareni diikuti 300-an peserta yang datang dari Kalimantan, Bali, Malang, Surabaya, Jakarta serta Semarang sendiri. Peserta tertua 3 orang adalah lulusan 1954, padahal ada beberapa Iulusan sebelumnya yang masih sehat tetapi berhalangan hadir. Saya mengharap panitia minta ke pengurus perwakilan kota/daerah untuk mengumumkan daftar alumni sehingga dapat saling mengenang. Drs H Supi'i DS Eks SGA/SPG Angkatan 1954 |