logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 April 2007 WACANA
Line

Pekalongan sebagai Kota Budaya

  • Oleh Abdillah Toha Ba'bud

(Pembangunan kebudayaan di kota Pekalongan merupakan prasyarat sejarah yang mesti ditempuh untuk memasuki tatanan dunia modern serta persaingan global. Maka, membangun Pekalongan masa depan ialah Membangun Pekalongan sebagai Kota Budaya)

PEMERINTAH maupun masyarakat Kota Pekalongan selama ini telah melakukan berbagai upaya untuk membangun citra kultural kota ini demi masa depan yang lebih cerah. Pembangunan citra kultural tersebut dilakukan baik dalam lingkup lokal, regional maupun internasional. Misalnya, dengan mengirimkan delegasi-delegasi kebudayaan dan kesenian ke berbagai kota, bahkan hingga ke mancanegara. Diplomasi kebudayaan itu dilakukan sebagai upaya mengukuhkan citra kultural Kota Batik ini.

Berkait dengan itu Lembaga Kajian Seni Budaya (Laksda) Kota Pekalongan yang didirikan sejak 1 Juni 1999 memandang upaya tersebut akan membuahkan hasil sebagaimana diharapkan sekiranya dibangun di atas landasan yang kokoh. Landasan yang kokoh itu ialah bangkitnya kreativitas kebudayaan dan kesenian masyarakat kota santri ini. Di atas landasan yang kokoh inilah maka segala upaya pembangunan citra kultural Kota Pekalongan akan menunjukkan hasil yang gemilang di masa depan.

Untuk itu Pemerintah Kota Pekalongan dalam hal ini lewat Dinas Pariwisata maupun masyarakat harus sungguh-sungguh membangun wadah-wadah kultural yang kiranya dapat mempercepat proses bangkitnya kreativitas kebudayaan dan kesenian di Kota Pekalongan.

Oleh karena itu, sudah saatnya Pemerintah Kota Pekalongan membangun suatu fasilitas budaya semacam Taman Budaya Pekalongan (TBP).

TBP (Taman Budaya Pekalongan) akan memiliki fungsi antara lain sebagai sarana pendataan serta penjaringan wadah-wadah kesenian dari berbagai bidang yang tersebar di Kota Pekalongan. Sebagai sarana kampanye dan promosi kegiatan berkesenian agar lebih di-gemari oleh masyarakat dengan harapan di masa mendatang jumlah peminatnya makin berkualitas dan bertambah secara signifikan.

Jaringan Kerja Budaya

Selain itu sebagai sarana informasi dan komunikasi antarpara seniman dan budayawan Kota Pekalongan, juga dapat menciptakan jaringan kerja budaya dengan pusat-pusat budaya di kota-kota lain. Mengingat kenyataan-kenyataan itu, maka sebagai langkah awal, Laksda Kota Pekalongan menggagas sebuah "miniatur" Taman Budaya tersebut dengan memilih format yang paling ramah dan populer, yakni, format warung. Warung ini akan dinamai Wapress (Warung Apresiasi Seni) Kota Pekalongan.

Wapress kelak akan menempati kompleks Gedung Societet, gedung bersejarah peninggalan zaman Belanda, di Pekalongan Utara. Di kompleks itulah kelak diharapkan berdiri TBP yang pada muaranya dapat menghantarkan Pekalongan sebagai Kota Budaya.

Gagasan "miniatur" Taman Budaya itu mendapat respon yang positif dari Pemkot Pekalongan maupun Pemprov Jateng. Bahkan lewat APBD I Jateng tahun 2007 ini dikucurkan dana ratusan juta rupiah untuk membantu mewujudkan gagasan tersebut menjadi kenyataan.

Sesuai dengan namanya, Wapress Kota Pekalongan nantinya berupa sebuah unit wirausaha warung yang bersifat profit dan dikelola secara profesional menjadi "miniatur" Taman Budaya. Harapannya agar warung ini dapat menghidupi diri sendiri serta memiliki dana yang memadai yang dapat digunakan untuk memfasilitasi kegiatan kesenian dan kebudayaan di Kota Pekalongan.

Wapress yang diketuai Saifullah merupakan upaya perwujudan gagasan "berpikir global, bertindak lokal". Ini merupakan suatu ikhtiar memadukan antara seni dan bisnis demi pertumbuhan kreativitas kesenian dan kebudayaan yang lebih baik bagi masyarakat Kota Pekalongan di masa depan.

Tentu saja, dalam mengelola warung ini, Laksda Kota Pekalongan akan senantiasa bermitra dengan Pemerintah Kota Pekalongan.

Lembaga yang baru berumur delapan tahun ini digawangi para seniman dan budayawan Kota Pekalongan dengan berbagai latar bidang kesenian, seperti musik, teater, seni rupa, sastra dan sinema. Di samping itu lembaga ini juga melibatkan para aktivis lembaga sosial masyarakat (LSM) yang peduli dengan pembangunan kebudayaan Pekalongan masa depan.

Hingga sekarang, Laksda terus bergiat di bidang kesenian di Kota Pekalongan. Berbagai event diselenggarakan seperti festival teater, festival musik, lomba karya cipta sastra, pentas puisi dan sebagainya. Di bidang kebudayaan juga melakukan kajian lewat berbagai forum diskusi dengan perencanaan topik yang sistematis.

Visinya tak lain terwujudnya Kota Pekalongan sebagai kota budaya yang bercorak relijius dan memiliki selling point yang tinggi, modern, mandiri, demokratis dan makmur.

Sedangkan Laksda bermisi berupaya menjadi katalisator yang dapat mempercepat proses kebangkitan kebudayaan dan kesenian Kota Pekalongan.

Membangun jaringan kerja budaya dengan luar daerah yang dapat mendorong kreativitas serta memperkaya khazanah intelektual masyarakat Kota Pekalongan.(11 )

--- Abdillah Toha Ba'bud, Ketua Laksda Pekalongan


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA